Dipolisikan GAMKI, JK Bantah Pernyataannya di UGM Nista Ajaran Kristen

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla melalui ahli bicaranya Husain Abdullah membantah telah menistakan aliran Kristen sebagaimana laporan polisi nan dibuat Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) dan sejumlah organisasi lainnya.

DPP GAMKI berbareng sejumlah lembaga Kristen dan organisasi kemasyarakatan lain itu menilai pernyataan JK dalam pidato di UGM beberapa waktu lampau nan menyinggung bentrok Poso dan Ambon tersebut menuai polemik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Husain meluruskan postingan video viral nan tersebar di media sosial dan menurutnya kehilangan konteks. Video dimaksud berisi pernyataan JK nan menyebut kedua belah pihak dalam bentrok Poso dan Ambon dengan istilah 'mati syahid'.

"Setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting). Kami membantah dengan tegas tuduhan itu," ujar Husain saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis, Minggu (12/4) malam.

Husain menjelaskan pernyataan JK nan disampaikan saat berpidato di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (5/3), menegaskan tidak ada kepercayaan di bumi nan mengajarkan umatnya untuk saling membunuh.

Husain lalu menerangkan kala itu JK sedang menjelaskan kiprah saat turut andil dalam mendamaikan bentrok Poso dan Ambon saat pergantian dasawarsa 1990an ke 2000an itu.

"JK menggambarkan usahanya mendamaikan bentrok Poso dan Ambon kepada civitas academica UGM. Di mana JK terlebih dulu meluruskan kepercayaan kedua golongan nan bertikai, Islam dan Kristen, bahwa mereka telah bertindak keliru menggunakan semboyan kepercayaan sebagai argumen pembenar nan menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak, dan bentrok susah dihentikan," jelas dia.

Saat bentrok terjadi, terang Husain, kedua golongan saling menyerukan 'perang suci' dan menyatakan bahwa membunuh pihak musuh alias meninggal dalam pertempuran adalah masuk surga.

Husain menegaskan perihal tersebut merupakan kebenaran sejarah.

"Pandangan keliru kedua pihak inilah nan terlebih dulu diluruskan Pak JK bahwa tidak ada satu pun kepercayaan nan membolehkan untuk saling membunuh. Ini disampaikan kepada para panglima perangnya saat itu," tuturnya.

Husain mengatakan kedua pihak nan bertikai tersebut sudah melampaui pemisah kemanusiaan, membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua. Perbuatan itu jelas melanggar nilai-nilai cinta kasih.

Husain melanjutkan bentrok Poso dan Ambon nan terjadi 27 tahun lampau sukses didamaikan oleh JK selaku mediator, melalui Perundingan Malino I untuk Poso tahun 2001 dan Perundingan Malino II untuk Konflik Ambon tahun 2002.

Saat itu, katanya, JK nan menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) melibatkan tokoh kepercayaan Islam dan Kristen, panglima lapangan kedua pihak nan bertikai, tokoh masyarakat dari kedua pihak, dan pemerintah untuk bermediasi.

"Itulah kenapa Pak JK kudu meluruskan pemahaman sesat mereka. Fakta sejarah ini dapat dikonfirmasi kepada tokoh-tokoh perundingan tenteram baik untuk Poso maupun Ambon nan tetap hidup," katanya.

Sebelumnya, GAMKI berbareng Dewan Pakar Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Gerakan Perjuangan Masyrakat Pluralisme, DPP Si Pitung, hingga DPP Horas Bangso Batak melaporkan JK ke pihak kepolisian lantaran mempersoalkan pernyataan nan berkepentingan mengenai bentrok Poso dan Ambon.

Dalam keterangannya, DPP GAMKI mengutip pernyataan JK nan dinilai kontroversial itu. Pernyataan itu menyinggung bentrok di Poso dan Ambon pada awal 2000-an. Mereka mempermasalahkan soal frasa 'syahid' nan diungkap JK mengenai bentrok nan menyinggung agama, termasuk di Poso dan Ambon.

Ketua Umum DPP GAMKI Sahat Sinurat menyatakan mereka juga mengecam keras pernyataan JK nan dinilai menyakiti hati umat Kristen dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Sahat menyatakan kepercayaan Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh orang berbeda kepercayaan maka bakal masuk surga. Justru, sambungnya, gama Kristen mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia apalagi musuh sekalipun.

Konflik Poso, Sulawesi Tengah, terjadi kurun waktu sekitar 1998-2001. Kerusuhan komunal itu kerap dinilai sebagai bentrok bernuansa agama. Namun akar masalahnya disebutkan mengenai ketimpangan ekonomi, persaingan politik lokal, serta akibat program transmigrasi nan mengubah demografi wilayah tersebut.

Pada 2001, JK nan tetap menjabat Menko Kesra dalam kabinet kepresidenan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri memimpin proses mediasi di Malino, Sulawesi Selatan. JK nan juga tokoh Sulawesi itu kemudian sukses mendorong Deklarasi Malino I setelah mengumpulkan tokoh Islam dan Kristen nan berkonflik untuk bermufakat berdamai.

Sementara itu bentrok Ambon merupakan kerusuhan komunal nan bermulai dari perselisihan perseorangan kemudian sigap meluas dengan menjadi prahara bernuansa kepercayaan di provinsi Maluku kurun waktu sekitar 1999 hingga 2002.

JK nan kala itu menjabat Menko Kesra kemudian mengumpulkan tokoh Islam dan Kristen dari Ambon untuk mediasi di Malino. Hasilnya adalah kesepakatan perdamaian alias Deklarasi Malino II pada 12 Februari 2002.

(ryn/kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional