Evaluasi Mudik Lebaran, Area Penyangga Pelabuhan-Perbaikan Jalan Disorot

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta -

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyampaikan sejumlah pertimbangan dalam penyelenggaraan mudik Lebaran 2026. Kepadatan pelabuhan penyeberangan hingga prasarana jalan menjelang periode mudik Lebaran dinilai tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah.

Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Hamka B Kady mengapresiasi atas keahlian pemerintah dan seluruh pihak nan terlibat, mulai dari Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Basarnas, BMKG hingga Korlantas Polri. Ia menilai penyelenggaraan mudik tahun ini menunjukkan hasil nan baik, terutama dari sisi penurunan nomor kecelakaan.

"Tidak ada kata lain selain berterima kasih dan berterima kasih. Hasilnya terlihat jelas, nomor kecelakaan menurun. Ini capaian nan patut diapresiasi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendati begitu, Hamka menilai keberhasilan tersebut tidak boleh membikin pemerintah lengah. Ia mengingatkan adanya persoalan berulang nan tetap terjadi, khususnya mengenai kepadatan di pelabuhan penyeberangan seperti Gilimanuk, Ketapang, hingga Merak.

Menurutnya, salah satu akar persoalan adalah belum optimalnya penyediaan buffer zone alias tempat penampungan kendaraan (buffer parking) sebelum memasuki pelabuhan.

"Jangan sampai jalan raya dijadikan tempat penampungan kendaraan. Pelabuhan penyeberangan itu kudu didukung buffer zone nan memadai agar tidak mengganggu arus lampau lintas umum," tambah ia.

Hamka meminta Kementerian Perhubungan untuk segera melakukan pertimbangan menyeluruh terhadap tata kelola pelabuhan penyeberangan, termasuk kejelasan kewenangan pengelolaan antara direktorat terkait.

Selain itu, dia menyoroti pentingnya perencanaan prasarana jalan menjelang periode mudik. Hamka menekankan agar perbaikan jalan tidak dilakukan mendekati hari raya lantaran berpotensi mengganggu arus lampau lintas dan strategi rekayasa lampau lintas nan telah disiapkan.

"Perbaikan jalan kudu dilakukan jauh hari sebelum masa mudik. Jangan mendekati hari raya, lantaran itu justru menghalang pergerakan masyarakat," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hamka juga menyinggung perlunya peningkatan sarana pendukung keselamatan lampau lintas, misalnya pembatas jalan dengan lampu penerangan untuk mendukung rekayasa lampau lintas di malam hari.

Ia menegaskan bahwa setiap strategi nan diterapkan, termasuk contra flow dan pengaturan arus, pasti mempunyai risiko. Oleh lantaran itu, diperlukan langkah mitigasi nan maksimal untuk meminimalisir potensi kecelakaan.

Hamka kembali mengapresiasi kepada seluruh pihak nan telah bekerja keras dalam mengawal arus mudik, termasuk Basarnas dan BMKG nan dinilai sigap dalam memberikan info dan respons terhadap kondisi lapangan.

Meski nomor kecelakaan menurun, Hamka mengingatkan perihal tersebut bukan satu-satunya parameter keberhasilan. Ia mendorong pertimbangan nan lebih komprehensif agar penyelenggaraan mudik ke depan semakin baik.

"Ini kudu kita jadikan bahan pertimbangan bersama. Supaya ke depan kita tidak lagi disibukkan dengan persoalan nan sebenarnya bisa diantisipasi lebih awal," katanya.

(rea/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance