Kemenperin Panggil Pengusaha Plastik, Temukan Fakta Sebenarnya

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran kenaikan nilai plastik mulai dirasakan pelaku industri, khususnya sektor makanan dan minuman. Namun pemerintah menilai kondisi tersebut belum menjadi krisis, melainkan tetap pada tahap antisipasi.

Kekhawatiran tersebut berangkaian dengan stok bahan baku plastik nan diperkirakan hanya cukup untuk jangka pendek. Kondisi ini memicu spekulasi di pasar.

"Industri cemas stoknya ini hanya cukup 1 sampai 2 bulan, itu nan menjadi perhatian," kata Plt. Dirjen Agro Kemenperin Putu Juli Ardika dalam obrolan dengan media, Selasa (21/4/2026).

Kemenperin pun mengumpulkan pelaku upaya plastik pekan lalu, hasilnya menunjukkan bahwa kesiapan bahan baku sebenarnya tetap aman. Diskusi tersebut melibatkan seluruh rantai industri plastik.

"Dalam rapat, semua pelaku industri menyampaikan bahwa bahan baku tersedia, jadi tidak ada perdebatan soal ketersediaan," jelasnya.

Pemerintah sekarang konsentrasi menjaga stabilitas nilai agar tidak melonjak tajam. Salah satu opsi nan dibahas adalah intervensi pada komponen biaya impor bahan baku.

"Yang krusial kesiapan dulu, soal nilai kelak dicarikan solusi, termasuk kemungkinan kebijakan bea masuk," kata Putu.

Di tengah situasi ini, Kemenperin mulai mendorong diversifikasi bungkusan sebagai langkah mitigasi. Salah satu nan didorong adalah penggunaan bahan berbasis kertas.

"Kita sorong penggunaan paperboard nan berbasis kertas, lantaran ini sudah banyak digunakan dan cukup kompetitif," ungkapnya.

Saat ini, porsi bungkusan berbahan kertas sudah mencapai nyaris sepertiga dari total penggunaan di industri makanan. Angka ini dinilai tetap bisa ditingkatkan.

"Sekarang bungkusan kertas itu sekitar 28%, sementara plastik tetap sekitar 48%," jelas Putu.

Selain kertas, pengganti lain seperti bungkusan kaca juga mulai kembali dilirik. Pemerintah memandang kesempatan peningkatan penggunaan dalam beberapa tahun ke depan.

"Penggunaan kaca sekarang tetap 2-3%, tapi jika bisa naik ke 5% itu sudah sangat bagus untuk mendorong industrinya," ujarnya.

Namun dia mengakui, tidak semua pengganti bisa langsung menggantikan plastik, terutama untuk produk nan memerlukan daya tahan terhadap cairan dan minyak.

"Untuk bungkusan ramah lingkungan ini tetap perlu peningkatan teknologi, terutama untuk menahan air, minyak, dan kelembaban," sebut Putu.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News