Seorang laki-laki lansia, Tri Wibowo (57), nan menjadi korban penyiraman air keras di Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, meninggal dunia. Ia mengembuskan napas terakhir setelah sempat menjalani perawatan intensif, Minggu (26/4).
Kabar duka ini disampaikan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea. Korban diketahui memang merupakan personil KSPSI Bekasi.
“Tri Wibowo Staf PC KEP (Kimia, Energi, dan Pertambangan) KSPSI Kabupaten Bekasi nan menjadi korban penyiraman air keras di Bekasi wafat pagi ini akibat pendarahan pasca-operasi pencangkokan kulit,” ujar Andi Gani dalam keterangannya, Minggu (26/4).
Ia juga menyampaikan duka mendalam atas kepergian korban nan disebut sebagai bagian dari family besar KSPSI. Keluarga korban, kata dia, berambisi agar kasus ini dapat diusut tuntas, termasuk mengungkap motif di kembali penyerangan tersebut.
Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Metro Bekasi, Kombes Sumarni, membenarkan berita meninggalnya korban.
“ Ya betul,” ujarnya saat dihubungi.
Kasus Air Keras Bekasi
Peristiwa penyiraman air keras itu sendiri terjadi pada Senin (30/3) di Perumahan Bumisani Permai, Desa Setiamekar. Korban, Tri Wibowo, diserang saat hendak berangkat ke musala untuk melaksanakan salat Subuh.
Berdasarkan rekaman CCTV dan keterangan warga, pelaku berjumlah dua orang nan berboncengan menggunakan sepeda motor dan mengenakan helm tertutup. Keduanya diduga telah membuntuti korban sebelum menyiramkan air keras dan melarikan diri.
Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan menangkap tiga orang tersangka, ialah PBU (30), MSN (29), dan SR (24). Dalam kasus ini, PBU disebut sebagai otak pelaku, sementara MSN dan SR berkedudukan sebagai eksekutor.
“PBU adalah pihak nan mempunyai buahpikiran awal, menyiapkan perangkat dan sarana, serta merencanakan tindakan penyiraman air keras terhadap korban,” kata Sumarni, Jumat (3/4).
Polisi mengungkap, PBU dan korban merupakan tetangga nan tinggal di lingkungan perumahan nan sama. Aksi tersebut diduga dipicu dendam lama. Sumarni menyebut, PBU merasa kerap direndahkan oleh korban selama bertahun-tahun hingga memicu sakit hati.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·