Jangan Tertipu, Begini Cara Mengenali Wagyu Asli agar Tak Rugi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Wagyu Jepang dinobatkan sebagai steak terbaik di bumi pada arena World Steak Challenge, Rabu (28/9/2022). Foto: WORLD STEAK CHALLENGE 2022

Saat mendengar kata wagyu, kebanyakan orang pasti langsung membayangkan daging sapi premium asal Jepang, bukan? Ya, daging ini memang dikenal punya karakter unik berupa marbling, ialah sebaran lemak lembut di antara serat daging nan bikin teksturnya juicy dan lumer di mulut.

Kini, produk bercap wagyu semakin mudah ditemukan, mulai dari supermarket hingga menu-menu di restoran. Namun, konsumen perlu lebih teliti lantaran tidak semua daging bercap wagyu betul-betul menawarkan kualitas seperti nan dibayangkan.

Dilansir dari Fox News Digital, kejadian ini apalagi banyak ditemukan di Amerika Serikat. Daging bercap “wagyu” di sana mempunyai kualitas, asal, dan nilai nan sangat beragam. Akibatnya, konsumen bisa saja bayar mahal untuk produk nan sebenarnya tidak sesuai ekspektasi.

Stephanie Hamilton, manajer merek di JBS Imports, menjelaskan bahwa banyak konsumen menganggap wagyu sebagai pengalaman makan premium dengan kelembutan luar biasa, rasa kaya, dan sensasi lumer di mulut berkah marbling nan tinggi.

Daging wagyu Foto: Shutter Stock

Namun menurutnya, persepsi tersebut sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak orang mengira bahwa semua wagyu berasal dari Jepang, padahal sebagian besar wagyu nan dijual di Amerika Serikat justru dibesarkan secara lokal dan hanya menggunakan genetika sapi Jepang.

Hal serupa disampaikan Evan Carter, salah satu pendiri The Meat Dudes, nan menyebut bahwa istilah wagyu sekarang digunakan lebih luas. Menurutnya, label wagyu saat ini sering kali hanya menunjukkan bahwa daging tersebut mempunyai sebagian genetika wagyu, tetapi kualitasnya bisa sangat bervariasi.

Perbedaan paling besar terletak pada asal dan genetika sapi tersebut. Wagyu Jepang original berasal dari sapi wagyu murni nan lahir, dibesarkan, dan diproses di Jepang dengan standar produksi nan sangat ketat. Karena produksinya terbatas, wagyu original Jepang biasanya dijual dengan nilai sangat tinggi.

Sebaliknya, American wagyu adalah sapi nan dibesarkan di Amerika dengan genetika Jepang nan sering dipadukan dengan metode peternakan lokal. Hasilnya memang tetap menghasilkan marbling yang baik, tetapi kualitas dan karakteristiknya berbeda dari wagyu Jepang asli.

Daging wagyu Foto: Shutter Stock

Masalahnya, di Amerika Serikat istilah wagyu belum diatur secara ketat. Hal ini membikin label wagyu dapat digunakan secara bebas, terutama di restoran. Chef Jesse Schenker mengatakan banyak konsumen mengasosiasikan wagyu dengan nilai mahal, sehingga restoran bisa saja meningkatkan nilai hanya lantaran mencantumkan label tersebut.

"Ada banyak kesalahpahaman tentang Wagyu," kata dia nan terbiasa menyajikan Wagyu A5 Jepang original di restorannya, FOUR, di Oyster Bay, New York.

Ia mengingatkan bahwa konsumen perlu berhati-hati lantaran kata “wagyu” dan “kobe beef” di menu sering digunakan sebagai strategi pemasaran, meskipun kualitas daging nan digunakan belum tentu premium.

Karena itu, ada beberapa perihal nan perlu diperhatikan agar tidak tertipu saat membeli wagyu. Salah satunya adalah memperhatikan harga. Jika nilai terlalu murah untuk ukuran wagyu, konsumen patut curiga.

Daging wagyu Foto: Shutter Stock

Schenker menyebut steak American wagyu 16 ons seharga 49 USD alias sekitar Rp 845 ribu patut dipertanyakan keasliannya, lantaran nilai nan wajar berada di kisaran 79 USD alias sekitar Rp 1,4 juta.

Selain harga, konsumen juga disarankan memperhatikan perincian marbling daging dan menanyakan asal usul produk tersebut. Carter menyebut pertanyaan sederhana seperti “dari mana asal daging ini?” dan “jenis wagyu apa nan digunakan?” bisa membantu memastikan kualitas produk.

Semakin transparan info nan diberikan penjual, semakin besar kemungkinan produk tersebut memang sesuai dengan labelnya. Jadi, jika restoran alias penjual bisa menjelaskan asal peternakan daging tersebut, itu menjadi tanda nan baik.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan