Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali mengingatkan potensi kejadian El Nino di Indonesia. Dengan pengaruh El Nino, musim tandus di Indonesia tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan panjang.
Fenomena suasana ini diprediksi melanda RI pada semester II, berbarengan saat musim tandus tahun 2026. Dengan kesempatan 70-90% El Nino lemah hingga moderat terjadi.
Di sisi lain, BMKG mencatat, berasas jumlah Zona Musim (ZOM), sebanyak 73 ZOM alias 10,4% wilayah Indonesia saat ini mengalami Musim Kemarau.
Mengutip Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II April 2026 nan dirilis BMKG hari ini, Kamis (23/4/2026), wilayah nan sedang mengalami musim tandus meliputi sebagian mini Aceh, sebagian mini Sumatra Utara, sebagian mini Riau, sebagian Kep. Riau, sebagian mini Banten, sebagian mini Jawa Barat, sebagian mini Jawa Tengah, sebagian mini Bali, sebagian NTB, sebagian mini NTT, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, dan sebagian Maluku.
BMKG pun mengeluarkan peringatan awal kekeringan meteorologis nan berpotensi terjadi pada Dasarian III April 2026 di sejumlah kabupaten di Provinsi Aceh. Klasifikasi peringatan ini adalah Waspada. Sedangkan untuk pengelompokkan Siaga dan Awas belum ada peringatan awal oleh BMKG.
Di sisi lain, BMKG juga mengeluarkan peringatan awal potensi curah hujan tinggi pada Dasarian III April 2026.
Peringatan ini bertindak untuk:
- Waspada
Beberapa kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua Selatan - Siaga
Beberapa kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua Tengah. - Awas
Tidak ada peringatan.
Lantas, kenapa tetap ada hujan meski RI sudah musim kemarau?
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan, meski intensitas El Nino diprediksi tidak sekuat tahun 2015, 2019, dan 2023, dampaknya tetap perlu diwaspadai. Terutama lantaran beriringan dengan periode musim kemarau.
Tak hanya itu, dia juga menegaskan, musim tandus tidak berfaedah tanpa hujan sama sekali.
"Musim Kemarau dan El Nino itu dua kejadian nan terpisah. nan kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau, fase El Nino-nya sedang aktif. Kondisi inilah nan terjadi pada tahun 2015, 2019, 2023, serta diprediksi mulai tahun 2026 ini. BMKG bakal terus memantau agar prediksi ke depannya lebih akurat," katanya dalam keterangan di situs resmi, dikutip Kamis (23/4/2026).
"Kemarau tidak berfaedah tanpa hujan sama sekali, melainkan kondisi ketika curah hujan berada di bawah periode pemisah klimatologis," terang Faisal.
Potensi Hujan Sepekan Periode 21-27 April 2026
Sementara itu, BMKG mengingatkan waspada hujan tidak merata di beragam wilayah Indonesia saat transisi musim terjadi.
BMKG mencatat, terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 16-19 April 2026.
Kondisi tersebut dipicu aktivitas sejumlah gelombang atmosfer, seperti Rossby Ekuatorial dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) di beberapa wilayah. Bibit Siklon Tropis 92S di Samudra Hindia bagian barat daya Lampung. Juga, sirkulasi siklonik di perairan barat Aceh, Kalimantan Barat, Laut Banda - Laut Arafuru, dan perairan utara Papua memicu terbentuknya wilayah pertemuan angin, konvergensi, dan konfluensi nan meningkatkan kesempatan pertumbuhan awan hujan, baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di sekitar wilayah nan terdampak pola angin tersebut.
Selain itu, pemanasan permukaan nan cukup hangat pada siang hari serta kelembapan udara nan tetap cukup basah di lapisan bawah turut mendukung terbentuknya awan-awan konvektif nan berpotensi menimbulkan hujan.
BMKG memprediksi, hujan tetap bakal terjadi selama sepekan hingga 27 April 2026 akibat pengaruh dinamika atmosfer lainnya. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) berada di fase 8, namun filter spasialnya diprediksi melewati wilayah Aceh. Gelombang Kelvin diprakirakan aktif di Pulau Sumatra, Pulau Jawa bagian barat, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian selatan, dan Pulau Papua. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian selatan, dan Papua Selatan.
"Berbagai dinamika atmosfer tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut," tulis BMKG.
Peringatan Dini BMKG Periode 24-27 April 2026
Disebutkan, cuaca di Indonesia umumnya didominasi kondisi hujan ringan hingga hujan sedang.
Namun, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat nan terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat nan dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi di:
- Siaga (hujan lebat-sangat lebat):
Papua Pegunungan
- Angin Kencang
Nusa Tenggara Timur.
Sebelumnya BMKG memperingatkan potensi siaga hujan lebat-sangat lebat di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan pada periode 21-23 April 2026.
Foto: Persentase Wilayah nan Memasuki Musim Kemarau 2026 dalam Rilis BMKG Hasil Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II April 2026 pada Kamis (23/4/2026). (Dok. BMKG)
(dce/dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·