Yogyakarta, CNN Indonesia --
Kanal YouTube Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) ikut bersuara mengenai pidato Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) nan dianggap menistakan aliran Kristen.
Ceramah JK berjudul 'Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar' bertempat di Masjid Kampus UGM pada 5 Maret 2026 lalu.
JK datang sebagai salah satu pembicara 'Ramadan Public Lecture'. Momen pidato JK selama kurang lebih 43 menit ini turut disiarkan melalui kanal YouTube resmi Masjid Kampus UGM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merespons ramai pidato JK, admin kanal YouTube Masjid Kampus UGM menyampaikan pesannya melalui kolom komentar nan disematkan mulai Senin (12/4) kemarin.
"Jemaah sekalian, kami minta dengan sangat untuk menyimak video secara utuh, bukan hanya potongan-potongan nan beredar. Seringkali cuplikan nan tidak komplit dapat menimbulkan kesalahpahaman lantaran konteks pembicaraan tidak tersampaikan dengan baik," tulis admin dalam kolom komentar.
CNNIndonesia.com telah meminta izin kepada Ketua Takmir Masjid UGM, Muhammad Yusuf untuk mengutip isi dari komentar tersebut.
"Mari kita bersikap setara dalam menilai suatu hal, dengan memandang secara menyeluruh sebelum mengambil konklusi alias menyebarkannya lebih lanjut. Adapun andaikan memerlukan penjelasan lebih lanjut, silakan langsung ke pihak nan bersangkutan. Terima kasih atas perhatian dan kebijaksanaannya," tutupnya.
Pada Minggu (12/4) malam, JK melalui ahli bicaranya, Husain Abdullah membantah telah menistakan aliran Kristen sebagaimana laporan polisi nan dibuat Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) dan sejumlah organisasi lainnya.
DPP GAMKI berbareng sejumlah lembaga Kristen dan organisasi kemasyarakatan lain itu menilai pernyataan JK dalam pidato di UGM beberapa waktu lampau nan menyinggung bentrok Poso dan Ambon tersebut menuai polemik.
Adapun Husain meluruskan postingan video viral nan tersebar di media sosial dan menurutnya kehilangan konteks. Video dimaksud berisi pernyataan JK nan menyebut kedua belah pihak dalam bentrok Poso dan Ambon dengan istilah 'mati syahid'.
"Setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting). Kami membantah dengan tegas tuduhan itu," ujar Husain saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis, Minggu (12/4) malam.
Husain menjelaskan pernyataan JK nan disampaikan saat berpidato di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (5/3), menegaskan tidak ada kepercayaan di bumi nan mengajarkan umatnya untuk saling membunuh.
Husain lampau menerangkan kala itu JK sedang menjelaskan kiprah saat turut andil dalam mendamaikan bentrok Poso dan Ambon saat pergantian dasawarsa 1990an ke 2000an itu.
"JK menggambarkan usahanya mendamaikan bentrok Poso dan Ambon kepada civitas academica UGM. Di mana JK terlebih dulu meluruskan kepercayaan kedua golongan nan bertikai, Islam dan Kristen, bahwa mereka telah bertindak keliru menggunakan semboyan kepercayaan sebagai argumen pembenar nan menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak, dan bentrok susah dihentikan," jelas dia.
Saat bentrok terjadi, terang Husain, kedua golongan saling menyerukan 'perang suci' dan menyatakan bahwa membunuh pihak musuh alias meninggal dalam pertempuran adalah masuk surga. Ia menegaskan perihal tersebut merupakan kebenaran sejarah.
"Pandangan keliru kedua pihak inilah nan terlebih dulu diluruskan Pak JK bahwa tidak ada satu pun kepercayaan nan membolehkan untuk saling membunuh. Ini disampaikan kepada para panglima perangnya saat itu," tuturnya.
Husain mengatakan kedua pihak nan bertikai tersebut sudah melampaui pemisah kemanusiaan, membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua. Perbuatan itu jelas melanggar nilai-nilai cinta kasih.
Husain melanjutkan bentrok Poso dan Ambon nan terjadi 27 tahun lampau sukses didamaikan oleh JK selaku mediator, melalui Perundingan Malino I untuk Poso tahun 2001 dan Perundingan Malino II untuk Konflik Ambon tahun 2002.
Saat itu, katanya, JK nan menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) melibatkan tokoh kepercayaan Islam dan Kristen, panglima lapangan kedua pihak nan bertikai, tokoh masyarakat dari kedua pihak, dan pemerintah untuk bermediasi.
"Itulah kenapa Pak JK kudu meluruskan pemahaman sesat mereka. Fakta sejarah ini dapat dikonfirmasi kepada tokoh-tokoh perundingan tenteram baik untuk Poso maupun Ambon nan tetap hidup," katanya.
Sementara GAMKI berbareng Dewan Pakar Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Gerakan Perjuangan Masyarakat Pluralisme, DPP Si Pitung, hingga DPP Horas Bangso Batak melaporkan JK ke pihak kepolisian lantaran mempersoalkan pernyataan nan berkepentingan mengenai bentrok Poso dan Ambon.
Dalam keterangannya, DPP GAMKI mengutip pernyataan JK nan dinilai kontroversial itu. Pernyataan itu menyinggung bentrok di Poso dan Ambon pada awal 2000-an. Mereka mempermasalahkan soal frasa 'syahid' nan diungkap JK mengenai bentrok nan menyinggung agama, termasuk di Poso dan Ambon.
Ketua Umum DPP GAMKI Sahat Sinurat menyatakan mereka juga mengecam keras pernyataan JK nan dinilai menyakiti hati umat Kristen dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
Sahat menyatakan kepercayaan Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh orang berbeda kepercayaan maka bakal masuk surga. Justru, sambungnya, kepercayaan Kristen mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia apalagi musuh sekalipun.
(kum/dal)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·