Jakarta -
Harga kedelai mengalami kenaikan pesat. Hal ini dikhawatirkan membikin nilai tempe menjadi naik. Padahal, tempe diharapkan menjadi makanan terjangkau bagi masyarakat.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta agar para importir menahan nilai kedelai sehingga nilai tempe bisa terjaga tidak ikut naik. Kedelai nan jadi bahan baku tempe sejauh ini memang sebagian tetap diimpor Indonesia.
Amran juga menekankan sejauh ini bahan pokok macam beras dipastikan berada di posisi nan aman, baik dari pasokan maupun harganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti kami kumpulkan teman-teman importir jangan terlalu meningkatkan nilai tinggi, tapi nan terpenting bahan pokok kita nan paling vital beras posisi sangat aman, sangat aman," sebut Amran di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (8/4/2026) kemarin.
Dia kembali menekankan agar importir tidak meningkatkan nilai terlalu tinggi. Dia menyebut stabilitas nilai pangan di tengah masyarakat mesti dijaga.
"Kedelai kelak kita minta kepada importir untuk tidak menaikan nilai terlalu tinggi, mari kita jaga stabilitas nilai pangan dan kita ada empati peduli saudara-saudara kita," sebut Amran.
Dikutip dari laporan detikJatim, kenaikan nilai kedelai nan cukup signifikan beberapa waktu ini mulai mencekik para pelaku upaya mikro kreator tempe di Kota Batu.
Harga kedelai impor nan biasa digunakan mengalami kenaikan nan cukup signifikan. Mulanya kedelai hanya Rp 9.000 menjadi Rp 10.500 per kilogram.
"Harga kedelai ini naik sudah ada satu bulan," ujar Siti Komariah, produsen tempe asal Desa Beji kepada detikJatim.
Dalam situasi ini, Siti tidak berani meningkatkan nilai jual tempe lantaran takut produknya tidak laku di pasaran. Sehingga agar tidak rugi, dia memilih untuk memperkecil ukuran tempe.
Simak juga Video 'Mentan Pastikan Stok Pangan Aman di Tengah Perang Timteng dan El Nino':
(acd/acd)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·