Jakarta -
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengungkapkan industri gula nasional tengah menghadapi tekanan berat. Dony apalagi menyebut perusahaan gula pelat merah di bawah Sugar Co mencatat kerugian hingga Rp 680 miliar.
Kerugian tersebut dipicu oleh nilai gula nan tidak kompetitif serta derasnya arus impor gula, khususnya gula rafinasi. Hal ini dilaporkan Dony dalam rapat berbareng Komisi VI DPR RI.
"Tahun ini, Sugar Co membukukan rugi Rp 680 miliar akibat daripada nilai nan memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula nan tidak terkontrol. Karena itu, saya sebetulnya berharap, sejalan dengan banget nan diharapkan oleh Bapak Presiden Prabowo, bahwa sekali ini kita betul-betul serius menata ulang industri gula kita," ujar Dony dalam rapat tersebut di Kompleks DPR RI, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, pemerintah dan pelaku industri sebenarnya sudah melakukan beragam intervensi. Tahun lalu, misalnya, dilakukan penyerapan gula masyarakat dengan anggaran Rp 1,5 triliun. Namun langkah tersebut dinilai belum bisa memberikan akibat signifikan terhadap perbaikan industri.
"Dan saya dengan Pak Mentan sudah berkali-kali, sebetulnya tahun lampau kita juga melakukan, sebagai pemerintah, melakukan bantuan, kita melakukan subsidi ke dalam pasar untuk mengambil seluruh gula daripada masyarakat sebesar Rp 1,5 triliun. Tetapi itu juga tidak memberikan akibat nan signifikan," bebernya.
Dalam kesempatan itu, Dony juga menyampaikan rencana Danantara melakukan merger antara ID Food dan Sugar Co alias PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Nantinya, Sugar Co difokuskan sebagai perusahaan manufaktur berbasis pertanian, sementara ID Food berkedudukan sebagai perusahaan perdagangan.
"Kita mau melakukan proses konsolidasi dengan melakukan merger, penggabungan dari ID Food ke SGN. Tujuannya adalah SGN bakal konsentrasi menjadi manufacturer company, jadi bakal menjadi agriculture manufacture company untuk gula dan juga tanaman nan lainnya. Tetapi ID Food bakal konsentrasi bisnisnya menjadi trading company. Jadi memang ini sengaja kita lakukan sehingga mereka konsentrasi kepada core business-nya masing-masing," jelas Dony.
Dony menyebut konsolidasi itu ditargetkan rampung semester II tahun ini. Ia berambisi langkah ini dapat memperbaiki keahlian industri gula nasional.
"Konsolidasi Sugar Co dengan ID Food tahun ini bakal selesai. Insya Allah mudah-mudahan, dan semester kedua bakal selesai kita lakukan konsolidasi. Dengan demikian kita mempunyai satu holding pabrik gula nan menguasai 60% dari total market share nan ada di Indonesia," tutup Dony.
(ara/ara)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·