Jakarta -
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan akibat bentrok di Timur Tengah sangat terbatas terhadap bank di Indonesia. OJK memastikan perang Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak memicu bank rush namalain tindakan tarik duit massal dari bank.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan akibat langsung perbankan terhadap perang Timur Tengah sangat mini baik dari sisi klaim maupun liabilitas. Pengaruh langsungnya terhadap permodalan maupun likuiditas perbankan juga tidak signifikan.
Berdasarkan info OJK per Februari 2026, permodalan perbankan alias Capital Adequacy Rasio (CAR) terjaga tinggi tecermin sebesar 25,83%. Kemudian akibat angsuran perbankan alias non-perfoming loan (NPL) tetap di level 2,17% dengan tren coverage pencadangan CKPN nan relatif stabil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, kondisi likuiditas perbankan AL/DPK dan AL/NCD tetap di atas threshold (10% dan 50%) dengan LDR nan baik sebesar 84,72%, terjaga di range 78%-92%. Sementara tingkat Liquidity Coverage Ratio (LCR) perbankan tercatat sebesar 195,64%.
"Kami memandang potensi Bank rush sangat insignifikan alias apalagi tidak ada lantaran situasi politik, keamanan, dan ekonomi indonesia sangat kondusif. Bank Rush pada umumnya diakibatkan oleh rumor kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan," ujar Dian dalam keterangan tertulisnya dikutip Sabtu (25/4/2026).
Untuk menjaga kepercayaan publik, OJK meminta bank untuk menjaga keahlian dan manajemen akibat nan memadai. OJK sendiri telah melakukan pemantauan terhadap perkembangan akibat dan meminta perbankan untuk senantiasa melaksanakan pengelolaan akibat secara menyeluruh.
Selanjutnya, OJK juga secara rutin melakukan stress test. Sementara itu, perbankan juga secara rutin melakukan stress test secara berdikari baik menggunakan skenario dan dugaan sendiri maupun nan disiapkan oleh otoritas.
"Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini tetap memadai untuk menghadapi akibat nan disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia," pungkas Dian.
(ahi/hns)
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·