Kalimat sederhana seperti 'terserah' sering dianggap sepele dalam komunikasi suami istri. Padahal, di kembali kata tersebut, bisa tersimpan akibat emosional yang tidak mini bagi pasangan, terutama istri.
Psikolog Klinis, Kezia Raraseta Djawa, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa ketika suami mengatakan “terserah”, sebenarnya bisa saja mempunyai niat baik, ialah memberikan ruang bagi istri untuk memilih.
“Ketika suami bilang terserah, salah satunya adalah untuk memberikan ruang agar istri boleh memilih,” kata Kezia kepada kumparanMOM, Kamis (16/4).
Namun, dalam praktiknya, pesan tersebut tidak selalu diterima sesuai maksud awal. Alih-alih merasa diberi kebebasan, banyak istri justru menangkapnya sebagai corak kurangnya dukungan.
“Istri menangkapnya justru, ‘Wah, saya kok tidak didukung? Wah, saya kok dibiarkan sendiri?’ Pada akhirnya berakibat kepada emosi kosong, emosi sedih dari istri,” imbuhnya.
Memicu Perasaan Kosong dan Sedih
Perbedaan persepsi ini kemudian dapat berakibat pada kondisi emosional istri. Perasaan tidak didukung bisa berkembang menjadi rasa kosong, sedih, apalagi capek secara mental.
Hal ini berangkaian erat dengan nan disebut sebagai mental load, ialah beban pikiran nan tidak terlihat, namun terus melangkah dalam keseharian.
“Mental load sederhananya adalah beban pikiran nan gak kelihatan,” sambungnya.
Dalam kehidupan rumah tangga, istri seringkali tidak hanya menjalankan tugas secara langsung, tetapi juga menjadi “manajer” nan mengatur beragam hal. Mulai dari hal-hal mini seperti mengingat stok kebutuhan rumah, menyiapkan makanan (meal prep), hingga perihal nan lebih kompleks seperti mengatur agenda sekolah anak, imunisasi, berkoordinasi dengan guru, hingga memastikan semua personil family merasa nyaman.
Semua perencanaan, pengingat, dan pengambilan keputusan ini merupakan bagian dari mental load nan kerap tidak disadari.
“Terserah” Justru Menambah Beban
Ketika suami memilih untuk mengatakan “terserah”, keputusan pada akhirnya kembali sepenuhnya ke istri. Artinya, beban berpikir nan sudah ada tidak berkurang, justru bisa bertambah.
Istri kudu kembali mempertimbangkan beragam pilihan, memikirkan dampaknya, hingga memastikan keputusan tersebut tepat untuk semua personil keluarga.
“Bahkan bisa nambah lantaran istri kudu kembali memilih, menimbang, dan mikirin semuanya sendiri,” ujar Kezia.
Oleh lantaran itu, keterlibatan suami dalam proses berpikir dan pengambilan keputusan menjadi sangat penting. Tidak kudu selalu mengambil alih, tetapi cukup dengan ikut berbincang dan memberi dukungan.
Dengan begitu, beban mental load istri bisa lebih ringan dan hubungan dalam rumah tangga pun menjadi lebih seimbang.
“Makanya, dengan suami ikut mikir dan ambil keputusan bareng-bareng, mental load istri bisa jauh lebih ringan dan keselarasan rumah tangga bisa jadi lebih terjaga,” pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·