Keluarga Reza Valentino Simamora (21)—PMI nan tewas akibat kecelakaan kerja di Korea Selatan—telah mendapat penjelasan dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) berbareng Bea Cukai soal barang-barang milik anaknya, 2 hp hingga paspor nan hilang.
Kedua pihak melakukan penjelasan lewat Zoom Meeting pada Jumat (17/4). Ayah Reza, Saut Tarulitua Simamora, mengatakan hasil penjelasan tersebut menyebut pengiriman dua telepon genggam milik Reza terpisah dari barang-barang lainnya.
“Klarifikasinya sunyi dan itu mengatakan bahwa handphone itu terpisah sesuai dengan peraturan mereka. Cuma nan saya sayangkan dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), tidak ada sepucuk surat bahwa ini reguler,” kata Saut saat ditemui di Medan, Senin (20/4).
Saut menjelaskan, dua telepon genggam tersebut telah ditemukan setelah buletin viral di media sosial. Ia menerima berita saat penjelasan dalam Zoom Meeting bahwa kedua telepon genggam milik Reza bakal dikembalikan dalam dua hari ke depan. Namun, hingga saat ini, peralatan tersebut tak kunjung datang.
“Setelah viral, handphone ini muncul. Itu pun katanya dua hari. Sekarang hari Senin, sampai sekarang belum saya terima handphone-nya,” ucap Saut.
Saut mengatakan, argumen pihak KP2MI melakukan pembongkaran koper tersebut diduga lantaran adanya peralatan nan mencurigakan dan sesuai dengan peraturan. Namun, dia menyayangkan tidak ada penjelasan terlebih dahulu.
“Alasannya katanya sesuai dengan peraturan. Peraturannya mereka nan tahu, kan? Artinya sesuai peraturan. Kenapa tidak dihubungkan dengan surat selembar dari KBRI ke Tanjung Emas Semarang, ke kargo? Kenapa tidak dilayangkan juga tembusan kepada pihak KP2MI?” imbuh Saut.
Paspor Diambil Negara
Saut mengatakan, saat penjelasan Zoom Meeting, paspor milik Reza diambil negara lantaran sesuai dengan peraturan pemerintah. Ia menyebut barang-barang tersebut semestinya kembali utuh ke kediamannya.
“Paspor itu katanya diambil negara, ditarik kembali sesuai dengan peraturan pemerintah. Seharusnya kan sampai dulu. Bukan negara nan mencetak itu. Anak saya membuatnya untuk berangkat ke sana dengan biaya pribadi,” ucap Saut.
Saut berambisi agar barang-barang anaknya dikembalikan sepenuhnya serta ada penjelasan lebih lanjut mengenai pembongkaran koper tersebut.
“Kita minta kepada Bapak Prabowo. Kita mohon, kasihanilah, Pak. Saya orang nan susah, tapi tidak menyusahkan orang,” ucap Saut.
Hak Asuransi dan Gaji Belum Dibayarkan
Saut mengatakan bahwa hingga saat ini kewenangan asuransi dari perusahaan Korea Selatan dan sisa penghasilan anaknya juga belum dibayarkan. Sisa penghasilan Reza dari 1 September hingga 23 September 2025 belum diterima keluarga.
“Asuransi dari Korea Selatan pun, satu perak tak ada. Jangankan asuransi, peralatan anak pun tiba hilang. Pergi sehat, pulang peti mati. Asuransi enggak keluar,” ucap Saut.
Sebelumnya, jenazah Reza ditemukan pada 27 September 2025. Terdapat luka di sekitar dadanya. Jenazahnya tiba di kediamannya pada 5 Oktober 2025.
Reza berangkat ke Korea Selatan pada Maret 2025 untuk bekerja di kapal penangkap ikan milik PT Garamho. Sebelum berangkat, dia lebih dulu menyelesaikan kursus bahasa Korea selama empat bulan di lembaga training kerja di Karanganyar, Semarang.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·