Bisnis Museum Tjong A Fie: Dari Rumah Filantrop Jadi Destinasi Wisata

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Tjong A Fie Mansion, Medan, Sumatera Utara, Selasa (14/4/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Di tengah kota Medan, berdiri sebuah gedung berarsitektur unik perpaduan Tionghoa, Melayu, dan Eropa nan tetap terjaga hingga kini. Area depannya nan dipenuhi tanaman hijau dan kembang berwarna-warni menghadirkan suasana sejuk.

Bangunan itu adalah Museum Tjong A Fie, rumah peninggalan seorang filantrop nan sekarang beralih bentuk menjadi destinasi wisata sejarah dengan nilai ekonomi. Dahulu, rumah ini merupakan kediaman Tjong A Fie, tokoh krusial dalam perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya Kota Medan pada masa kolonial.

Mirza, salah satu pemandu wisata di museum tersebut, menjelaskan gedung ini mulai dibangun pada 1895 dan rampung sekitar 1900. Ia juga menuturkan kreasi rumah mengusung nuansa Melayu Peranakan sebagai corak penghormatan terhadap Kesultanan Deli nan mempunyai hubungan dekat dengan Tjong A Fie.

“Dinuansakan nuansa Melayu lantaran untuk menghormati Kesultanan Deli. Kesultanan Deli sama Tjong A Fie itu adalah berkawan dekat dan sampai sekarang tetap menjalani hubungan keluarga,” kata Mirza kepada awak media di Tjong A Fie Mansion, Medan, Selasa (14/4).

Tjong A Fie Mansion, Medan, Sumatera Utara, Selasa (14/4/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Struktur gedung dirancang simetris, dengan total sekitar 40 ruang nan terdiri dari 25 bilik dan 15 ruangan. Area lantai atas dulunya digunakan sebagai tempat tinggal anak dan cucu keluarga, sementara bagian bawah diperuntukkan bagi para pekerja.

Di dalamnya, nuansa sejarah tetap terjaga kuat. Sejumlah furnitur tetap dipertahankan dalam kondisi asli, termasuk perabotan nan didatangkan langsung dari Eropa lebih dari satu abad lalu.

“(Sebagian furnitur) tetap original peninggalan dari Tjong A Fie, satu set dari Eropa. Masih asli, tetap original, sudah 100 tahun lebih,” ucap Mirza.

Tarif Rp 35.000 per Orang

Tjong A Fie Mansion, Medan, Sumatera Utara, Selasa (14/4/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Di kembali nilai historis tersebut, museum ini juga menjalankan kegunaan ekonomi. Mirza menyebutkan, tarif tiket masuk ditetapkan sebesar Rp 35.000 per orang, dengan jumlah kunjungan harian berkisar antara 50 hingga 100 orang. Arus kunjungan ini menjadi sumber utama pemasukan nan menjaga operasional museum tetap berjalan.

Selain mengandalkan penjualan tiket, museum ini juga memperoleh pemasukan tambahan dari penjualan cinderamata. Produk nan ditawarkan antara lain kartu pos, pembatas buku, hingga gantungan kunci dengan ilustrasi unik rumah Tjong A Fie, nan dipasarkan dalam kisaran nilai Rp 100.000 hingga Rp 300.000.

Meski demikian, pengelolaan gedung berhistoris ini tidak lepas dari tantangan, terutama tingginya biaya perawatan. “Jadi support pemerintah itu ya hanya seadanya. Jadi dihitung sama yayasan family saja,” lanjut Mirza.

Tjong A Fie Mansion, Medan, Sumatera Utara, Selasa (14/4/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Rumah ini juga tak luput dari akibat musibah banjir nan melanda sejumlah wilayah di Sumatera beberapa waktu lalu. Mirza mengatakan, air sempat masuk ke area gedung hingga mencapai ketinggian sekitar betis alias di atas mata kaki, menggenangi sebagian ruang di dalam museum nan berumur lebih dari satu abad tersebut.

Kondisi ini memaksa pengelola menutup sementara operasional museum selama kurang lebih satu pekan untuk melakukan pembersihan pembersihan pun dilakukan secara menyeluruh mulai dari lantai, furnitur, hingga area-area nan terdampak kelembapan.

“(Air banjir) sampai tembuslah ke belakang dan sebetis alias seatas mata kaki. (Ditutup) seminggu,” tutur Mirza.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan