Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan kasus transplantasi hati di Indonesia umumnya disebabkan oleh infeksi, terutama hepatitis B dan C, nan berujung pada kerusakan organ hati.
Hal itu disampaikannya usai meninjau pengembangan transplantasi hati di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (10/4).
“Ya jadi kan ini transplantasi hepar. Transplantasi hepar itu terutama kasusnya sebabnya di negara kita kebanyakan lantaran infeksi. Infeksi itu lantaran jangkitan hepatitis C dan jangkitan hepatitis B nan menyebabkan kerusakan hepar. Maka faktor-faktor akibat nan bisa menyebabkan jangkitan hepar akibat hepatitis itu kudu dicegah,” ujar Dante.
Selain infeksi, dia menjelaskan sejumlah aspek lain nan juga berkontribusi terhadap kerusakan hati, seperti perilaku berisiko, konsumsi alkohol hingga gangguan metabolik.
“Misalnya hubungan seksual nan menular multipartner dan sebagainya itu mesti dicegah. Kemudian alkohol juga salah satu penyebab dari kerusakan liver. Nah kebiasaan minum alkohol kebetulan jika kasus alkohol sih di tempat kita sedikit. Kemudian kelainan metabolik juga biasanya bisa menyebabkan perihal nan menyebabkan kerusakan liver,” jelas Dante.
Karena itu, pemerintah menekankan pentingnya pencegahan dengan menghindari aspek akibat agar kebutuhan transplantasi dapat ditekan.
“Jadi untuk donor dan untuk pasien-pasiennya tetap sehat maka kita harapkan maka kebiasaan-kebiasaan dan aspek akibat nan bisa menyebabkan kelainan hatinya bisa lebih dihindari,” tuturnya.
Tantangan Transplantasi Hati di RI
Dante memaparkan sejumlah tantangan dalam penyelenggaraan transplantasi hati di Indonesia. Salah satunya adalah tahap awal identifikasi pasien nan tepat untuk menjalani prosedur tersebut.
“Jadi tantangannya adalah soal sebenarnya ya prosesnya itu nan pertama identifikasi kasus. Identifikasi kasus kita sebagai learning curve kita pakai kasus-kasus nan tidak punya akibat dulu tapi memerlukan ini,” ujarnya.
Ia mencontohkan pasien nan ditangani saat ini merupakan penderita sirosis hati dengan kondisi tertentu nan tetap memungkinkan dilakukan transplantasi, meski mengalami komplikasi serius seperti perdarahan berulang.
“Nah pasien nan kita transplantasi sekarang ini itu adalah pasien nan punya sirosis hepatis, Child rendah. Child itu aspek akibat untuk untuk menilai prognosis. Prognosis itu kemungkinan meninggal alias kemungkinan menjadi tambah jelek. Tapi pasien ini berulang kali mengalami pendarahan. Mengalami pendarahan, dia muntah darah akibat penyakit liver-nya,” ungkap Dante.
Selain itu, tantangan lain terletak pada keahlian tenaga medis serta proses transfer pengetahuan dari mahir internasional ke master dalam negeri.
“Kemudian tantangan nan lainnya adalah soal skill dari dokternya. nan krusial adalah transfer manajemen pasien,” ujar Dante.
Ia menambahkan, perkembangan keahlian tim medis di RSUP Fatmawati menunjukkan kemajuan signifikan dalam penanganan pasien transplantasi.
“Pada transplantasi nan kedua dulu dari bilik operasi ke ICU 40 menit, sekarang hanya 5 menit. Sudah jadi learning curve-nya jalan jika gitu di pusat transplantasi organ Rumah Sakit Fatmawati. Ini lebih baik,” tutur Dante.
Tantangan berikutnya adalah perawatan pascaoperasi nan sangat menentukan keberhasilan transplantasi dalam jangka panjang.
“Tantangan ketiganya adalah post-transplantasi. Manajemen post-transplantasi ini menjadi krusial lantaran survival rate alias keberlangsungan hidup pasien pasca transplantasi ini ditentukan juga oleh gimana manajemen pengobatan pasca transplantasi nan baik,” ungkap dia.
Bakal Perluas Layanan Transplantasi
Pemerintah pun berencana memperluas jasa transplantasi ke sejumlah rumah sakit lain, baik milik pemerintah maupun swasta.
“Rumah sakit lain bakal kita kembangkan terutama rumah sakit-rumah sakit besar di bawah Kementerian Kesehatan untuk menjadi pusat-pusat transplantasi. Kita juga membuka kesempatan untuk rumah sakit swasta melakukan pusat-pusat transplantasi,” ujar Dante.
“Ada salah satu rumah sakit swasta di Jakarta nan sudah mengembangkan pusat transplantasi juga. Jadi itu beberapa tantangan nan ada di Indonesia,” lanjutnya.
Sementara mengenai pemulihan pendonor hati, prosesnya relatif cepat, meski tetap berjuntai pada kondisi masing-masing individu.
Pendonor umumnya sudah bisa keluar dari rumah sakit dalam waktu empat hari. Dalam satu bulan, hati sudah mulai bertumbuh. Tiga sampai empat bulan sudah bisa fully recover.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·