Penampilan The Strokes di Coachella 2026 menjadi bukti bahwa musik tetap mempunyai kekuatan sebagai medium kritik sosial dan politik. Band rock asal New York itu menutup penampilan mereka di Coachella pekan kedua dengan langkah nan mengejutkan.
Di tengah lagu 'Oblivius' nan apalagi jarang mereka bawakan dalam satu dasawarsa terakhir, layar raksasa di panggung utama menampilkan montage visual berisi perang, kehancuran, dan narasi politik.
Visual tersebut menyoroti beragam bentrok global, termasuk rekaman pemboman di Iran dan Gaza, nan menjadi klimaks dari rangkaian gambar dan teks bernuansa kritik terhadap intervensi politik Amerika Serikat di beragam negara. Frontman Julian Casablancas apalagi berulang kali melantunkan lirik 'What side you standing on?', mempertegas pesan politis nan mau disampaikan kepada penonton.
Montage tersebut tidak hanya menampilkan bentrok terkini, tetapi juga membawa penonton pada kilas kembali sejarah. Beberapa visual mengaitkan peran CIA dalam beragam pergantian rezim di Amerika Selatan hingga Timur Tengah, termasuk tokoh-tokoh seperti Mohammed Mossadegh di Iran dan Salvador Allende di Chile.
Penampilan ditutup dengan visual pesawat pengebom dan ledakan, menciptakan akhir nan gelap dan penuh pesan. Aksi ini langsung menjadi salah satu momen paling banyak dibicarakan di Coachella tahun ini. Menariknya, video itu hanya ditampilkan di pekan kedua, menjadikannya kejutan nan disengaja dan memperkuat dampaknya.
Sejak awal kariernya, The Strokes dikenal sebagai pelopor garage rock revival awal 2000-an. Namun di Coachella 2026, mereka menunjukkan sisi lain: musisi nan secara terbuka memanfaatkan panggung dunia untuk menyuarakan sikap politik.
Aksi ini menegaskan bahwa di era modern konser bukan hanya soal intermezo tetapi juga ruang pernyataan, apalagi konfrontasi.
Antara Musik dan Aktivisme
Dalam satu dasawarsa terakhir, cukup banyak musisi dunia nan menggunakan panggung, baik konser tunggal maupun pagelaran besar untuk menyuarakan solidaritas terhadap Palestina alias mengkritik kebijakan perang nan melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Trio hip-hop asal Irlandia, Kneecap, juga cukup kontroversial di panggung pagelaran seperti Coachella. Mereka secara definitif menampilkan pesan pro-Palestina, apalagi sempat memicu rumor sensor dalam siaran live nan menunjukkan adanya batas industri terhadap narasi politik tertentu. Mereka
Kneecap apalagi sempat menghadapi dakwaan UU Terorisme sejak Mei 2025 lampau lantaran diduga memajang bendera milisi Lebanon nan didukung Iran, Hizbullah. Padahal, kejadian itu terjadi saat 2024.
Personel Kneecap, Liam O'Hanna alias Mo Chara akhirnya dibebaskan dari dakwaan dalam sidang di Pengadilan Mahkota Woolwich, London, Inggris, Jumat (26/9/2025).
Selain itu ada rapper Macklemore nan secara langsung menyuarakan support untuk Palestina, apalagi merilis lagu dan pidato panggung nan mengkritik perang dan kebijakan Amerika Serikat. Ada juga Dua Lipa nan menggunakan platform globalnya membikin surat terbuka nan menyerukan keadilan bagi penduduk Palestina. Termasuk musisi Inggris Bob Vylan nan menghadapi beragam kecaman serta hukuman Barat setelah menyerukan 'Mati, matilah IDF' di Festival Glastonbury tahun lalu.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·