Dosen Unair Temukan Mikroplastik di Urine hingga Air Ketuban di Gresik!

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi mikroplastik di pantai. Foto: Shutterstock

Penelitian terbaru dari Universitas Airlangga kembali membuka mata kita soal sungguh dekatnya mikroplastik dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya ditemukan pada pekerja pemilah sampah, tetapi juga pada urine, darah, hingga air ketuban ibu hamil, Moms!

Temuan ini tentu memunculkan kekhawatiran baru, terutama bagi para ibu nan sedang alias berencana hamil. Meski, mengutip laman Unair.ac.id, perlu digarisbawahi bahwa penelitian ini dilakukan di TPA Ngitik, Bawean, dan Wringinanom, di Gresik.

Sampel nan digunakan dalam penelitian ini adalah para ibu petugas TPA, sehingga hasilnya memang tidak bisa digeneralisir untuk semua kondisi di Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Lestari Sudaryanti, dr., MKes, pengajar Fakultas Kedokteran Unair.

Semua Sampel Air Ketuban Mengandung Mikroplastik

Ilustrasi ibu mengandung buang air mini alias pecah ketuban. Foto: Shutter Stock

Dalam penelitian kedua nan konsentrasi pada ibu hamil, Dr Lestari dan tim mengambil sekitar 48 sampel air ketuban, dan hasilnya mengejutkan—seluruhnya positif mengandung mikroplastik.

Mikroplastik ini juga ditemukan dalam urine dan darah, dengan jumlah partikel nan berbeda-beda. Pemeriksaan dilakukan menggunakan mikroskop untuk menghitung partikel per mililiter.

Ada Logam Berat dan Senyawa Kimia nan Ikut Menempel

Analisis awal menunjukkan bahwa jenis mikroplastik nan paling banyak ditemukan berasal dari golongan phthalates, bahan kimia nan biasa ada pada plastik lentur dan plastik sekali pakai.

Tak hanya itu, sejumlah senyawa lain juga terdeteksi, seperti:

  • naphthalene

  • fluorine

  • pyrene

  • styrene

Serta logam berat seperti:

  • kadmium (Cd)

  • timbal (Pb)

  • krom (Cr)

  • nikel (Ni)

Logam berat ini bisa ikut masuk ke tubuh lantaran sering menempel pada plastik sebagai stabilisator.

Bagaimana Mikroplastik Bisa Masuk ke Tubuh Ibu dan Janin?

Dr Lestari menjelaskan bahwa mikroplastik dapat masuk melalui:

  • inhalasi (terhirup),

  • oral (tertelan melalui makanan/minuman),

  • kontak kulit.

Dalam tubuh, mikroplastik bisa:

  • memicu stres oksidatif dan inflamasi,

  • memengaruhi metabolisme dan hormon,

  • bahkan berpotensi mengenai penyakit nan dipicu hormon estrogen seperti PCOS.

Pada sistem pernapasan, mikroplastik dapat menumpuk di alveoli dan memicu gangguan pernapasan seperti PPOK. Sebagian riset juga menunjukkan bahwa partikel ini bisa menembus sawar otak.

Temuan pada pekerja pemilah sampah juga menunjukkan tingginya nomor obesitas dan gizi lebih, nan diduga berangkaian dengan akumulasi mikroplastik nan memengaruhi metabolisme.

Mikroplastik Bisa “Bepergian” ke Banyak Organ

Melalui darah, mikroplastik bisa beredar ke beragam organ, termasuk otak. Partikel nan ditemukan punya corak beragam: fiber, filament, hingga microbeads—yang biasa ditemukan pada produk skincare seperti sabun pembersih wajah.

Selain dari aktivitas manusia, mikroplastik tersebar melalui proses alam:

  • ikut terbawa kondensasi di awan,

  • turun berbareng hujan,

  • diserap tanaman,

  • masuk rantai makanan lewat plankton dan ikan.

Apa Dampaknya ke Bayi dalam Kandungan?

Ilustrasi janin di dalam ketuban. Foto: Shutter Stock

Karena janin menelan air ketuban selama tumbuh di rahim, keberadaan mikroplastik tentu menimbulkan kekhawatiran.

Meskipun sebagian besar berat badan bayi dalam penelitian ini tetap berada pada kategori normal, ditemukan juga beberapa kasus berat badan lahir rendah. Namun, Dr Lestari menegaskan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui akibat spesifiknya pada perkembangan janin.

Bagaimana Bisa Mengurangi Paparan Mikroplastik?

Walau susah menghindari plastik sepenuhnya, ada beberapa langkah nan bisa membantu meminimalkan dampaknya:

1. Konsumsi Makanan Kaya Serat dan Antioksidan

Antioksidan membantu melawan stres oksidatif nan dipicu oleh mikroplastik. Buah-buahan, sayuran berwarna, kacang-kacangan, hingga teh hijau bisa menjadi pilihan.

2. Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Botol minum, kantong belanja, dan wadah makanan bisa diganti dengan bahan nan lebih kondusif seperti stainless steel alias kaca.

3. Perhatikan Produk Skincare

Hindari produk nan tetap mengandung microbeads, terutama pada exfoliator alias pembersih wajah.

4. Gunakan Masker dan APD jika Tinggal alias Bekerja di Area Berisiko

Terutama bagi pekerja di TPA alias lingkungan dengan polusi tinggi.

5. Rutin Kontrol Kesehatan, Terutama saat Hamil

Paparan jangka panjang bisa memengaruhi metabolisme. Pemantauan kesehatan sangat penting, terutama bagi ibu nan tinggal alias bekerja di lingkungan penuh polusi plastik.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan