Seorang remaja berinisial MR (16) menjadi korban penyiraman air keras di area Johar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (26/3).
Ibunda korban, Riani (45), mengungkap kondisi terkini anaknya nan tetap menjalani pemulihan intensif usai kejadian tersebut.
“Kalau matanya sekarang jadi katarak, lihat itu buram, silau-silau. Mudah-mudahan bisa pulih, tapi master belum bisa memastikan,” kata Riani saat ditemui kumparan, Selasa (21/4).
Selain gangguan penglihatan, MR juga mengalami luka serius di bagian wajah, leher, dan tubuh.
MR telah menjalani tiga kali operasi pengangkatan jaringan kulit meninggal dan satu kali operasi cangkok kulit nan diambil dari paha.
“Sekarang pahanya nan sakit, nggak bisa mobilitas lantaran diambil (kulit pahanya) buat cangkok di leher sama kuping. Lukanya parah, tiap mandiin saya nangis,” ujar dia.
Riani menyebut, selama 19 hari dirawat di RSUD Tarakan, MR menjalani serangkaian tindakan medis.
Hingga kini, korban tetap kesulitan berbincang dan makan akibat luka nan belum sepenuhnya pulih.
Awal Mula Kejadian
Riani menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Kamis (26/3) malam, sekitar pukul 20.30 WIB, usai MR berpamitan untuk bermain dengan teman-temannya setelah berbuka puasa.
“Seperti biasa dia pamit main. Tiba-tiba kakaknya datang bilang ada kerumunan, pas dilihat itu adiknya. Langsung dibawa ke RSUD Cempaka Putih,” katanya.
Dari rekaman CCTV nan diperoleh family melalui kepolisian, diketahui MR diserang saat sedang melangkah kaki. Ia dikejar oleh dua sepeda motor nan membawa lima orang.
“Anak saya lagi jalan di pinggir, tiba-tiba dari belakang dikejar. nan nyiram itu dua orang di motor, disiram pakai gayung berisi air keras,” ujarnya.
Menurut Riani, pelaku menuangkan cairan tersebut dari botol ke dalam gayung sebelum menyiramkannya ke arah korban. Akibatnya, cairan mengenai bagian wajah dan leher MR.
“Dia nengok ke kiri, jadi mata kiri kena, leher kanan nan paling parah,” ucap dia.
Setelah kejadian, pelaku disebut melarikan diri. Sementara itu, korban sempat tidak bisa memandang dan mengalami rasa perih hebat.
Hubungan Korban dan Pelaku
Riani menegaskan, anaknya tidak mempunyai hubungan apa pun dengan para pelaku. Ia menyebut MR menjadi korban salah sasaran.
“Enggak kenal sama sekali, random. Anak saya lagi jalan, jadi korban salah sasaran,” katanya.
Ia juga membantah adanya keterlibatan MR dalam tindakan tawuran, seperti nan sempat beredar.
“Enggak ada tawuran. Ini murni anak saya lagi jalan. Kalau tawuran, BPJS enggak bakal berlaku. Ini master juga sudah lihat videonya,” tegas Riani.
Menurutnya, pelaku juga mengaku tidak saling mengenal satu sama lain, sehingga motif penyerangan tetap belum jelas.
“Pelaku juga bilang enggak saling kenal. Jadi saya bingung motifnya apa,” ujarnya.
Diketahui, dua pelaku nan telah diamankan berinisial AFZ (15) dan RS (16). AFZ disebut sudah tidak bersekolah, sementara RS tetap duduk di bangku kelas IX SMP di area Rawasari.
Pelaku Tak Ditahan Namun Wajib Lapor
Sebelumnya, Kasat PPA-PPO Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Rita Oktavia Shinta, mengatakan pihaknya menerima permohonan penangguhan penahanan dari orang tua kedua pelaku.
“Kedua anak ditangguhkan penahanannya dikarenakan adanya permohonan dari orang tua dan menjamin tidak bakal mempersulit proses penyidikan,” ujar Rita dalam keterangannya, Senin (20/4).
Ia menjelaskan, status pelaku nan tetap di bawah umur menjadi pertimbangan penyidik. Selama proses norma berjalan, keduanya dikenakan wajib lapor setiap hari.
Meski demikian, Rita memastikan kasus tetap berlanjut. Penyidik telah mengirimkan kembali berkas perkara ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada 15 April setelah melengkapi petunjuk (P19).
“Saat ini kami terus berkoordinasi dengan JPU agar berkas segera dinyatakan komplit (P21) dan masuk ke tahap II,” ujarnya.
Riani berambisi proses norma melangkah tegas dan memberikan pengaruh jera.
“Saya hanya minta keadilan. Anak saya korban, nggak bersalah. Tolong norma mereka sesuai aturan,” tutupnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·