Dubes UEA: Perang di Iran Bukan Konflik Agama

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Abdulla Salem AlDhaheri. Foto: Andreas Gerry Tuwo/kumparan

Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri, menyebut narasi nan menyatakan serangan Iran ke negara tetangga di Timur Tengah sebagai bentrok kepercayaan tidak tepat.

Sebelum gencatan senjata, Iran menyerang sejumlah negara tetangganya usai diserang terlebih dulu oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu. UEA menjadi salah satu sasaran.

Pemerintah Iran mengatakan serangan mereka menargetkan pangkalan militer AS di beberapa negara Teluk.

Menurut AlDhaheri, terdapat pihak-pihak di Iran nan mencoba membingkai bentrok nan terjadi di Timur Tengah sebagai perang agama. Dia menekankan perihal itu tidak tepat.

“Oleh lantaran itu, izinkan saya menegaskan satu perihal dengan sangat jelas, ini bukan bentrok agama,” ujar AlDhaheri di kediamannya di Jakarta, Rabu (8/4).

“Upaya untuk membingkai bentrok ini sebagai perang kepercayaan adalah menyesatkan dan tidak mencerminkan realitas nan terjadi. Ini adalah persoalan keamanan, kedaulatan, dan norma internasional, bukan agama,” sambung dia.

AlDhaheri kemudian menjelaskan bahwa serangan Iran kebanyakan mengarah ke negara nan tidak memulai konflik. Hanya sedikit nan menargetkan Israel.

“Statistik terbaru menunjukkan bahwa sekitar 85% rudal dan drone Iran diluncurkan ke arah negara-negara GCC dan Yordania, sementara hanya sekitar 15% nan menargetkan Israel,” ucap dia.

“Berdasarkan realitas ini, saya membujuk seluruh negara di bumi Islam, termasuk Republik Indonesia dan rakyatnya nan ramah, untuk menilai situasi di Timur Tengah secara seimbang, tanpa dipengaruhi oleh narasi emosional nan bertentangan dengan fakta,” ujarnya.

Menambahkan pernyataan AlDhaheri, Dubes Bahrain untuk Indonesia, Ahmed Abdulla Alhajeri, mengungkap serangan Iran tidak sepenuhnya menargetkan sasaran militer. Ada serangan Iran nan mengenai akomodasi sipil.

“Agresi Iran terhadap negara-negara GCC dan Kerajaan Hashemite Yordania tidak hanya menargetkan letak operasi militer nan tidak aktif, tetapi juga prasarana sipil vital dengan lebih dari seribu drone dan ratusan rudal. Ini termasuk rumah, hotel, pusat perbelanjaan, pelabuhan, bandara, akomodasi desalinasi air dan energi, serta misi diplomatik dan konsuler,” ucap Alhajeri.

“Agresi ini mengakibatkan korban jiwa di negara-negara GCC dan Kerajaan Hashemite Yordania, ratusan orang terluka dan cedera, serta menyebabkan kerusakan material dan struktural nan signifikan pada akomodasi umum,” tegas dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan