Perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran nan melibatkan Israel tidak hanya mengguncang geopolitik global, tapi juga isi kantong penduduk AS. Gejolak di Indeks Saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street memicu kenaikan biaya hidup harian, mulai dari kembang KPR (hipotek), angsuran mobil, hingga tagihan kartu kredit.
Berdasarkan info Freddie Mac, suku kembang KPR tetap tenor 30 tahun sempat melonjak selama lima minggu berturut-turut sejak perang dimulai. Pekan ini, angkanya dipatok di level 6,37%.
Padahal sebelum serangan campuran AS-Israel ke Iran pecah pada akhir Februari, kembang pinjaman tetap di nomor 5,98%. Angka ini turun di bawah 6% untuk pertama kalinya selama lebih dari tiga tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan ini terjadi lantaran penanammodal cemas ancaman inflasi akibat lonjakan nilai minyak bumi serta potensi peningkatan pengeluaran pemerintah untuk membiayai perang. Suku kembang KPR di AS biasanya mengikuti imbal hasil (yield) surat utang pemerintah (US Treasury) tenor 10 tahun.
"Investor sekarang mulai menyadari kemungkinan perang berkepanjangan dengan Iran dan dampaknya terhadap ekonomi," ujar Kepala Ekonom di LPL Financial Jeffrey Roach dikutip dari CNN, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, semakin lama pasokan minyak dunia terganggu, maka tekanan inflasi bakal semakin kuat. Hal ini memaksa bank sentral AS, The Fed, untuk menahan suku kembang tinggi lebih lama lagi.
Beli Rumah Lebih Mahal
Meski selisih kembang pinjaman kecil, rupanya berakibat pada isi dompet penduduk AS. Misalnya, untuk rumah seharga US$ 500.000 alias setara Rp 8,4 miliar (kurs Rp 16.900), pembeli nan mengambil KPR sekarang kudu bayar angsuran lebih mahal dibandingkan mereka nan membeli pada awal Februari lalu.
Jika dihitung selama masa pinjaman 30 tahun, pembeli hari ini kudu merogoh kocek tambahan hingga lebih dari US$ 36.000 alias Rp 608 juta hanya untuk bayar selisih bunga.
"Peminjam pasti tidak suka. Itu menambah jumlah nan signifikan pada angsuran bulanan mereka," kata Profesor Ekonomi di NYU Stern, Larry White.
Cicilan Mobil dan Kartu Kredit Naik
Tak hanya itu, penduduk AS nan mau mencicil mobil juga ikut terdampak. Kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah dapat berakibat pada suku kembang angsuran mobil.
Pasalnya, suku kembang angsuran mobil tenor lima tahun condong mengikuti imbal hasil obligasi jangka pendek. Imbal hasil surat utang AS tenor lima tahun dan dua tahun melonjak pada Maret dan memperkuat di level tertinggi sejak Agustus.
Suku kembang angsuran mobil tenor 5 tahun sekarang memperkuat di level tinggi sekitar 7%. Bagi penduduk AS nan mengambil pinjaman US$ 30.000 selama lima tahun dengan kembang 7%, itu berfaedah angsuran bulanan sekitar US$ 594. Kondisi ini kian menjepit lantaran di saat nan sama, nilai bensin melonjak dan nilai mobil sudah cukup mahal.
"Pembiayaan mobil bakal lebih mahal untuk waktu nan lebih lama. Membeli mobil baru jadi semakin susah terjangkau," ujar Profesor Ekonomi University of California Derek Stimel.
Selain itu, banyak suku bunga, seperti kembang kartu angsuran condong mengikuti suku kembang referensi The Fed. Bunga kartu angsuran tetap tinggi, meskipun The Fed telah memangkas suku kembang beberapa kali sepanjang 2024 dan 2025.
Perang AS dengan Iran tidak secara langsung mendorong kembang kartu tersebut lebih tinggi, tetapi mini kemungkinannya kembang itu bakal turun dalam waktu dekat. Para pelaku pasar telah menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku kembang oleh The Fed tahun ini.
"Jika The Fed mempertahankan suku kembang dan tidak memangkasnya, maka kembang kartu angsuran bakal tetap tinggi, sehingga mempersulit orang untuk bayar pembelian rutin seperti bahan makanan alias pengeluaran lain nan berhujung menjadi saldo kartu kredit," terang Stimel.
(rea/ara)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·