Kenaikan nilai BBM diesel non subsidi diperkirakan berakibat langsung pada pasar mobil bekas. Pelaku upaya di Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua mulai merasakan potensi penurunan permintaan, terutama untuk kendaraan diesel.
Penggawa Lapak Mobil Peter menilai, lonjakan nilai bahan bakar membikin konsumen semakin berbilang sebelum membeli mobil diesel. Kondisi ini dinilai berbeda dibandingkan dengan kenaikan nilai BBM sebelumnya nan tidak terlalu signifikan.
“Perkiraan saya begitu kayaknya bakal susah lagi jual mobil diesel bekas. Pasti konsumen juga enggak mau jika bahan bakarnya naik,” ujar Peter saat dihubungi kumparan, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, akibat penurunan sudah mulai terlihat dari sisi penjualan bulanan. Jika sebelumnya mobil diesel jejak tetap bisa terjual beberapa unit dalam sebulan, sekarang angkanya mulai menyusut cukup drastis.
“Wah bisa banyak perkiraan saya Kalo di mobil jejak kan kita biasanya ada stok diesel biasanya bisa jual mungkin 5 unit, ya sekarang paling sebulan hanya bisa jual 2 unit lah,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi semakin berat seiring dengan sentimen kenaikan nilai BBM nan cukup tajam. Konsumen dinilai bakal semakin menahan pembelian lantaran biaya operasional kendaraan ikut meningkat.
“Mungkin perkiraan saya bisa sekitar 40 persen penurunannya. Karena baru kali ini kan BBM naiknya drastis biasanya hanya Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu. Ini kan sampai Rp 10 ribu lebih,” ujarnya.
Di sisi lain, tekanan terhadap mobil diesel jejak juga datang dari tren elektrifikasi nan mulai berkembang. Kehadiran mobil hybrid dan listrik perlahan menggeser minat sebagian konsumen nan sebelumnya mempertimbangkan kendaraan diesel.
Dengan kondisi tersebut, pasar mobil diesel jejak diprediksi bakal menghadapi tantangan ganda. Selain tekanan dari kenaikan nilai BBM, perubahan preferensi konsumen juga menjadi aspek nan memengaruhi penurunan permintaan di lapangan.
12 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·