Kisah Azizah Bocah Pencari Rongsok di Yogya Rawat Ayah Sakit, Ingin Jadi Polwan

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Azizah Candrasari (6,5) bocah wanita pencari rongsok rawat ayahnya nan sakit dan mengasuh adiknya di Yogyakarta, Jumat (17/4/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Gadis mini berjulukan Azizah Candrasari mempunyai tanggung jawab besar di usianya nan tetap 6,5 tahun. Ia menggantikan peran ibunya mengurus rumah, ayahnya nan sedang sakit, serta adiknya Agip nan berumur 5 tahun. Ibunya telah lama pergi dan tak diketahui keberadaannya.

Ayah Azizah, Hermanto (56 tahun), sehari-hari bekerja sebagai pencari peralatan rongsokan. Mereka mengandalkan pekerjaan itu untuk memperkuat hidup. Selama ini Azizah ikut membantu ayahnya.

Namun belakangan, Hermanto terpuruk lantaran jatuh sakit—muncul benjolan di kepala nan sewaktu-waktu terasa sangat nyeri.

"(Yang dicari) botol-botol, sama kardus, sama kaleng," kata Azizah saat ditemui di kosannya di Mrican, Kelurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Jumat (17/4).

Azizah Candrasari (6,5) bocah wanita pencari rongsok rawat ayahnya nan sakit dan mengasuh adiknya di Yogyakarta, Jumat (17/4/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kini Azizah kudu memikul beban nan kian berat. Ia mengurus rumah seperti mencuci baju, mencuci piring, hingga pergi ke warung untuk membeli makanan. Terkadang, dia juga memijat tubuh sang ayah jika sakitnya semakin tak tertahankan.

Di kembali kondisi nan dijalaninya, Azizah terus memupuk cita-citanya menjadi polisi wanita. Ia berambisi suatu saat impiannya itu terwujud dan bisa membanggakan ayahnya.

"Cita-cita jadi Polwan," kata Azizah.

Tinggal di Kos Pinggir Sungai

Ayahnya Azizah Candrasari nan sakit di Yogyakarta, Jumat (17/4/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Hermanto mengatakan, dia tinggal berbareng dua anaknya di kos nan disewa Rp 400 ribu per bulan. Kos sederhana berukuran 3 x 2,5 meter itu berada tepat di samping Sungai Gajah Wong.

Setiap minggunya, Hermanto kudu menyisihkan Rp 100 ribu untuk bayar kos. Untuk makan pun mereka hidup seadanya.

"Jadi beli nasi Rp 5 ribu lantaran dua balut Rp 10 ribu. Dibagi bertiga, makan. Ini pagi siang Rp 10 ribu, sore Rp 10 ribu. Jadi Rp 20 ribu," katanya.

Dahulu, sebelum menggunakan sepeda, Hermanto membujuk kedua anaknya mencari rongsok dengan gerobak.

"Terpaksa ikut. Mau titip sama orang juga tidak mau. Jadi terpaksa ikut, pakai gerobak dulu," katanya.

Ia mengatakan, benjolan di kepala itu muncul sejak dua tahun silam dan lama-kelamaan semakin membesar.

"Sudah dua minggu (sakitnya makin parah). Dia (Azizah) nyuci baju, ya bersihin aja, nyuci piring, mijetin, sering ke warung. Ini kan sakit ini (kepala)," katanya.

Azizah Candrasari (6,5) bocah wanita pencari rongsok rawat ayahnya nan sakit dan mengasuh adiknya di Yogyakarta, Jumat (17/4/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dahulu, sakit ini pernah diperiksakan ke dokter, namun belum diketahui pasti penyakitnya. Benjolan tersebut tak kunjung hilang.

"Bukan (tumor). Nggak tahu (sakit apa), tahu-tahu muncul seperti itu," kata laki-laki kelahiran Sumatera tersebut.

Selama ini, Azizah duduk di bangku TK. Namun lantaran kudu merawat ayahnya nan sakit dan tidak ada nan mengantar, dia terpaksa berakhir sekolah sementara.

"Senin rencana mau sekolah lagi. Nah ini (Agip) juga mau dimasukkan (sekolah), tapi belum mau," katanya.

Sementara kondisi Azizah sendiri saat ini, menurut sang ayah, juga kurang sehat.

"Dia kan ada indikasi tifus, itu rambutnya rontok-rontok," tuturnya.

Ingin Anak Bisa Terus Sekolah

Hermanto berambisi ada support dari pemerintah bagi kedua anaknya. Ia mau anaknya bisa menggapai cita-cita mereka.

"Makanya sudah TK besar, tapi mau masuk ke SD tempat lain kan perlu biaya. (Azizah) maunya jadi polwan," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan