Jakarta -
SKK Migas terus mendorong peningkatan produksi migas nasional. Salah satu upaya nan digencarkan berbareng kontraktor perjanjian kerja sama (KKKS) adalah program Triple 100, nan mencakup 100 sumur eksplorasi, 100 multi-stage fracturing (MSF), dan 100 tambahan sumur pengembangan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus, mengatakan penerapan teknologi MSF menjadi langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi lapangan migas, termasuk lapangan nan telah berumur dan mempunyai kualitas reservoir rendah (low quality reservoir) dan persediaan yg tetap cukup besar.
Hal ini diungkapkannya saat melakukan kunjungan kerja ke proyek sumur Multi Stage Fracturing (MSF) BLSE-050 di lapangan Balam South East nan dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Provinsi Riau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Program MSF ini merupakan salah satu upaya nyata untuk meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan low quality reservoir. Melalui teknologi ini, kita dapat membuka jalur aliran minyak nan sebelumnya susah diproduksikan, sehingga potensi nan ada dapat dimanfaatkan secara lebih optimal," ujar Rikky dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan, SKK Migas juga memastikan support dari sisi peralatan, percepatan pembebasan lahan, hingga penguatan kapabilitas operasional guna mencapai sasaran 15 sumur MSF pada 2026. Program ini diharapkan memberi kontribusi signifikan terhadap produksi migas nasional.
"Kami terus mendorong percepatan penyelenggaraan program ini dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, efisiensi biaya, dan keandalan operasi," tambahnya.
Sementara itu, General Manager PHR Zona Rokan, Andre Wijanarko, menjelaskan program MSF merupakan salah satu strategi utama untuk meningkatkan produksi pada lapangan dengan karakter low quality reservoir, ialah kondisi batuan nan membikin minyak susah mengalir secara alami ke sumur. Untuk mengatasinya, digunakan teknologi fracturing alias perekahan batuan dengan tekanan tinggi guna membuka jalur aliran minyak.
Metode ini dilakukan secara berjenjang (multi stage fracturing) pada sumur horizontal, sehingga aliran hidrokarbon dapat lebih optimal dan produksi meningkat.
Andre mengungkap, pada tahun 2026 direncanakan sebanyak 15 sumur MSF bakal dieksekusi, nan tersebar di tiga lapangan utama, ialah Balam South East, Bangko, dan Kotabatak, masing-masing sebanyak lima sumur.
Adapun sumur MSF merupakan sumur high profile nan artinya sumur-sumur ini diharapkan menghasilkan produksi nan tinggi, disamping tantangan operasional dan biaya nan juga tinggi. Untuk itu PHR berupaya semaksimal mungkin memastikan sumur MSF diselesaikan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai hasil nan maksimal.
"Hingga saat ini, dua sumur pertama tahun ini telah menyelesaikan fracturing stage 1 dan tengah bersiap memasuki stage berikutnya, nan direncanakan hingga 8 stages, dan onstream diharapkan di akhir Mei. Selain itu, terdapat dua sumur nan tetap dalam proses pengeboran serta empat sumur nan telah siap untuk dibor," paparnya.
(hns/hns)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·