Likuditas Dolar AS Ketat, Yuan Bisa Jadi Opsi Sumber Pendanaan Baru RI

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengungkapkan, likuiditas dolar Amerika Serikat (AS) sekarang tengah mengetat, membikin pendanaan nan berasal dari greenback mahal bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, dia menyebut terjadi kecenderungan penurunan suplai dolar global, seiring dengan pengetatan likuiditas, meningkatnya kebutuhan pembiayaan domestik Amerika Serikat, serta perubahan perilaku penanammodal global.

Di sisi lain, muncul dinamika baru dari internasionalisasi mata duit Tiongkok, khususnya yuan China alias CNH (offshore renminbi), nan mulai mengambil peran lebih besar dalam perdagangan dan pembiayaan lintas negara.

"Kita memandang dua arus besar nan bergerak berlawanan: suplai dolar dunia nan semakin terbatas, sementara CNH mulai diperluas penggunaannya dalam perdagangan dan pembiayaan. Ini menciptakan ketidakseimbangan baru, tapi sekaligus membuka kesempatan strategis," kata Fakhrul melalui keterangan tertulis, Senin (20/4/2026).

Fakhrul menilai kondisi ini bukan sekadar kejadian pasar, melainkan awal dari perubahan arsitektur finansial global. Namun, kesempatan tersebut tidak bakal otomatis menguntungkan semua negara jika tak bisa dimanfaatkan dengan baik.

"Ini bukan perubahan nan pasif. Ini perubahan nan menuntut eksekusi. Negara nan tidak siap bakal terjebak dalam biaya pendanaan nan semakin mahal dan volatilitas nan lebih tinggi," tegasnya.

Dalam konteks Indonesia, dia menilai pendekatan kebijakan ke depan kudu jauh lebih progresif dan presisi, khususnya dalam membangun arsitektur pendanaan pengganti di luar ketergantungan terhadap dolar AS.

Ia menganggap, Indonesia kudu melakukan penguatan kebijakan untuk merespons kejadian dunia ini, seperti penguatan skema local currency settlement (LCT) dalam perdagangan bilateral, eksplorasi penggunaan mata duit dengan biaya dana lebih rendah seperti CNH dalam pembiayaan, pendalaman pasar finansial domestik berbasis rupiah, terutama instrumen jangka panjang, serta diversifikasi pedoman penanammodal dan sumber likuiditas.

"Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi price taker dalam sistem finansial global. Kita kudu mulai menjadi arsitek, alias setidaknya co-architect, dari sumber pendanaan kita sendiri," ujar Fakhrul.

Ia juga mengingatkan fragmentasi dunia nan saat ini terjadi bukanlah gangguan sementara, melainkan fase transisi menuju sistem nan lebih multipolar. Dalam sistem seperti ini, akses terhadap likuiditas dan pembiayaan bakal semakin ditentukan oleh jaringan bilateral, regional, dan elastisitas kebijakan masing-masing negara.

"Kalau kita tetap membaca bumi dengan kacamata lama, bahwa likuiditas dunia bakal selalu tersedia dan murah, seperti belasan tahun terakhir, kita bakal tertinggal. Dunia ke depan adalah bumi di mana likuiditas kudu diperjuangkan, bukan diasumsikan," katanya.

Lebih lanjut, Fakhrul menekankan urgensi bagi pemerintah dan otoritas untuk menyampaikan arah kebijakan secara lebih definitif dan strategis, terutama dalam menjawab perubahan struktur dunia ini.

"Pasar hari ini tidak hanya menilai stabilitas, tetapi juga arah. Tanpa komunikasi nan jelas tentang gimana Indonesia bakal beradaptasi dengan fragmentasi dunia dan perubahan likuiditas ini, kita berisiko kehilangan momentum," tambahnya.

Menurut Fakhrul, kesempatan dari perubahan ini sangat besar, namun juga disertai akibat nan tidak mini andaikan tidak direspons dengan tepat. Ia menganggap, sekarang momen nan sangat menentukan bagi RI dalam memperkuat pendanaan baru.

"Ketidakseimbangan antara menurunnya suplai dolar dunia dan meningkatnya peran CNH adalah kesempatan strategis, tapi hanya bagi mereka nan siap. Kalau kita tidak bergerak dengan sigap dan presisi, nan dipertaruhkan bukan hanya pertumbuhan, tapi masa depan struktur perekonomian kita sendiri. Kalau kita hendak menumbuhkan ekonomi sampai 8%, kita kudu selesaikan masalah pendanaannya nan biasa menjadi masalah bertahun-tahun, dan dalam perihal ini, membuka pembiayaan CNH adalah solusi" tuturnya.

Berdasarkan catatan tim riset CNBC Indonesia, pangsa yuan China dalam persediaan devisa dunia naik tipis menjadi 1,95% pada kuartal IV-2025, dari 1,92% pada kuartal III-2025. Kenaikannya memang tetap mini dan porsinya jauh di bawah dolar maupun euro, tetapi arah pergerakannya tetap krusial lantaran menunjukkan yuan mulai perlahan menambah ruang dalam komposisi persediaan devisa bank sentral dunia.

Sementara itu, pangsa persediaan devisa bumi nan berdenominasi dolar AS turun menjadi 56,77% pada kuartal IV-2025, lebih rendah dibanding 56,93% pada kuartal III-2025.

Jika ditarik sepanjang 2025, arahnya juga sama. Pada kuartal I-2025, porsi dolar tetap berada di kisaran 57,79%, lampau turun ke 56,32% pada kuartal II-2025, sebelum bergerak di sekitar 56,9% pada paruh kedua tahun lampau dan menutup tahun di 56,77%. Dengan level ini, porsi dolar berada di titik terendah sejak pertengahan 1990-an. Ini berfaedah kekuasaan dolar memang tetap besar, tetapi terus terkikis secara bertahap.

Meski begitu, posisi dolar AS belum bakal mudah tergeser dalam waktu dekat. Salah satu alasannya, negara-negara Teluk tetap sangat mengenai dengan dolar, baik melalui sistem nilai tukar maupun besarnya simpanan aset mereka dalam mata duit AS tersebut. Kondisi ini membikin pergeseran menjauh dari dolar tidak bisa dilakukan secara cepat. Jika dipaksakan, langkah itu justru berisiko menekan stabilitas kurs negara-negara di area Teluk sendiri.

Di sisi lain, dolar juga tetap berkesempatan mempertahankan dominasinya dalam perdagangan minyak jika Amerika Serikat tetap bisa menjaga posisi kuat dalam pasokan daya global. Selama pengaruh AS dan negara-negara Barat dalam rantai pasok daya bumi tetap besar, dolar tetap punya ruang untuk tetap menjadi mata duit utama dalam perdagangan minyak.

Itu sebabnya, meski tekanan terhadap petrodollar mulai terlihat, dolar belum betul-betul tertandingi. Sistem lama memang mulai retak, tetapi belum runtuh.

(arj)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News