Menjadi Berarti Tanpa Harus Selalu Diperlukan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Ada masa ketika kita merasa sangat berarti. Telepon sering berdering, pesan datang silih berganti, nama kita disebut dalam banyak percakapan. Kita diminta hadir, diminta membantu, diminta memberi arah. Di saat itu, kita merasa dihargai. Kehadiran kita seolah-olah dibutuhkan, apalagi ditunggu. Lalu waktu berjalan. Urusan selesai. Perlahan pesan mulai sepi, panggilan tak lagi datang, dan kita kembali pada ruang nan sunyi. Di situlah sering muncul pertanyaan sederhana tetapi dalam: apakah saya hanya dihargai saat dibutuhkan?

​Pengalaman ini sangat manusiawi. Banyak orang pernah merasakannya—di tempat kerja, dalam organisasi, apalagi dalam lingkar pertemanan. Kita datang sepenuh hati, memberi waktu, tenaga, apalagi pikiran. Kita membantu tanpa banyak hitung-hitungan. Namun, ketika kebutuhan itu selesai, kita seolah-olah tak lagi menjadi bagian penting. Bukan lantaran orang lain berubah sepenuhnya, melainkan lantaran peran kita memang sudah tidak diperlukan. Dan sering kali, nan terasa bukan kehilangan peran, melainkan kehilangan rasa dihargai.

​Namun, di titik itu, kita belajar memahami hidup dengan langkah nan lebih lembut. Bahwa manusia memang sering datang lantaran kebutuhan, dan itu bukan sesuatu nan kudu selalu disesali. Justru dari situ kita belajar tentang keikhlasan. Kita mulai menyadari bahwa nilai diri tidak semestinya berjuntai pada seberapa sering kita dipanggil. Ada orang-orang nan tetap bekerja dalam diam, tetap membantu tanpa sorotan, tetap datang meski tak diminta. Mereka tidak kehilangan arti; justru di sanalah ketenangan tumbuh.

​Bayangkan seseorang nan dulu selalu dicari saat ada masalah. Ia menjadi tempat bertanya, tempat meminta saran, apalagi tempat bergantung. Lalu suatu hari, semuanya melangkah baik. Orang-orang nan dulu datang sekarang sibuk dengan jalannya masing-masing. Ia kembali pada rutinitasnya nan sederhana. Tidak lagi ramai, tidak lagi penuh panggilan. Namun, dari situ dia belajar bahwa memberi tidak kudu selalu disertai pengakuan. Bahwa kehadiran nan tulus tidak berkurang nilainya hanya lantaran tak lagi dibutuhkan.

​Dalam perspektif pandang nan lebih dalam, hidup mengajarkan kita untuk tetap tenang. Dihargai saat dibutuhkan itu wajar. Dilupakan setelahnya juga bagian dari perjalanan. nan krusial bukan seberapa sering kita dicari, melainkan seberapa tulus kita pernah hadir. Karena pada akhirnya, manusia nan kuat bukanlah nan selalu diperlukan, melainkan nan tetap berbobot meski melangkah dalam sunyi. Ia tidak berakhir memberi hanya lantaran tak ada nan meminta. Ia tidak berubah hanya lantaran tak lagi dipanggil. Ia tetap menjadi dirinya sendiri—tenang, ikhlas, dan cukup.

Dalam hening, dia bersimpuh di depan pintu nan tertutup. Sebuah potret tentang kesetiaan pada jalan sunyi; tetap datang dan terjaga, meski bumi tak lagi memanggil alias membukakan pintu untuknya. foto : Dok. pribadi

​Namun, dalam napas aliran sufi, manusia diajak memandang lebih dalam. Bahwa penghargaan manusia hanyalah bayang-bayang, sementara makna sejati terletak pada niat dan keikhlasan. Orang nan melangkah dengan kesadaran ini tidak terlalu sibuk menghitung siapa nan datang dan siapa nan pergi. Ia memahami bahwa menjadi berfaedah bukan lantaran dibutuhkan, tetapi lantaran tetap memberi, apalagi saat tak ada nan meminta. Ia tidak berjuntai pada panggilan, karena hatinya telah terpanggil lebih dulu oleh nilai-nilai kebaikan.

​Kadang kita memang datang sebagai jembatan bagi orang lain. Setelah mereka sampai, jembatan itu tak lagi dilihat. Tetapi jembatan tidak pernah kehilangan fungsinya hanya lantaran orang telah menyeberang. Ia tetap kokoh, tetap diam, tetap setia pada perannya. Begitulah manusia nan belajar dari jalan sunyi: dia tidak mengukur diri dari seberapa sering dibutuhkan, melainkan dari seberapa tulus dia hadir.

​Ada ketenangan nan lahir ketika kita berakhir menggantungkan nilai diri pada kebutuhan orang lain. Kita mulai memahami bahwa dihargai itu menyenangkan, tetapi tidak selalu menjadi tujuan. Kita tetap bekerja, tetap membantu, tetap memberi ruang, bukan agar dipuji, tetapi lantaran itu bagian dari perjalanan jiwa. Di sanalah kebebasan muncul—ketika kita tidak lagi terluka oleh lupa, tidak lagi besar oleh pujian, dan tidak lagi mini oleh pengabaian.

​Dalam pandangan ini, setiap pertemuan hanyalah titipan, setiap kebutuhan hanyalah persinggahan. Orang boleh datang lantaran kepentingan, dan itu wajar. Tetapi kita memilih untuk tetap datang lantaran keikhlasan. Sebab pada akhirnya, nan menetap bukanlah siapa nan memerlukan kita, melainkan siapa diri kita ketika tak lagi dibutuhkan. Di situlah manusia menemukan ketenangan: menjadi berfaedah tanpa kudu selalu diperlukan, memberi tanpa kudu selalu terlihat, dan melangkah tanpa takut ditinggalkan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan