Buka-Bukaan, DBS Indonesia Ungkap Upaya Menjaga Kedaulatan Pangan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjaga kedaulatan pangan di tengah ketidakpastian dunia menjadi perihal nan krusial. Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kemenko Pangan, Widiastuti mengatakan bahwa ketahanan pangan mempunyai sejumlah tantangan seperti perubahan suasana nan memang cukup ekstrim, bentrok geopolitik nan belum mereda dan rantai pasok global.

"Pada beberapa perihal mungkin sudah ada perbaikan tapi nan beberapa pun tetap belum selesai dan berakibat langsung pada sektor pangan. Buktinya, info nilai pangan dunia nan menjadi semakin volatile, beban APBN semakin berat dan ketergantungan antar negara juga bisa menjadi semakin tinggi," ungkap Widiastuti dalam Coffee Morning "Securing Indonesia Food Sovereignty through Value Chain and Financing Amid Global Disruption" di Parle Senayan, Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Oleh lantaran itu, Widiastuti menegaskan kedaulatan pangan menjadi sangat penting. Menurutnya perihal inilah nan perlu Indonesia tindaklanjuti agar menjadi satu kebutuhan nyata.

"Karena kita tahu, ketika saat ini nan kita siapkan adalah gimana ketahanan pangan kita. Kemarin sudah ada di tahun 2025 swasembada pangan untuk beras sudah tercapai, tapi ini tidak hanya berakhir di swasembada berasnya saja. Tidak hanya berakhir di 2025 saja dengan kondisi nan ada geopolitik, kemudian suasana nan cukup ekstrim. Ini nan kudu kita sikapi," jelas Widiastuti.

Sementara itu, President Director of Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong menyoroti bahwa disrupsi dunia semakin menegaskan pentingnya memperkuat reliliensi rantai pasok. Menurut dia, membangun resiliensi terhadap guncangan di masa depan dapat dilakukan dengan diversifikasi sumber pasokan dan pasar bertujuan.

"Dinamika daya ini menciptakan tantangan logistik dan rantai pasok. Kenaikan nilai bahan bakar meningkatkan biaya transportasi, nan berakibat pada daya saing domestik maupun internasional. Volatilitas nilai tukar, khususnya depresiasi Rupiah saat ini, juga menambah kompleksitas kita dalam menavigasi masalah-masalah nan ada," ungkap Chu Chong.

Menurutnya, diversifikasi sumber pasokan dan pasar, serta support pembiayaan nan tepat, menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian tersebut. Dalam konteks ini, Bank DBS Indonesia memposisikan diri sebagai mitra tepercaya dalam mendukung transisi ESG melalui solusi pembiayaan berkepanjangan nan terintegrasi, menyediakan beragam solusi seperti supply chain financing dan structured trade financing untuk membantu pelaku upaya memperkuat ketahanan upaya sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.

"Keahlian DBS terletak pada navigasi kompleksitas pasar nan dinamis, dengan memberikan solusi nan disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan unik dan berkembang dari pengguna kami," ungkap dia.

Bank DBS pun telah diakui sebagai bank teraman di Asia selama 17 tahun berturut-turut. Selama kurun waktu tersebut, stabilitas senantiasa menjadi prioritas bagi Bank DBS Indonesia sekalipun bumi dilanda ketidakpastian.

Perkuat Sektor Pertanian

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Andi Nur Alamsyah menyatakan pemerintah sangat serius dalam swasembada pangan. Menurutnya itu bukan perihal nan dilakukan secara tiba-tiba, namun sesuatu nan sudah direncanakan dengan sejumlah langkah, seperti deregulasi banyak Peraturan Pemerintah dan juga Peraturan Presiden.

"Fondasi pertanian kita saat ini luar biasa baik, terutama untuk pupuk. Selain itu soal alokasi anggaran subsidi juga ada, sehingga petani kami pastikan aman," tegas Andi.

Di sisi lain, Andi juga tidak menampik adanya perubahan-perubahan demi keseimbangan baru, namun itu adalah Hal nan wajar dan itu justru dilakukan untuk menjaga konsumen dan juga petani agar lebih sejahtera.

"Kali ini pemerintahan nan luar biasa dalam mendorong pertahanan pangan kita dan itu solusinya permanen demi kebutuhan masyarakat," kata Andi.

Kepala Bidang Perkebunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aziz Hidayat menyebut kesiapan pupuk terasa manfaatnya pada sektor sawit, dengan meningkatnya produksi sawit hingga 7,2% pada 2025.

"Walaupun untuk pekebun sawit dan perusahaan sawit kan gak boleh subsidi. Tapi nan krusial berapapun harganya, ketersediaannya dijamin, pasti teman-teman pelaku sawit bakal beli pupuk," kata Aziz.

Dengan naiknya CPO dan CKPO, ekspor sawit juga naik dan berakibat pada setoran devisa nan juga naik. Menurut Aziz ini adalah perihal nan patut disyukuri, meski ke depan tetap kudu diperhitungkan dengan cermat.

"Tetap ada tantangan dan banyak masalah lain, tapi mudah-mudahan pemerintah lebih bijak untuk memperhatikan pelaku upaya sawit ini, baik perusahaan maupun pekebun. Karena kita patut berterima kasih hingga hari ini satu-satunya perusahaan alias investasi nan tetap tahan itu kelapa sawit," pungkas Aziz.

Executive Director, Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Ello Hanson menyepakati bahwa food, agri, plantation, perkebunan, dan pangan sangat resilient di semua era dan merupakan salah satu konsentrasi utama dalam portofolio DBS. Menurutnya, perihal itu disebabkan lantaran permintaan nan sangat besar dan juga populasi besar di Indonesia.

""Sektor ini mencakup seluruh rantai nilai, dari hulu hingga hilir alias farm to fork. Ini menunjukkan peran strategisnya, baik bagi Indonesia maupun dalam portofolio pembiayaan kami," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun tantangan tetap ada, sektor ini dinilai resilient dengan prospek jangka panjang nan kuat.

"Secara keseluruhan, portofolio kami tetap solid. Kami tidak mengambil langkah reaktif jangka pendek, tetapi konsentrasi pada pengelolaan akibat nan disiplin dan support berkepanjangan bagi nasabah," pungkas Ello.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News