Harga Pangan Mulai Turun Usai Lebaran, Tapi MinyaKita-Cabai Rawit Masih Tinggi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
MinyaKita di Pasar Jaya Cijantung Jakarta Timur pada Rabu (4/9/2024). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat nilai beragam komoditas pokok setelah lebaran Idul fitri sudah mulai terjaga. Namun, nilai MinyaKita dan cabai rawit tetap tergolong tinggi.

Hal ini terlihat dari selisih nilai beragam komoditas pangan terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET)/Harga Acuan Pembelian (HAP) nan rata-rata terjaga di bawah 6 persen. Sementara selisih untuk MinyaKita tetap mencapai 7,03 persen dan cabe rawit 35,86 persen.

Terkait cabe rawit, Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menjelaskan tingginya nilai memang sempat disebabkan oleh kondisi cuaca nan terjadi di Indonesia.

Hal ini membikin banyak petani cabe rawit tak melakukan panen alias pemetikan saat hujan terus terjadi.

“Setelah bulan suci ramadan relatif sedang mengalami penurunan. Waktu awal-awal, memang kudu kita akui cabe rawit merah memang terlalu tinggi, nan kita harapkan pada musim bulan suci ramadan adalah kering sedikit, rupanya hujannya teman-teman bisa rasakan. Jadi cabe itu begitu hujan tidak mungkin orang metik,” kata Ketut dalam media briefing di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta pada Senin (20/4).

Sementara untuk MinyaKita, Ketut menjelaskan memang kondisinya saat ini sudah mulai turun. Namun salah satu perihal nan menjadi aspek nilai MinyaKita tetap tinggi adalah kekuasaan Domestic Market Obligation (DMO) MinyaKita ke support pangan.

“Sebenarnya bukan naik, sudah mulai turun jika MinyaKita ya, dari Rp 17 ke Rp 16 (ribu). Tentu memang sekarang ini kan serapan DMO itu dominan ke support pangan tuh. Nah kemudian nan kedua, kita sudah gencarkan pengawasan sehingga nilai itu sudah mulai mendekati nilai referensi nan kita tetapkan,” ujarnya.

Pedagang sayur melayani pembeli di Pasar Induk Rau, Serang, Banten, Rabu (6/1). Foto: Asep Fathulrahman/ANTARA FOTO

Adapun saat ini Bapanas memang sedang mendorong agar pengedaran MinyaKita 60 persen di antaranya dilakukan melalui BUMN. Hal ini agar nilai MinyaKita dapat terkendali dengan mudah.

“Nah tentu dengan 60 persen, pengendalian harganya bakal relatif lebih mudah. Itu nan kita sorong ke depan,” kata Ketut.

Adapun berasas paparan Ketut, pada periode pasca lebaran 21 Maret–18 April 2026 nilai 13 komoditas pangan strategis secara umum menunjukkan kondisi nan lebih stabil meskipun tetap terdapat beberapa nan berada di atas HET.

Harga beras premium di kisaran Rp15.665 per kg alias sedikit di atas HET, sementara beras medium Rp13.379 per kg dan beras SPHP Rp12.444 per kg tetap berada di bawah HET.

Kedelai juga tercatat Rp11.164 per kg dan tetap di bawah HET.

Pada komoditas hortikultura, bawang merah berada di Rp 42.615 per kg dan sudah melampaui HET, sedangkan bawang putih Rp 38.310 per kg tetap di bawah HET.

Cabai merah keriting berada di Rp 43.281 per kg alias tetap di bawah HET, sementara cabe rawit merah tetap menjadi komoditas dengan kenaikan nilai tertinggi di Rp75.726 per kg, jauh di atas HET meski telah mengalami penurunan.

Untuk daging sapi harganya berada di Rp 141.159 per kg, daging ayam ras Rp 40.866 per kg, dan telur ayam ras Rp31.648 per kg, Sementara itu, gula konsumsi dan minyak goreng masing-masing tercatat Rp 18.618 per kg dan Rp 16.824 per liter, keduanya tetap berada di atas HET.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan