IMF Pangkas Outlook Ekonomi Global 2026 Imbas Perang Timur Tengah

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Militer Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), sehari setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Foto: Mahmoud Zayyat/AFP

Perekonomian dunia kembali menghadapi tekanan besar setelah pecahnya perang di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook (WEO) jenis April 2026 menilai bentrok ini menjadi aspek utama nan mengganggu arah pemulihan ekonomi dunia.

IMF menyebut, dalam kondisi normal tanpa konflik, pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 semestinya bisa lebih tinggi. Namun, eskalasi geopolitik membikin proyeksi tersebut kudu dikoreksi ke bawah.

“Sekali lagi, perekonomian dunia terancam keluar dari jalurnya, kali ini akibat pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari 2026,” kata IMF dalam laporannya, dikutip Rabu (15/4).

Dalam proyeksi terbarunya, IMF memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh 3,1 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027. Angka ini lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan 3,4 persen pada periode 2024–2025, sekaligus di bawah rata-rata historis 3,7 persen.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh akibat bentrok terhadap pasar komoditas, ekspektasi inflasi, dan kondisi finansial global. IMF menegaskan bahwa perang menjadi aspek pembalik dari beragam sentimen positif nan sebelumnya menopang ekonomi dunia, seperti investasi teknologi dan kondisi finansial nan longgar.

“Selama setahun terakhir, tekanan dari meningkatnya halangan perdagangan dan ketidakpastian nan tinggi telah diimbangi oleh dorongan dari investasi mengenai teknologi, kondisi finansial nan akomodatif, termasuk melemahnya dolar AS, serta support kebijakan fiskal dan moneter,” tulis IMF.

Tanpa perang, IMF memperkirakan pertumbuhan dunia 2026 justru bisa direvisi naik menjadi 3,4 persen. Artinya, bentrok di Timur Tengah menjadi aspek kunci nan memangkas prospek pertumbuhan ekonomi bumi tahun ini.

Meski secara dunia koreksinya terlihat terbatas, dampaknya tidak merata. IMF menyoroti bahwa negara berkembang menjadi pihak nan paling terdampak, terutama negara pengimpor komoditas daya nan sudah mempunyai kerentanan fiskal sebelumnya.

Revisi pertumbuhan untuk golongan negara berkembang mencapai 0,3 poin persentase, sementara negara maju relatif tidak mengalami perubahan signifikan. Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan akibat krisis dunia nan kembali terulang.

video story embed

Negara Berkembang Paling Terpukul

IMF menekankan, beban krisis akibat bentrok jauh lebih besar dirasakan oleh negara berkembang dibandingkan negara maju. Selain tekanan dari lonjakan nilai energi, negara-negara ini juga menghadapi ruang fiskal nan terbatas untuk merespons guncangan.

Dalam skenario nan lebih buruk, dampaknya apalagi bisa jauh lebih dalam. Jika nilai daya terus naik dan bentrok berjalan lebih lama, pertumbuhan dunia dapat melambat menjadi 2,5 persen pada 2026, dengan inflasi melonjak ke 5,4 persen.

Skenario nan lebih ekstrem menunjukkan pertumbuhan dunia bisa jatuh ke kisaran 2 persen, sementara inflasi menembus di atas 6 persen pada 2027. Dalam kondisi ini, tekanan terhadap negara berkembang diperkirakan nyaris dua kali lipat dibandingkan negara maju.

Risiko Krisis Energi dan Gejolak Baru

Selain menekan pertumbuhan, IMF juga mengingatkan potensi krisis daya besar jika bentrok terus memburuk. Ketegangan geopolitik nan meningkat berisiko mengganggu pasokan daya dunia dan memicu lonjakan nilai nan lebih tajam.

“Ketegangan geopolitik dapat memburuk jauh lebih parah dari saat ini, mengubah situasi menjadi krisis daya terbesar dalam sejarah modern,” kata IMF.

Risiko lain nan turut mengintai adalah meningkatnya inflasi, tekanan terhadap suku kembang jangka panjang, serta memburuknya kondisi finansial dunia akibat defisit fiskal dan utang publik nan semakin besar.

IMF juga menyoroti potensi pelemahan institusi, termasuk independensi bank sentral, nan dapat memperburuk ekspektasi inflasi di tengah lonjakan nilai komoditas.

Di tengah beragam tekanan tersebut, IMF memandang tetap ada aspek penopang pertumbuhan, salah satunya investasi di bagian kepintaran buatan (AI). Teknologi ini dinilai berpotensi mendorong produktivitas dan menjaga dinamika ekonomi dunia dalam jangka panjang.

Meski begitu, IMF mengingatkan bahwa faedah AI sangat berjuntai pada kecepatan mengambil dan keahlian negara dalam mengoptimalkan teknologi tersebut.

IMF Minta Jaga Stabilitas dan Perkuat Kerja Sama

Dalam menghadapi ketidakpastian dunia nan meningkat, IMF menekankan pentingnya kebijakan nan adaptif dan terkoordinasi antarnegara. Prioritas utama adalah menjaga stabilitas nilai dan sistem keuangan, serta memastikan keberlanjutan fiskal.

Bank sentral diminta tetap waspada terhadap akibat inflasi, sementara pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal tetap terarah dan efisien, terutama dalam melindungi golongan rentan.

Selain itu, IMF juga mengingatkan bahwa pembatasan perdagangan bukan solusi efektif untuk mengatasi ketidakseimbangan global. Sebaliknya, kerja sama internasional dan integrasi perdagangan justru menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi bumi di tengah tekanan geopolitik.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan