Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Iran tengah menghadapi perpecahan internal mengenai arah kebijakan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Teheran tanpa pemisah waktu. Di satu sisi, golongan garis keras mendorong kelanjutan perang, sementara kubu moderat menyerukan perbincangan dan deeskalasi.
Media pemerintah Iran dan elite militer menegaskan kesiapan melanjutkan bentrok dengan AS dan Israel. Demonstrasi kekuatan pun digelar di Teheran, bertepatan dengan berakhirnya gencatan senjata dua pekan nan sekarang diperpanjang.
Di Lapangan Enghelab, rudal balistik Khorramshahr-4 dipamerkan di hadapan massa. Sementara di Lapangan Vanak, laki-laki bertopeng membawa senapan berdiri di atas peluncur rudal Ghadr, diiringi teriakan anti-AS.
"Apa lagi nan kudu dilakukan AS agar itu dianggap pelanggaran gencatan senjata?" ujar penyanyi religi Hossein Taheri dalam sebuah aksi, seraya menegaskan bahwa pendukung pemerintah bakal terus turun ke jalan hingga dapat "membalas dendam".
Televisi pemerintah turut memperkuat narasi keras. Seorang pembawa aktivitas apalagi mengklaim, tanpa menyebut sumber, bahwa 87% penduduk Iran lebih memilih kembali bertempur dibanding memberikan konsesi dalam negosiasi.
Di sisi lain, tekanan militer terus meningkat. Markas militer Khatam al-Anbiya menyatakan pasukan siap "menembak kapan saja" untuk merespons agresi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz.
"Jika wilayah mereka digunakan untuk menyerang Iran, mereka kudu mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di Timur Tengah," kata Komandan kedirgantaraan IRGC, Majid Mousavi, memperingatkan negara-negara tetangga, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (23/4/2026).
Ketegangan juga merambah ke ranah digital. Kantor buletin Tasnim menyebut kabel internet bawah laut bisa menjadi sasaran berikutnya, nan berpotensi memicu "bencana digital" di kawasan.
Sementara itu, dari New York, Duta Besar Iran untuk PBB Saeed Iravani menegaskan negosiasi hanya bisa dilanjutkan jika AS mencabut blokade terhadap Iran.
Trump sendiri menyebut perpanjangan gencatan senjata dilakukan lantaran pemerintah Iran dinilai terpecah dan belum bisa menyusun proposal terpadu. Ia juga menyatakan Iran tengah mengalami "keruntuhan finansial".
Di tengah tekanan tersebut, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Iran tidak bakal menyerah. Namun dia mengakui ketimpangan kekuatan militer.
"Kita tidak lebih kuat dari AS secara militer. Mereka punya lebih banyak sumber daya. Tapi kita adalah pemenang di medan ini," ujarnya.
Ghalibaf menambahkan bahwa tujuan utama Iran adalah memperjuangkan kewenangan rakyat, bukan sekadar kemenangan absolut, serta menyebut negosiasi sebagai "metode pertempuran".
Perbedaan sikap juga muncul dari Presiden Masoud Pezeshkian. Meski mendukung militer, dia menilai bentrok berkepanjangan tidak menguntungkan. "Solusi bukan pada eskalasi, tetapi logika sehat, dialog, dan menghindari kehancuran lebih lanjut," katanya.
Selama 40 hari konflik, ribuan amunisi dilaporkan menghantam beragam prasarana Iran, mulai dari akomodasi daya hingga transportasi. Banyak rumah sakit, sekolah, dan permukiman mengalami kerusakan.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·