Langkah kaki para siswa SMP bergerak perlahan di atas pipa sempit. Di kiri-kanannya, tak ada pegangan. Di bawahnya sedalam 10 meter, lembah sungai menganga.
Namun bagi para siswa SMP di Kelurahan Dusun Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, jalur rawan itu adalah pilihan nan paling sigap untuk bisa sampai ke sekolah mereka.
Salah satu siswa kelas 7 dari SMP Negeri 34 Medan, Alzaki, mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa melewati sungai melalui saluran pipa tersebut sejak pertama kali masuk sekolah.
Ia mengaku lebih sigap pulang dengan menyeberangi sungai melalui saluran pipa lantaran sekolahnya terletak di seberang sungai.
Alzaki awalnya diantar oleh orang tuanya ke sekolah, namun dia pulang dengan menyeberangi sungai melalui saluran pipa untuk menghemat ongkos pikulan kota (angkot). Orang tuanya pun tidak mengetahui perihal tersebut.
"Pas pertama sekolah, pulangnya lewat sini. Lebih dekat pulang, biar irit duit," kata Alzaki saat ditemui di lokasi, Kamis (16/4).
"Iya (kalau orang tua tahu pasti dilarang). Pulangnya saja lewat sini, jika enggak ada duit lewat sini," sambung Alzaki.
Sementara itu, Kepala Lingkungan 21, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Lestari, mengatakan bahwa jembatan di samping saluran pipa tersebut telah lama roboh lantaran keropos dan tertimpa pohon.
"Pernah jembatan ini miring, lampau ada nan memperbaiki. Jalannya sudah bagus, tapi tidak lama kemudian miring lagi dan akhirnya roboh. Sejak 2024, sekitar bulan Oktober, sudah tidak bisa dilewati lagi," ucap Lestari.
Lestari menuturkan, anak-anak SMP tersebut sudah diimbau agar tidak melewati saluran pipa dan apalagi telah dipasang garis polisi. Namun, mereka tetap nekat menyeberangi sungai melalui saluran pipa tersebut.
"Mungkin orang tuanya sendiri tidak tahu mereka melintas dari sini. Beberapa siswa nekat lantaran tidak ada ongkos alias ongkos nan diberikan tidak digunakan sebagaimana mestinya," ujar Lestari.
"Malah nan nekat anak-anak SMP, anak SMA tidak ada nan berani. Kalau anak SD kurang tahu, tapi katanya ada juga penduduk nan melarang. Kalau memutar jalur, jaraknya jauh dan sering macet, makanya mereka mencari jalan pintas. Sudah diimbau pemerintah, camat, lurah, dan juga sudah dipasang garis polisi serta palang agar tidak dilewati," lanjutnya.
Lestari mengatakan, pada 2024 sempat ada seorang siswa nan jatuh saat kondisi jembatan tetap miring. Namun, hingga sekarang belum ada korban jiwa dari anak-anak nan menyeberangi sungai melalui saluran pipa tersebut.
"Pernah jembatan ini miring, lampau roboh. Waktu itu ada anak SMP nan terpeleset. Sekarang dia sudah lulus. Alhamdulillah belum ada korban jiwa," imbuh Lestari.
Lestari berambisi pemerintah segera membangun kembali jembatan tersebut agar tidak membahayakan anak-anak sekolah.
"Harapannya jembatan ini bisa diperbaiki kembali lantaran menjadi akses utama penduduk Polonia dan Kampung Baru," pungkasnya.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·