Merasa Tahu, Padahal Tidak: Ilusi Pengetahuan di Era Media Sosial

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Ilustrasi media sosial. Foto: Vasin Lee/Shutterstock

Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kita langsung percaya sebuah info di media sosial tanpa mengeceknya lebih dulu. Mungkin soal obat herbal nan katanya bisa menyembuhkan penyakit tertentu, alias klaim soal suatu kebijakan nan viral di Twitter. Kita baca sekilas, lampau merasa sudah tahu. Padahal, nan sebenarnya terjadi bisa jadi jauh berbeda dari apa nan kita sangka.

Fenomena ini dalam kajian ilmu jiwa kognitif dan makulat dikenal sebagai illusion of knowledge alias ilusi pengetahuan, ialah kondisi ketika seseorang merasa memahami sesuatu padahal pemahamannya tetap sangat dangkal. Dan di era media sosial seperti sekarang, ilusi ini tumbuh subur.

Kenapa Sering Melihat Tidak Sama dengan Memahami?

Reber dan Unkelbach (2010) dalam jurnal Review of Philosophy and Psychology menemukan bahwa semakin mudah otak kita memproses sebuah informasi, semakin besar kecenderungan kita untuk menganggap info itu benar. Efek ini disebut processing fluency. Artinya, info nan sering muncul, mudah dibaca, dan dikemas menarik bakal terasa lebih valid. Bukan lantaran isinya sudah kita verifikasi, tapi lantaran otak kita terbiasa dengannya.

Ini persis nan terjadi saat kita scroll media sosial. Dalam hitungan menit, kita terpapar puluhan konten dari beragam topik. Kita tidak punya cukup waktu alias mungkin tidak merasa perlu untuk betul-betul menggali setiap info nan lewat. Hasilnya, kita merasa tahu banyak hal, padahal nan kita miliki hanya sekumpulan kesan.

Apa nan Sebenarnya Dimaksud dengan "Tahu"?

Di sinilah epistemologi masuk. Epistemologi adalah bagian makulat nan mempertanyakan prinsip dan batas-batas pengetahuan manusia, gimana kita bisa tahu sesuatu dan seberapa percaya kita bahwa nan kita tahu itu benar.

Dalam perbincangan Theaetetus, Plato mengusulkan pertanyaan mendasar: kapan sebuah kepercayaan bisa disebut pengetahuan? Ia mengeksplorasi pendapat bahwa pengetahuan sejati bukan sekadar kepercayaan nan kebetulan benar, melainkan kudu disertai dengan justifikasi alias argumen nan sah.

Konsep ini dalam tradisi epistemologi kemudian dikenal sebagai justified true belief, ialah sebuah kerangka nan menegaskan bahwa seseorang baru bisa dikatakan betul-betul tahu sesuatu andaikan keyakinannya betul dan dia mempunyai dasar nan memadai untuk mempercayainya (Ichikawa & Steup, 2018).

Dua jalan utama untuk sampai pada pengetahuan itu adalah rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme menekankan peran logika dan penalaran logis, sementara empirisme menekankan pengalaman dan observasi nan dapat diuji. Keduanya punya satu kesamaan: pengetahuan memerlukan proses, bukan sekadar paparan berulang.

Masalahnya, media sosial tidak dirancang untuk mendukung proses itu. Platform digital justru didesain untuk membikin kita terus menggulir, bukan berakhir dan berpikir.

Algoritma nan Mengunci Kita dalam Gelembung Sendiri

Satu aspek nan memperparah ilusi pengetahuan adalah langkah kerja algoritma media sosial. Alih-alih menampilkan info nan beragam, platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) condong menampilkan konten nan sesuai dengan apa nan sudah sering kita konsumsi.

Sunstein (2017) dalam bukunya #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media menggambarkan gimana media sosial bisa menyortir penggunanya ke dalam kelompok-kelompok nan berpikiran serupa, menciptakan echo chamber nan terus memperkuat pandangan nan sudah ada. Kita makin sering terpapar info nan sejalan dengan kepercayaan kita, sementara perspektif nan berbeda makin jarang masuk.

Dalam kerangka epistemologis, ini adalah masalah serius. Pengetahuan nan tidak pernah diperhadapkan dengan bukti nan bertentangan adalah pengetahuan nan rapuh. Ia hanya bakal memperkuat selama tidak ada nan mempertanyakannya.

Skeptisisme Sebagai Keterampilan, Bukan Sikap Negatif

Lalu apa nan bisa kita lakukan? Chalmers (2013) dalamnce? What Is This Thing Called Science? mengingatkan bahwa pengetahuan pengetahuan nan baik dibangun di atas kebiasaan mempertanyakan asumsi-asumsi dasar, bukan hanya menerima apa nan sudah ada. Skeptisisme bukan berfaedah kita tidak percaya siapa-siapa, melainkan kita tidak langsung percaya tanpa argumen nan cukup.

Dalam praktiknya, ini bisa sesederhana menanyakan tiga perihal sebelum meneruskan sebuah informasi: Dari mana sumbernya? Apakah ada bukti nan mendukung? Dan apakah kita betul-betul mengerti apa nan kita baca, alias sekadar merasa familiar? Pertanyaan-pertanyaan mini ini adalah bentuk nyata dari penalaran epistemologis dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Di era banjir info ini, masalah terbesarnya bukan ketiadaan pengetahuan. Justru sebaliknya: terlalu banyak info nan membikin kita merasa sudah tahu segalanya. Padahal, merasa tahu dan betul-betul tahu adalah dua perihal nan sangat berbeda.

Epistemologi mengajarkan kita untuk tidak berakhir bertanya. Bukan lantaran kita tidak percaya apa-apa, tapi lantaran kita tahu bahwa pengetahuan nan baik memang layak diperjuangkan. Dan di tengah riuhnya notifikasi dan konten nan tak pernah habis, mungkin keahlian paling berbobot nan bisa kita latih adalah keahlian untuk berakhir sejenak, dan bertanya: apa nan sebenarnya saya tahu?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan