Jakarta, CNBC Indonesia — Pemerintah Iran telah membatalkan pembukaan Selat Hormuz dan memberlakukan pembatasan ketat terhadap jalur pelayaran vital tersebut. Terutama setelah Amerika Serikat menyatakan tidak bakal mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebuah badan maritim Inggris melaporkan bahwa kapal-kapal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembaki sebuah kapal tanker nan mencoba melintasi selat tersebut pada Sabtu. Laporan Reuters juga menyebut kapal berbendera India nan mengangkut minyak mentah turut diserang di jalur perairan nan sama.
Sementara itu, komando militer campuran Khatam al-Anbiya Iran menyatakan bahwa Teheran telah mengembalikan selat tersebut ke "status sebelumnya" dan sekarang berada di bawah pengelolaan serta pengawasan ketat angkatan bersenjata.
Iran menegaskan bahwa pembatasan bakal tetap diberlakukan andaikan Amerika Serikat tidak menjamin kebebasan navigasi penuh bagi kapal-kapal nan berlayar dari dan menuju Iran.
Penegasan tersebut disampaikan kembali oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh berbareng komando angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dalam pernyataannya kepada wartawan di sela forum diplomatik tahunan di Antalya, Turki, Khatibzadeh menyebut AS tidak dapat memaksakan kehendak untuk mengepung Iran. Ia menambahkan, Iran justru berupaya dengan itikad baik untuk memfasilitasi jalur pelayaran nan kondusif melalui Selat Hormuz.
Dalam sebuah unggahan di X, komando angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa selama pergerakan kapal dari dan menuju Iran tetap terancam, status Selat Hormuz bakal tetap seperti sebelumnya.
"Setiap pelanggaran komitmen oleh Amerika Serikat bakal mendapat tanggapan nan sesuai." tulisnya.
Iran sebelumnya secara resmi menutup Selat Hormuz pada 4 Maret sebagai respons atas serangan udara campuran AS-Israel di wilayahnya. Selat tersebut sempat dinyatakan kembali terbuka pada Jumat setelah tercapai kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon, sebagai bagian dari upaya diplomatik nan lebih luas untuk meredakan bentrok di kawasan.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengatakan telah menerima laporan dari sebuah kapal tanker nan didekati dan kemudian ditembak oleh "dua kapal perang IRGC" sekitar 20 mil laut di timur laut Oman.
Kapten kapal mengatakan tidak ada peringatan radio sebelumnya. Badan tersebut menambahkan bahwa kapal tanker dan awaknya dilaporkan selamat, dan pihak berkuasa sedang menyelidiki kejadian tersebut.
Pengumuman perubahan sikap Iran datang sehari setelah Donald Trump mengatakan blokade AS bakal "tetap bertindak penuh" sampai kesepakatan tenteram permanen dengan Teheran tercapai. Presiden AS juga mengatakan bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran, nan dimediasi oleh Pakistan dan bakal berhujung pada hari Rabu, mungkin tidak bakal diperpanjang.
Delegasi AS dan Iran diharapkan bakal mengadakan putaran kedua pembicaraan damai, meskipun waktunya belum dikonfirmasi. Agence France-Presse melaporkan bahwa menteri luar negeri Mesir mengatakan pada hari Sabtu bahwa ada angan untuk kesepakatan "dalam beberapa hari mendatang".
"Kami berambisi dapat mencapai kesepakatan dalam beberapa hari mendatang," kata Badr Abdelatty, menambahkan: "Bukan hanya kami di area ini, tetapi seluruh bumi menderita akibat berlanjutnya perang ini".
Pada Sabtu malam, Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran dan ketua parlemen, mengatakan telah ada kemajuan dalam pembicaraan dengan AS tetapi tetap ada "jarak nan besar".
Sebelum Iran membatalkan rencananya, setidaknya delapan kapal tanker minyak dan gas telah melewati selat tersebut dalam waktu singkat ketika selat itu terbuka pada Sabtu pagi, menurut info pencarian maritim.
Sekitar 20% minyak dan gas alam cair bumi melewati selat sempit ini, nan telah menjadi titik konsentrasi perang AS-Israel terhadap Iran. Penutupan selat ini telah mendorong kenaikan nilai daya di seluruh dunia.
(mkh/mkh)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·