Bantah Bali Overcapacity, Kemenpar Ungkap Tantangan Tarik Turis Australia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Wisatawan menikmati suasana saat berjamu di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (25/9/2023). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengungkap sejumlah tantangan utama Indonesia dalam menarik turis Australia di tengah persaingan destinasi regional nan semakin ketat. Meski demikian, pemerintah menegaskan Bali tetap menjadi destinasi favorit dan siap menjaga daya saing melalui peningkatan kualitas pariwisata.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan saat ini terdapat tiga tantangan utama nan sedang dibenahi pemerintah.

“Tantangan pertama adalah keterbatasan konektivitas udara dan nilai tiket internasional nan tetap tinggi. Kedua, persepsi terhadap kualitas dan kebersihan di sebagian destinasi. Ketiga, inkonsistensi standar jasa antar destinasi,” ujar Ayu Marthini kepada kumparan.

Pemerintah saat ini tengah menangani persoalan tersebut melalui kerjasama lintas sektor berbareng maskapai, pemerintah daerah, hingga pelaku industri pariwisata. Fokusnya bukan hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi meningkatkan kualitas wisata.

Ilustrasi visitor asing di Bali. Foto: Dok. Kemenparekraf

Menanggapi rumor kemacetan, sampah, keamanan, hingga overcapacity di Bali, Ayu Marthini menilai narasi tersebut perlu diluruskan.

“Bali bukan overcapacity, nan terjadi adalah over-concentration. Turis terlalu terkonsentrasi di area selatan, sementara Bali Utara, Timur, dan Barat tetap sangat lenggang dan siap menyerap lebih banyak kunjungan,” katanya.

Karena itu, Kemenpar menjalankan program 3B, ialah Bali Utara, Bali Barat, dan Banyuwangi, untuk mendorong pengedaran turis, agar lebih merata, sekaligus menjaga kualitas pengalaman berlibur.

Ia juga membujuk turis Australia menjelajahi sisi lain Bali nan dinilai tetap tenang, autentik, dan belum banyak tersentuh wisata massal.

“Bali nan sesungguhnya tetap ada. Kami mengundang turis untuk menjelajahinya dengan tetap menghormati budaya istiadat dan menjaga lingkungan,” kata Ayu Marthini.

Selain itu, program Bali and Beyond juga terus didorong, agar turis asing, termasuk dari Australia, mau melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, seperti Danau Toba, Belitung, Borobudur, Bromo, Lombok, Labuan Bajo, Wakatobi, Morotai, Likupang, Raja Ampat, hingga destinasi regeneratif, seperti Jakarta dan Kepulauan Riau.

Fokus pada Wisatawan Berkualitas

Wisatawan mancanegara bermain selancar di Pantai Kuta, Badung, Bali. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Ayu Marthini mengakui pasar Australia merupakan salah satu kontributor utama bagi sektor pariwisata Bali. Namun, pemerintah sekarang mengarahkan strategi baru nan menitikberatkan pada kualitas kunjungan, bukan sekadar volume turis.

“Kami mau turis Australia tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, serta menghargai budaya dan lingkungan Indonesia. Spending per kunjungan nan tinggi, jauh lebih berkepanjangan dibanding nomor kunjungan besar semata,” jelasnya.

Jika terjadi pergeseran pasar Australia, dampaknya tentu bisa dirasakan hotel, maskapai, hingga pelaku upaya wisata di Bali. Oleh lantaran itu, diversifikasi pasar dan peningkatan kualitas turis menjadi langkah penting.

Sementara itu, mengenai perubahan preferensi turis Australia nan mulai melirik destinasi lain seperti Jepang, Ayu Marthini menilai kejadian ini merupakan kombinasi tren musiman dan perubahan jangka panjang.

“Dalam jangka pendek ini musiman. Tapi dalam jangka panjang, ini pengingat bahwa preferensi turis makin kompleks dan berbasis pengalaman unik,” tuturnya.

Hal inilah nan membikin strategi pemasaran Indonesia sekarang diarahkan ke konsep experience-based tourism dan high-value tourism.

“Target kami bukan turis nan datang lantaran murah, tetapi nan datang lantaran Indonesia menawarkan hubungan autentik dengan budaya lokal, pengalaman alam nan tak tertandingi, dan perjalanan nan bermakna,” ujar Ayu Marthini.

Destinasi Prioritas untuk Pasar Australia

Wisatawan menikmati spot foto di Pulau Padar, Kamis (28/7). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Selain Bali, Kemenpar saat ini memprioritaskan promosi empat destinasi unggulan ke pasar Australia, ialah Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Mandalika di Lombok, Yogyakarta, dan Danau Toba.

Labuan Bajo diposisikan sebagai destinasi nature tourism dan premium experience melalui wisata Taman Nasional Komodo, serta sailing trip. Mandalika ditawarkan sebagai pengganti Bali dengan konsep serenity dan sport tourism.

Sementara Yogyakarta menonjolkan pengalaman budaya mendalam, serta Danau Toba nan menawarkan geopark dan heritage tourism dengan pemandangan alam.

Tak hanya itu, pemerintah juga saat ini mendorong produk wisata minat khusus, seperti marine tourism, wellness tourism, gastro tourism, seni budaya, hingga MICE (meeting, incentive, conference, and events).

“Diversifikasi ini krusial untuk memberi turis Australia lebih banyak pilihan, sekaligus mengurangi tekanan konsentrasi visitor di Bali secara berkelanjutan,” pungkas Ayu Marthini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan