Jika Anda pencinta bumi mode, mungkin Anda sudah familier dengan nama Bev Tan. Ia adalah pembuat konten nan berfokus pada info dan edukasi mengenai tekstil Indonesia, seperti wastra (kain tradisional Nusantara), kebaya, dan busana tradisional lainnya.
Lewat foto dan video nan diunggah di IG miliknya, @itsbxtan, Bev menunjukkan gimana para wanita mengenakan kebaya dan kain di masa lalu. Selain itu, Bev juga mengunggah video-video informatif mengenai langkah reparasi baju nan rusak, teknik menjahit, hingga vlog nan mengabadikan proses menjahit siluet baju-baju tradisional, seperti kamisol.
Namun, wastra tidak muncul dalam ruang digital Bev saja. Di kesehariannya, Bev doyan mengenakan kebaya dan kain di beragam kesempatan. Dalam wawancara berbareng kumparanWOMAN pada Rabu (22/4), Bev mengatakan bahwa dia senang bereksperimen dengan pakaiannya.
“Awal mulanya, saya berpikir, ‘Oh, saya mau berpakaian seperti para wanita di era dulu’. Semakin lama, semakin sering pakai (kebaya, kamisol, dan kain), saya sudah terbiasa dan saya tidak merasa ribet memakainya,” ucap Bev lewat sambungan telepon.
Meski sudah mendalami bumi wastra Nusantara sejak 2023, kesukaan Bev tidak muncul tiba-tiba. Sejak masa sekolah, dia sudah tertarik dengan tekstil lantaran ini merupakan karya seni nan bisa dilihat dan disentuh langsung.
Selain itu, dia menjelaskan, minatnya dengan tekstil Indonesia dan jahit-menjahit juga muncul berkah rasa penasaran dengan langkah hidup orang-orang di era dahulu.
Banyak cerita masa lampau nan menarik untuk diulik, dipelajari, dan dipahami. Terlebih, di era itu, kebaya dan kain tradisional lainnya bisa menjadi penanda status sosial seseorang.
“Walaupun mungkin terlihatnya kita hanya mempelajari kain alias pakaian, kita bisa belajar banyak, seperti sejarah, pakem-pakem pakaian. Terkadang, jika kita memandang foto-foto dulu, kita bisa mengetahui status sosial seseorang. Di masa itu, busana punya makna nan sangat berbeda dengan sekarang,” jelas Bev.
Bagaimana dengan komitmen Bev dalam menjahit? Sebelum menyelami bumi wastra, Bev sudah jauh lebih dulu belajar menjahit. Dia mulai belajar pada 2013 dengan menggunakan mesin jahit manual. Dorongannya pun sama, rasa penasaran tentang kehidupan orang di era dulu.
“Jadi, awalnya saya memang selalu tertarik dengan gimana langkah orang dulu hidup; how they live their day-to-day. Nah, saya pengin tahu gimana mereka memperkuat hidup di era depresi alias era perang. Dulu, jika baju rusak, mereka kudu bisa membetulkannya sendiri. Dari sana, saya memandang ini sebagai perihal nan berfaedah dan menarik untuk dipelajari,” ucap Bev.
Ketertarikan ini sejalan dengan latar belakang pendidikan Sejarah Seni nan dia ambil di University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat.
Saat dia tetap berkuliah, dia terekspos dengan fashion-fashion vintage dari bumi Barat. Namun, dia mau kembali ke akarnya sebagai orang Indonesia dan mulai mencari tahu soal fesyen masa silam Tanah Air. Dari sanalah, dia mulai mengenal wastra.
Di 2019, dia akhirnya membeli kain pertamanya dari jenama Sejauh Mata Memandang. Meski begitu, kainnya sempat “menganggur” lantaran dia tidak tahu langkah mengikat kain batik nan benar. Barulah Bev mempelajari tata langkah memakai rok kain lewat YouTube, meskipun saat itu langkahnya sering kali kurang tepat.
Bev mengatakan, kala itu dia cukup sering ditegur soal pemakaian kainnya—baik dari langkah mengikat kain, arah lipatan rok kain, sampai perpaduan warnanya. Meski begitu, dia tak berakhir belajar dan memproduksi konten soal wastra. Menurutnya, ruang untuk belajar dan berkembang mengenai wastra tidak pernah berhenti.
“Itulah nan saya pelajari dari budaya. Karena kita terus-menerus belajar, kesalahan pasti bakal menjadi bagian dari prosesnya,” tegas Bev.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·