Kemlu: Temuan Awal PBB soal UNIFIL Harus Diusut Tuntas

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Plt Direktur Keamanan dan Perdamaian Internasional Veronica Vicka Ancilla Rompis (kanan) menyampaikan keterangan pers di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI merespons temuan awal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai kejadian nan menewaskan tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon selatan.

Plt Direktur Keamanan dan Perdamaian Internasional Kemlu RI, Veronica Vicka Rompis, mengatakan PBB telah menyampaikan hasil investigasi awal kepada pemerintah Indonesia.

"Memang betul pada tanggal 6 April, United Nations Department of Peace Operations alias UNDPO telah menyampaikan kepada pemerintah Indonesia mengenai hasil investigasi awal alias preliminary findings," kata Vicka dalam press briefing di instansi Kemlu, Jakarta, Rabu (8/4).

Ia menegaskan Indonesia telah mencatat temuan awal tersebut dan meminta agar proses investigasi dilanjutkan secara menyeluruh.

"Pemerintah Indonesia telah mencatat hasil investigasi tersebut dan meminta agar PBB dapat menuntaskan investigasi secara menyeluruh," ujarnya.

Sebagai respons, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono juga telah menjalin komunikasi langsung dengan Menlu Lebanon dan Sekretaris Jenderal PBB sejak 30 Maret lampau untuk mendorong investigasi nan transparan serta memastikan perlindungan maksimal bagi personel UNIFIL.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang (kiri) menyampaikan keterangan pers di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Langkah diplomasi turut diperkuat melalui Perwakilan Tetap RI di New York, termasuk pertemuan dengan Sekjen PBB dan pejabat tinggi urusan operasi perdamaian, serta dorongan berbareng Prancis di Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menggelar pertemuan darurat.

"Indonesia berbareng Perancis sebagai penholder alias pemegang rumor UNIFIL di Dewan Keamanan PBB juga sukses mendorong diselenggarakannya emergency meeting di DK PBB pada tanggal 31 Maret dan mendorong mengambil pernyataan pers Dewan Keamanan nan mengutuk serangan terhadap personel Indonesia di UNIFIL" ungkap Vicka.

DK PBB pun memberi pernyataan resmi, mengecam serangan terhadap pasukan Indonesia, disertai surat pemerintah RI kepada ketua DK PBB dan Sekjen PBB nan menuntut langkah konkret atas kejadian tersebut.

Menurut Vicka, Indonesia juga mendesak agar seluruh pihak nan terlibat dalam kejadian tersebut dapat diselidiki dan dimintai pertanggungjawaban.

“Pemerintah Indonesia telah mendesak agar semua pihak mengenai dapat menyelidiki dan juga mengadili para pelaku serta memastikan akuntabilitas,” tegasnya.

Mengingat proses ini tetap dalam tahap awal, Vicka menegaskan bahwa pemerintah memantau ketat perkembangan laporan penuhnya.

Upacara pelepasan jenazah prajurit TNI nan gugur di Lebanon berjalan di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (4/4/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ia menambahkan, jika hasil investigasi penuh nantinya mengonfirmasi temuan awal, Indonesia bakal mengambil sikap tegas secara diplomatik terhadap pihak nan bertanggung jawab.

"Apabila hasil investigasi penuh mengonfirmasi hasil temuan dari investigasi awal ini, maka pemerintah Indonesia bakal mengutuk keras," tutupnya.

Sebelumnya, investigator PBB pada Selasa (7/4) mengumumkan temuan awal adanya indikasi kuat tembakan tank Israel dan peledak (IED) Hizbullah nan menyebabkan gugurnya 3 prajurit TNI nan tergabung dalam UNIFIL.

Ketiga jenazah prajurit itu telah dipulangkan ke Tanah Air dan dimakamkan di tiga tempat berbeda pada Minggu (5/4).

Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung. Serka (Anm) M. Nur Ichwan dimakamkan di TMP Giri Dharmoloyo, Magelang. Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon dimakamkan di TMP Giripeni, Kulon Progo.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan