119 Personel Pasmar TNI Diperiksa Soal Peluru Nyasar Anak SMP Gresik

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Komandan Pasukan Marinir (Pasmar) 2 Mayjen TNI (Mar) Oni Junianto menegaskan pihaknya terus melakukan investigasi insiden peluru nyasar nan mengenai dua siswa SMP di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Setidaknya sebanyak 119 personel tengah diperiksa.

Oni menyebut proses norma sekarang telah diserahkan sepenuhnya kepada Polisi Militer Angkatan Laut Komando Daerah AL (Pomal Kodaeral). Ia memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dilakukan secara transparan dan sesuai prosedur nan bertindak tanpa ada perihal nan ditutup-tutupi.

"Ya ini kan sekarang sudah diperiksa ya ada 119 nan kelak bakal bersambung itu terus diperiksa," kata Oni saat ditemui di Surabaya, Minggu (12/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain pemeriksaan internal, pihak Marinir juga bakal melakukan uji balistik untuk mendapatkan info teknis jeli mengenai daya jangkau amunisi.

Pasalnya amunisi nan ditembakkan saat latihan kala itu mempunyai kaliber 5,56 milimeter. Oni menyebut spesifikasi proyektil itu mempunyai jarak tembak efektif 400 meter, dan bakal melemah hingga 1.600 meter.

Sedangkan letak latihan tembak prajurit TNI AL di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya tersebut, dengan sekolah korban berjarak sekitar 2,3 kilometer.

"Kalau di speknya jarak efektif tembakan itu hanya 400 meter, ketika di lintasan hasil uji coba itu peluru ditembak lurus bakal jatuh di 1.600 dia bakal melemah dan jatuh," ucapnya.

Ia menyebut uji tembak ini krusial dilakukan untuk mencari tahu sejauh mana peluru itu bakal melesat, mengingat selama ini ribuan amunisi nan ditembakkan di letak nan sama diklaim tidak pernah mengalami hambatan serupa.

"Nanti bakal dilaksanakan bukan sekedar uji forensik tapi bakal uji senjata, sejauh mana tembakan ini bakal jatuh, sehingga betul ini tidak hanya menjawab sebagai kebenaran norma juga sebagai info teknis," ujarnya.

Selain pemeriksaan internal, pihak Marinir juga berencana melibatkan mahir dari PT Pindad untuk mendapatkan info teknis jeli mengenai daya jangkau amunisi.

"Nah, kelak info teknis juga dari Pindad juga kita minta ya untuk memperkuat uji tersebut sehingga kita tidak mengambil info nan asal-asalan betul-betul kelak jeli gitu," kata dia.

Soal lapangan tembak, Oni menjelaskan secara historis lahan tersebut pada awalnya merupakan area nan steril. Namun, seiring berjalannya waktu, pertumbuhan permukiman masyarakat di sekitar area militer tidak terhindarkan.

Pihaknya sekarang tengah mengevaluasi kepantasan aspek keamanan letak tersebut pascainsiden. Meski dia menyatakan lapangan tembak itu sudah berstandar internasional dan mempunyai tanggul setinggi delapan meter.

"Kita tidak diam, lantaran di belakang itu kan ada masyakat, walaupun di belakang kita ada tanggul dengan ketinggian delapan meter dan ada bukit," ujarnya.

Oni menegaskan komitmennya untuk terus mendalami potensi pelanggaran prosedur dalam kejadian tersebut. Ia memastikan tidak bakal menoleransi setiap kelalaian prajurit jika ditemukan adanya pelanggaran.

"Kita pun cari tahu adakah SOP nan terlanggar, sebagai ketua dari mereka, bahwa jika ada kesalahan SOP pun, salah aturan, kita bakal hukum," tegasnya.

Kondisi korban

Terkait kondisi korban, Oni menyatakan pihaknya telah bertanggung jawab atas biaya pengobatan dan pemberian santunan sejak awal kejadian. Mereka juga siap memberi kesempatan jika para korban berambisi menjadi personil TNI di masa depan.

Meski demikian, menanggapi adanya langkah gugatan alias tuntutan norma dari pihak family korban, Oni menegaskan tidak bakal menghalangi proses tersebut sebagai corak keterbukaan institusi.

"Kalau Budi Dewi (keluarga korban) tetap menuntut untuk proses norma pun kita persilakan tidak ada nan kita hambat alias kita tutup-tutupi ya. Tidak ada saling mengeklaim sendiri, tidak apa," pungkasnya.

Sebelumnya, dua siswa SMPN 33 Gresik, Jawa Timur, ialah Darrell Fausta Hamdani (14) dan Reinhart Okto Hanaya (15), menjadi korban peluru nyasar nan diduga berasal dari latihan tembak TNI AL Korps Marinir.

Peristiwa itu terjadi saat para korban berbareng para siswa lain sedang mengikuti aktivitas sosialisasi di dalam musala sekolah, 17 Desember 2025 sekitar pukul 10.00 WIB

Peluru tersebut diduga berasal dari latihan tembak prajurit TNI AL di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, nan jaraknya sekitar 2,3 kilometer dari sekolah.

Peluru itu menembus lengan kiri Darrell hingga mengenai tulang dan bersarang di bagian punggung tangan. Sementara itu, peluru lain juga mengenai Renheart dan bersarang di bagian punggung kanan bawah.

Kedua korban langsung dilarikan ke RS Siti Khodijah Sepanjang, Sidoarjo, untuk mendapatkan penanganan medis. Di rumah sakit, perwakilan TNI AL menemui pihak family dan membenarkan bahwa latihan tersebut diikuti empat batalyon, ialah Zeni, Angmor, POM, dan Taifib.

Pihak TNI AL sempat melakukan pendampingan. Namun kemudian pihak family korban justru mengaku mengalami serangkaian dugaan intimidasi.

Sejumlah upaya mediasi gagal. Keluarga korban Darrel kemudian melayangkan gugatan dengan rincian tukar rugi materiil Rp 300 juta dan tukar rugi immateriil Rp 1,5 miliar.

Mereka juga mengusulkan enam poin tuntutan, termasuk permohonan maaf resmi, agunan biaya pengobatan dan pemulihan psikologis, serta kompensasi jangka panjang. 

(frd/fea)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional