Guru Digugu dan Ditiru dalam Perspektif Transformasi

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Dokumentasi Pribadi (2026) Kehadiran pembimbing dalam pembelajaran

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, saya mulai menyadari bahwa makna pembimbing tidak lagi sesederhana sosok nan berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Menjadi pembimbing hari ini terasa seperti berada di persimpangan antara tradisi dan transformasi. Di satu sisi, saya tetap diharapkan untuk “digugu dan ditiru”. Namun di sisi lain, realitas di kelas menunjukkan bahwa peran itu sekarang jauh lebih bergerak dan menantang.

Dulu, saya memahami ungkapan klasik dalam bumi pendidikan “guru digugu dan ditiru” sebagai corak penghormatan sekaligus penegasan bahwa apa nan saya katakan bakal dipercaya, dan apa nan saya lakukan bakal dicontoh. Tetapi suatu hari, ketika seorang siswa lebih percaya pada penjelasan dari video di internet dibandingkan penjelasan saya di kelas, saya tersentak.

Bukan lantaran saya tersaingi, tetapi lantaran saya sadar: bumi belajar mereka sudah berubah. Dari situ saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah saya tetap relevan untuk digugu dan ditiru? Dan jika iya, apa nan membikin saya layak?

Perlahan, saya menyadari bahwa transformasi bukan sekadar soal keahlian menggunakan teknologi alias mengikuti tren pembelajaran terbaru. Lebih dalam dari itu, transformasi adalah tentang mengubah langkah pandang saya sebagai guru. Saya pernah mencoba mengubah satu kebiasaan kecil: alih-alih menjelaskan panjang lebar, saya meminta siswa mencari jawaban sendiri lampau mendiskusikannya. Awalnya kelas terasa “tidak terkontrol”, tetapi justru di situlah saya memandang mereka lebih aktif dan terlibat. Saat itu saya belajar bahwa menjadi penyedia bukan berfaedah kehilangan peran, tetapi justru memperluasnya.

Dalam proses itu, pemahaman saya tentang pembimbing nan “digugu” juga berubah. “Digugu” tidak lagi berfaedah segala ucapan pembimbing kudu diterima tanpa kritik. Justru sebaliknya, pembimbing nan “digugu” adalah nan mendorong siswa untuk berpikir kritis, bertanya, apalagi berbeda pendapat secara sehat. Pernah suatu ketika di kelas, seorang siswa bertanya, “Pak, ini gunanya apa di kehidupan nyata?”. Pertanyaan sederhana, tetapi sering kali dianggap mengganggu alur pembelajaran. Saya bisa saja menjawab singkat lampau melanjutkan materi.

Namun, saya memilih berakhir sejenak dan membujuk diskusi, suasana kelas berubah. Dari nan semula satu arah menjadi ruang dialog. Di situlah kepercayaan tumbuh, bukan lantaran pembimbing selalu benar, tetapi lantaran dia memberi ruang untuk berpikir. Ketika pembimbing bisa menunjukkan kejujuran intelektual, keterbukaan, dan kerendahan hati untuk terus belajar, di situlah dia betul-betul “digugu” dalam makna nan lebih substansial.

Begitu pula dengan makna “ditiru”. Saya mulai sadar bahwa siswa tidak betul-betul meniru apa nan saya katakan, tetapi apa nan saya lakukan. Mereka menyerap nilai-nilai nan ditunjukkan dalam keseharian. Cara pembimbing menghadapi masalah, merespons perbedaan, dan memperlakukan orang lain menjadi pelajaran hidup nan jauh lebih membekas dibandingkan sekadar teori di buku.

Dokumen Pribadi (2025) Kegiatan melakukan wawancara dalam pembuatan laporan penelitian sederhana

Dalam satu peristiwa, ada siswa nan terlambat masuk kelas. Dulu saya mungkin langsung menegur dengan nada tinggi. Namun hari itu saya memilih bertanya lebih dulu mencari penyebab, “Ada apa hari ini?”. Sebuah pertanyaan sederhana nan membuka ruang cerita.

Dari situ terungkap bahwa siswa tersebut kudu membantu orang tuanya terlebih dulu sebelum berangkat sekolah. Guru tetap menegakkan patokan tentang kedisiplinan, tetapi tidak menutup mata terhadap situasi nan dihadapi siswa. Teguran tetap diberikan, namun disertai pemahaman dan pendekatan nan manusiawi.

Dalam momen seperti ini, siswa tidak hanya belajar tentang patokan waktu, tetapi juga tentang nilai nan lebih dalam: bahwa disiplin itu penting, namun empati dan keahlian memahami kondisi orang lain adalah bagian dari kedewasaan. Dan justru dari pengalaman seperti inilah, keteladanan pembimbing betul-betul terasa, bukan hanya dilihat tetapi dirasakan. Beberapa waktu kemudian, saya memandang siswa lain mulai memperlakukan temannya dengan lebih empati. Dari situ saya menyadari: sikap mini nan kita tunjukkan bisa menjadi pelajaran besar bagi mereka.

Ada kalanya pula pembimbing melakukan kesalahan di kelas, misalnya salah menuliskan sesuatu di papan tulis alias kurang tepat menjelaskan suatu konsep. Hal seperti ini sangat manusiawi, tetapi sering kali dihindari alias ditutupi lantaran cemas dianggap kurang kompeten.

Namun, justru ketika pembimbing dengan jujur mengatakan, “Tadi Bapak keliru, mari kita perbaiki bersama,” terjadi momen belajar nan lebih bermakna. Guru tidak hanya memperbaiki materi, tetapi juga menunjukkan sikap berani mengakui kesalahan. Ia memberi contoh bahwa memahami sesuatu tidak selalu langsung sempurna, dan bahwa proses belajar sering kali terjadi kekeliruan nan kemudian diperbaiki.

Dari situ, saya percaya bahwa siswa belajar sesuatu nan jauh lebih krusial dari sekadar isi pelajaran. Mereka belajar bahwa tidak apa-apa jika salah selama mau memperbaiki. Mereka belajar bahwa kejujuran lebih berbobot daripada terlihat selalu benar, dan bahwa belajar adalah perjalanan, bukan hasil instan. Keteladanan seperti inilah nan diam-diam membentuk langkah berpikir dan sikap siswa dalam jangka panjang. Keteladanan tidak lagi berkarakter simbolik, melainkan nyata dan kontekstual.

Dokumen Pribadi (2025) Kegiatan pengarahan melakukan observasi di Edotel sekolah

Saya juga mulai menerima bahwa pembimbing transformasional berfaedah menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ada banyak momen ketika saya merasa belum cukup tahu alias apalagi tertinggal. Saya pernah mencoba metode baru nan justru tidak melangkah sesuai rencana. Kelas menjadi kurang efektif, dan saya merasa gagal. Tetapi dari situ saya belajar untuk merefleksikan diri, memperbaiki, dan mencoba lagi. Proses itu mengajarkan saya bahwa bertumbuh sering kali tidak nyaman, tetapi selalu bermakna.

Di tengah perjalanan itu, saya menemukan bahwa perihal nan paling berarti bukan hanya soal materi alias capaian akademik, tetapi relasi nan terbangun dengan siswa. Saya pernah mengalami satu momen nan susah saya lupakan: seorang siswa nan biasanya pendiam tiba-tiba menangis setelah pelajaran selesai.

Ia berbicara pelan bahwa selama ini dia merasa tidak pernah cukup baik, apalagi di rumahnya sendiri. Saat itu saya tidak memberikan nasihat panjang, saya hanya mendengarkan. Tetapi beberapa minggu kemudian, dia mulai lebih berani berbincang di kelas. Dari situ saya sadar, terkadang nan dibutuhkan siswa bukanlah jawaban, melainkan kehadiran untuk mendengarkan.

Di kesempatan lain, saya pernah menerima pesan singkat dari seorang alumnus. Ia tidak membicarakan nilai alias materi pelajaran, tetapi menulis, “Terima kasih lantaran dulu tidak pernah mempermalukan saya saat saya salah.” Kalimat sederhana itu justru membikin saya terdiam cukup lama. Saya baru menyadari bahwa hal-hal mini nan sering kita anggap biasa, rupanya bisa menjadi pengalaman nan sangat berfaedah bagi mereka.

Pada akhirnya, saya sampai pada satu konklusi sederhana: menjadi pembimbing nan digugu dan ditiru bukan tentang mempertahankan gambaran lama, tetapi tentang keberanian untuk terus berubah. Dunia bakal terus bergerak, teknologi bakal terus berkembang, tetapi kebutuhan bakal sosok nan memberi arah, nilai, dan inspirasi tidak bakal pernah hilang.

Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari “digugu dan ditiru” hari ini, ialah bukan lagi tentang tuntutan posisi alias tanggungjawab nan melekat pada profesi, melainkan tentang proses nan terus saya jalani untuk menjadi pribadi nan layak dipercaya dan dicontoh. Bukan lantaran saya selalu betul alias tanpa kekurangan, tetapi lantaran saya berupaya jujur, konsisten, dan terbuka untuk belajar dari setiap pengalaman, baik keberhasilan maupun kesalahan.

Ketika siswa memandang upaya itu secara nyata dalam keseharian, kepercayaan dan keteladanan tidak perlu diminta alias dipaksakan; keduanya tumbuh secara alami, lahir dari kesadaran bahwa nan mereka lihat bukan sekadar seorang guru, tetapi seorang manusia nan terus berproses menjadi lebih baik dan bermakna.

Sehingga transformasi bukan lagi pilihan bagi saya, melainkan sebuah keniscayaan. Dan dalam proses itu, saya percaya, selama mau terus belajar dan bertumbuh, selalu ada kesempatan untuk tetap relevan dan tetap berarti.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan