Kartu Strategis Selat Hormuz

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: Below the Sky/Shutterstock

Di kembali rudal-rudal balistik nan meluncur dalam perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, sebenarnya ada kartu strategis nan bakal menjadi penentu perang, ialah Selat Hormuz. Setidaknya ada 800 kapal tangker nan tertahan di Selat Hormuz.

Tertahannya ratusan kapal tangker tersebut bakal membikin pemerintah dan penduduk seantero bagian bumi merana dan sengsara, apalagi bisa menjadi krisis ekonomi dunia nan sangat serius. Setidaknya, ada 20% minyak bumi nan melewati Selat Hormuz setiap hari—dan jumlah nan sangat besar berasal dari gas.

Harga minyak bisa terus melambung jika Amerika-Israel terus membabi-buta. Kemudian, jika nilai minyak menyentuh USD 200 perbarel, musibah krisis ekonomi bakal menyengsarakan penduduk seantero dunia, disusul dengan krisis pangan—karena pertanian memerlukan pupuk nan bahan dasarnya fosfat. Selain itu, bumi juga bakal menghadapi krisis bahan dasar produk-produk teknologi dan digital. Barang-barang strategis tersebut dibawa melewati Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi kartu strategis Iran nan sukses memaksa Amerika Serikat-Israel untuk memilih jalur diplomasi di Pakistan dan gencatan senjata selama kurang lebih dua minggu. Meskipun ada silang pendapat dan ketidakcocokan perihal penghentian perang dengan Hizbullah, tapi lagi-lagi, Selat Hormuz memaksa AS-Israel untuk menempuh jalur diplomasi dan meja perundingan nan dilakukan secara intensif.

Perahu-perahu di Selat Hormuz di Selat Hormuz di tengah bentrok AS-Israel dengan Iran seperti terlihat dari Musandam, Oman, Senin (2/3/2026). Foto: Amr Alfiky/REUTERS

Amerika Serikat berupaya menekan Iran dengan mengepung perairan laut menuju pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menekan pasokan pangan dan bahan-bahan nan dibutuhkan Iran. Lebih dari itu, AS mendesak agar Selat Hormuz dikelola bersama. Namun, upaya AS tersebut tidak membikin gentar sedikit pun, lantaran Iran mengerti perihal kartu strategis Selat Hormuz nan dapat menekan AS-Israel.

Iran telah lama mempersiapkan Selat Hormuz sebagai kartu strategis dengan meletakkan ranjau-ranjau peledak nan sangat berbahaya, apalagi mematikan pihak musuh secanggih apa pun. Selain itu, Iran juga sudah menyediakan kapal-kapal laut pengintai nir-awak dan drone-drone nan telah sukses mendesak mundur kapal-kapal perang AS untuk keluar dari area Selat Hormuz nan saat ini di bawah teritorinya.

Secara geopolitik, Selat Hormuz telah memainkan peran sentral, lantaran minyak bumi nan diekspor dari negara-negara Teluk ke negara-negara Eropa dan Asia melewati area nan berada di bawah teritori laut Iran ini.

Selat Hormuz telah sukses menekan negara-negara Eropa untuk tidak bermakmum pada Amerika Serikat nan selama ini menjadi mitra-strategisnya. Di samping ketidaksetujuan negara-negara Eropa terhadap politik luar negeri Trump, mereka sudah sangat mengerti posisi strategis Selat Hormuz.

Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: artemegorovv/Shutterstock

Krisis daya bakal sangat berakibat pada negara-negara Eropa, nan bisa menyebabkan krisis ekonomi global. Begitu pula dengan negara-negara Teluk sebagai negara penghasil minyak dan gas, mereka juga punya banyak kepentingan pada Selat Hormuz untuk mengamankan upaya mereka. China juga sangat berkepentingan pada Selat Hormuz sebagai importir minyak dan gas terbesar dari Iran dan negara-negara Teluk.

Maka dari itu, Iran telah sukses memainkan kartu strategis Selat Hormuz, khususnya agar Amerika Serikat dan Israel menerima tekanan negara-negara mitra strategisnya untuk memilih jalur diplomasi melalui perundingan. nan teranyar, perang Israel dan Hizbullah di Lebanon sukses mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Namun pertanyaannya: Apakah kartu strategis Selat Hormuz bakal bisa menghasilkan kesepakatan permanen antara Amerika Serikat dan Iran? Bagaimana penyelesaian kapal-kapal tanker nan tetap tertahan dan tidak bisa melewati Selat Hormuz?

Jujur, kita tidak bisa memprediksi secara pasti apa nan bakal terjadi di masa depan. nan jelas, Iran saat ini sukses mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk menggunakan jalur diplomasi. Negara-negara Eropa, Teluk, dan Asia menghendaki agar ada penyelesaian secara diplomatik. Oleh karena itu, perundingan dan gencatan nan berjalan dalam dua minggu ini bakal sangat menentukan masa depan perang AS-Israel melawan Iran.

Ilustrasi simulasi perang Foto: Pathdoc/fotolia

Terdapat beberapa poin krusial dalam perundingan saat ini, ialah perihal pengayaan uranium persenjataan nuklir Iran, embargo ekonomi, pengembangan persenjataan rudal balistik, dan puncaknya adalah kemerdekaan Palestina. Semua poin tersebut bukanlah perihal nan mudah dibicarakan dan dirundingkan.

Namun dengan kepala dingin dan hati nan jernih, Amerika Serikat-Israel dan Iran bisa menempuh kesepakatan nan bersejarah. Semua penduduk bumi saat ini menghendaki hidup damai, mengakhiri perang dan penjajahan. Apa nan dilakukan AS-Israel terhadap Iran serta dunia-dunia lain nan terjajah sangat melukai hati dan tidak dibenarkan sama sekali.

AS dan Israel kudu mendengarkan dan memandang dorongan kuat dari warganya serta penduduk dunia, bahwa kolonialisme di muka bumi mesti dihentikan, lantaran tidak sesuai dengan perikemanusiaan—sebagaimana tertuang dalam konstitusi kita.

Dan kita sejatinya berjuang serius untuk menghentikan kolonialisme di muka bumi. Apa nan dilakukan AS-Israel terhadap Iran dan beberapa negara terjajah lainnya merupakan tindakan nan sama sekali tidak dibenarkan. Kita kudu serius menghentikan perang nan sebenarnya bermaksud untuk penjajahan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan