Krisis Bahan Baku, Perusahaan Jepang yang Bergantung pada Nafta Pangkas Produksi

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Ilustrasi cat tembok. Foto: Shutter Stock

Perusahaan-perusahaan Jepang nan berjuntai pada nafta alias produk berbasis nafta menghentikan pesanan alias memangkas produksi, menyoroti kesenjangan antara agunan resmi tentang pasokan nan cukup dan realita di lapangan.

Dikutip dari Reuters, Rabu (15/4), lebih dari belasan perusahaan termasuk Toto dan Asahi Kasei selama seminggu terakhir telah melaporkan gangguan pengiriman alias peningkatan harga. Kekhawatiran atas pengadaan bahan-bahan baku seperti perekat nan terbuat dari nafta -- turunan minyak nan terutama digunakan sebagai pelarut alias pengencer jadi alasannya.

Produsen produk nan menggunakan pengencer seperti Kansai Paint, nan menurut norma hanya dapat menyimpan stok bahan rawan itu dalam jumlah terbatas, telah menyesuaikan pengaturan pengiriman dan meningkatkan harga, sehingga mengaburkan prospek hilirisasi untuk peralatan dan jasa nan beragam seperti mainan plastik dan bangunan perumahan.

Berdasarkan survei nan dilakukan Japan Painting Contractors Association pada pekan lalu, hanya 2,7 persen perusahaann nan bisa memperoleh pengencer seperti biasa.

Situasi ini menimbulkan masalah bagi pemerintah, nan telah berupaya mencegah ganggaun dengan mengulangi pesan bahwa Jepang mempunyai pasokan nafta nan cukup untuk 4 bulan ke depan.

Pemerintah mengatakan sedang berupaya mengamankan pasokan dari luar Timur Tengah -- Jepang memperoleh 40 persen pasokan naftanya dari sana sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Pemerintah juga telah membentuk jasa konsultasi untuk membantu upaya dalam pengadaan sebelum mereka memilih melakukan perubahan operasi.

Meski begitu, Toto pada pekan ini menangguhkan penerimaan pesanan untuk unit bilik mandi modular nan memerlukan perekat nan berjuntai pada pelarut nan mengandung nafta. Perusahaan pesaingnya seperti Lixil, Panasonic, dan Cleanup juga telah mengisyaratkan akibat pengiriman.

Jepang Khawatir Masyarakat Panik

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pidato saat jamuan makan malam nan diselenggarakan oleh Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat, Kamis (19/3/2026). Foto: Kevin Lamarque/REUTERS

Negara-negara seperti Korea Selatan, Thailand, dan Bangladesh telah merespons gangguan pasokan produk minyak Timur Tengah dengan menyerukan kepada masyarakat untuk mengambil langkah-langkah penghematan, seperti mengurangi berkendara alias apalagi mandi lebih singkat.

Saat ditanya kenapa Jepang tidak mengangkat pendekatan serupa, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan tidak mau memperlambat aktivitas ekonomi. Dia telah menugaskan Menteri Industri Ryosei Akazawa untuk memastikan pasokan produk mengenai minyak nan stabil.

Pada Selasa (14/4), Akazawa mengatakan halangan tersebut berada di tengah rantai pasokan. Para pedagang grosir, misalnya, mengurangi separuh pasokan kepada pengguna pada April setelah diberi tahu bahwa pengiriman bakal tidak pasti pada Mei.

"Bagi Perdana Menteri Takaichi, ekonomi adalah nan utama. Dia tidak mengatakan apa pun nan bakal menyulitkan warga," kata pejabat pemerintah nan terlibat dalam kebijakan ekonomi kepada Reuters.

"Ini adalah kebijakan pemerintah," lanjutnya.

Sumber pemerintah lainnya mengatakan pemerintah dan Kementerian Industri takut bakal kepanikan konsumen nan mengingatkan pada penimbunan tisu toilet dan barang-barang lainnya selama krisis minyak pada 1970-an.

"Kita semestinya betul-betul menyerukan kepada masyarakat untuk menghemat daya sekarang, tapi instansi perdana menteri telah menghentikannya," kata sumber nan lain.

"Kami telah menyatakan bahwa kami mempunyai pasokan nan cukup, sehingga jika kami meminta langkah-langkah konservasi, kami mungkin bakal mendapat kritik dan itulah kekhawatiran kami," kata sumber itu.

Saham perusahaan nan berjuntai pada nafta termasuk Toto, Kansai Paint, dan Mitsubishi Chemical mencatat keahlian nan lebih rendah daripada indeks nilai saham referensi Tokyo Nikkei, nan sekarang telah memulihkan sebagian besar kerugian sejak dimulainya perang di Timur Tengah nan memicu sentimen penghindaran akibat secara umum.

"Bahkan jika produsen dapat meningkatkan produksi tanpa mempertimbangkan biaya, merema berisiko terjebak dengan persediaan berbobot tinggi jika nilai akhirnya turun," kata analis pasar di Matsui Securities, Tomoichiro Kubota.

"Pemerintahan Takaichi memprioritaskan sentimen ekonomi. Meski telah mengumumkan support untuk item nan spesifik, pendekatan seperti itu seperti permainan pukul tikus," ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan