
Agus Taufiq (Dok Pribadi)
Ditulis oleh Agus Taufiq, politikus muda dan inisiator @KebijakanKita
DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), buruh didefinisikan singkat sebagai 'orang nan bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah'. Penjabaran arti nan tampak apa adanya ini nyatanya menyembunyikan realitas nan jauh lebih getir.
Jika kita menengok ke belakang, Hari Buruh alias May Day nan kita rayakan hari ini bukanlah bingkisan dari penguasa nan bermurah hati. Tragedi berdarah di Haymarket, Chicago, pada tahun 1886, membuktikan peringatan ini berdasarkan darah dan air mata kaum pekerja nan kala itu menuntut kewenangan dasar atas delapan jam kerja. Lebih dari seabad berlalu, muncul pertanyaan: Sejauh mana nasib perjuangan para pekerja hari ini betul-betul ditentukan? Apakah perjuangan itu perlahan luntur di tengah realita politik dan ekonomi nan semakin tidak karuan?
Pertanyaan ini menjadi penting. Sebab, ada kecenderungan kita hanya terus-menerus menawarkan solusi parsial terhadap persoalan sistemik nan menjerat pekerja dari hulu ke hilir.
Alienasi terhadap Buruh
Coba lihat apa nan terjadi di sekeliling kita. Setiap degub kehidupan kota ini senantiasa bergerak lantaran keringat para buruh. Ironisnya, mereka sering kali menjadi orang asing di tempat nan sebenarnya mereka bangun sendiri. Nasib mereka justru terlempar jauh ke pinggiran, terjebak dengan bayaran nan seringkali hanya cukup untuk menyambung hidup hingga besok pagi.
Di saat biaya hidup melambung tinggi, nilai kebutuhan pokok mencekik, dan bayang-bayang pemutusan hubungan kerja (PHK) siap menerkam kapan saja, pekerja dipaksa untuk terus "berterima kasih" atas pekerjaan nan tersisa. Harapan untuk mendapatkan kepastian agunan sosial dan bayaran nan layak seringkali menguap begitu saja. Namun, untuk memahami kenapa ini terus terjadi, kita tidak bisa hanya memandang ke dalam negeri.
Terperangkap dalam Rantai Pasok Global
Dalam lanskap ekonomi kontemporer, pekerja Indonesia tidak berdiri sendiri. Penderitaan mereka terhubung langsung dalam apa nan disebut sebagai dunia production networks, ialah rantai pasok dunia nan menghubungkan bahan baku, tenaga kerja, modal, hingga pasar dalam satu sistem lintas negara.
Ambil contoh sepasang sepatu nan diproduksi di Surabaya. Sepatu itu bisa saja dirancang di Eropa, menggunakan bahan dari Asia Timur, dan dijual di Amerika Serikat dengan nilai selangit. Dalam sistem seperti ini, posisi pekerja Indonesia sering kali berada di dasar piramida. Sekadar menjadi mesin produksi dengan label "tenaga kerja murah".
Logika ini selaras dengan world-systems theory dari Immanuel Wallerstein. Dunia terbagi ke dalam pusat, semi-periferi, dan periferi (pinggiran). Harus diakui, jika Indonesia tetap terjebak di posisi pinggiran. Kita sekadar menjadi pemasok keringat dan bahan mentah, bukan pengendali nilai tambah (desain, teknologi, alias merek) nan meraup untung terbesar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·