Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyiapkan langkah antisipasi menghadapi fase El Nino dengan mempercepat pemotongan dan merapikan pohon di sejumlah wilayah ibu kota.
Langkah ini diambil menyusul curah hujan tinggi nan tetap terjadi di pertengahan April, meski secara teori Jakarta sudah mulai memasuki fase El Nino.
“Seharusnya pertengahan April ini sudah masuk fase El Nino. Tapi kemarin curah hujan tetap cukup tinggi, termasuk di perbatasan Jakarta Timur dengan Bekasi,” ujar Pramono usai menghadiri Town Hall Meeting 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Rabu (15/4).
Pram menyebut, hujan dengan intensitas tinggi sempat menyebabkan genangan di beberapa titik, meski dapat ditangani dalam waktu relatif singkat.
Pemprov DKI Antisipasi Pohon Tumbang
Pram menegaskan, salah satu konsentrasi utama pemerintah saat ini adalah mengantisipasi potensi pohon tumbang akibat cuaca ekstrem nan tidak menentu.
Menurutnya, pemangkasan dan perapian pohon menjadi langkah krusial untuk mencegah kejadian serupa nan pernah terjadi sebelumnya.
“Saya minta nan lebih kudu dipersiapkan adalah pohon-pohonnya. Kalau tidak dilakukan dengan baik, pasti ini bakal terjadi seperti waktu nan lalu,” jelasnya.
Saat ini, kata Pram, proses penopingan, pemotongan, hingga perapihan pohon tengah dilakukan secara berjenjang oleh jejeran mengenai di beragam wilayah Jakarta.
BMKG: Kemarau Mulai April, Puncak Agustus 2026
Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan Indonesia diprediksi mulai memasuki musim tandus pada periode April hingga Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah mengalaminya pada Mei.
“Musim tandus itu bakal datang di Indonesia mulai bulan April, Mei hingga Juni, banyak nan datangnya di bulan Mei. Dimulai dari wilayah timur Indonesia, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, kemudian Pulau Jawa terutama pesisir, hingga Sumatera bagian selatan,” ujar Faisal di DPR, Senin (13/4).
Ia menjelaskan, pada semester kedua 2026 Indonesia bakal memasuki fase El Nino lemah hingga moderat, dengan puncak musim tandus diperkirakan terjadi pada Agustus.
“Puncak dari musim tandus itu di bulan Agustus, dominan nan paling banyak wilayah di Indonesia itu puncaknya di Agustus,” katanya.
Menurut Faisal, kondisi tersebut berpotensi membikin musim tandus menjadi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir.
Dampaknya antara lain meningkatnya akibat kekeringan, kebakaran rimba dan lahan (karhutla), hingga gangguan pada sektor pangan.
“Musim tandus datang lebih cepat, sehingga lebih panjang dan lebih kering. Ini perlu meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengurangi akibat kekeringan, karhutla, serta menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, wilayah di selatan garis khatulistiwa menjadi nan paling terdampak, termasuk sejumlah provinsi nan berpotensi mengalami peningkatan akibat karhutla.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·