Studi: Pertengkaran Kakak Adik Ternyata Bisa Mempererat Hubungan saat Dewasa

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Ilustrasi anak bertengkar. Foto: Gatot Adri/Shutterstock

Pertengkaran antara kakak dan adik sering kali bikin orang tua pusing. Mulai dari rebutan mainan, saling mengejek, sampai adu argumen perihal sepele, semuanya bisa terasa melelahkan ya, Moms.

Tapi siapa sangka, di kembali bentrok tersebut, ada faedah krusial untuk perkembangan anak.

Sejumlah penelitian dalam bagian Psikologi Perkembangan menunjukkan bahwa hubungan saudara, termasuk bentrok di dalamnya, justru berkedudukan besar dalam membentuk keahlian sosial dan emosional anak.

Konflik nan “Sehat” Bisa Jadi Sarana Belajar

Peneliti dan Psikoloh asal Amerika, Laurie Kramer, dalam jurna berjudul Parental Responses to Sibling Conflict: The Effects of Development and Parent Gender, menjelaskan bahwa hubungan sehari-hari antar saudara, termasuk pertengkaran— bisa memberi anak kesempatan untuk belajar mengelola emosi, memahami perspektif pandang orang lain, serta membangun keahlian komunikasi.

Dengan kata lain, bentrok bukan hanya soal “siapa nan menang”, tapi juga proses belajar untuk menyelesaikan masalah.

Anak nan terbiasa menghadapi dan menyelesaikan bentrok dengan saudaranya condong lebih terampil dalam:

- Bernegosiasi

- Berempati

- Memperbaiki hubungan setelah berselisih

Kemampuan ini menjadi bekal krusial dalam menjalin relasi di luar keluarga, seperti dengan kawan alias pasangan di masa depan.

Bukan Seberapa Sering, Tapi Bagaimana Menyelesaikannya

Ilustrasi kakak dan adik sedang bertengkar. Foto: OMG_Studio/Shutterstock

Penelitian dari Society for Research in Child Development menekankan bahwa gelombang bentrok bukan aspek utama nan menentukan kualitas hubungan saudara.

Yang jauh lebih krusial adalah gimana bentrok tersebut dikelola.

Konflik nan diikuti dengan rekonsiliasi, seperti saling mengampuni alias mencari solusi bersama, justru dapat memperkuat ikatan emosional. Sebaliknya, bentrok nan berkarakter garang dan tidak pernah diselesaikan berisiko merusak hubungan dalam jangka panjang.

Hubungan Bisa Semakin Dekat Seiring Bertambah Usia

Temuan dari beragam studi longitudinal juga menunjukkan pola nan menarik, ialah bentrok antar kerabat condong tinggi di masa kanak-kanak dan remaja, tetapi menurun saat memasuki usia dewasa.

Sebaliknya, kedekatan emosional justru meningkat.

Artinya, meskipun dulu sering bertengkar, banyak kakak-adik nan pada akhirnya tumbuh menjadi lebih berkawan dan saling mendukung. Pengalaman tumbuh bersama, termasuk melewati konflik, bisa membentuk ikatan nan tidak mudah tergantikan.

Ya Moms, dalam jangka panjang, hubungan kerabat bisa menjadi salah satu sumber support emosional paling stabil dalam hidup seseorang.

Ilustrasi kakak dan adik sedang bertengkar. Foto: ANURAK PONGPATIMET/Shutterstock

Bahkan, penelitian oleh Mark E. Feinberg menemukan bahwa kualitas hubungan kerabat berangkaian dengan kesejahteraan psikologis dan keahlian membangun relasi nan sehat di masa dewasa.

Ini menjelaskan kenapa banyak orang tetap merasa dekat dengan kerabat mereka, meski dulu sering bentrok saat kecil.

Meski Begitu, Konflik Tetap Perlu Ada Batasannya

Meski bentrok bisa membawa manfaat, bukan berfaedah semua pertengkaran kudu dibiarkan.

Orang tua tetap perlu memperhatikan batasan. Konflik nan sudah mengarah pada kekerasan fisik, verbal nan merendahkan, alias membikin anak merasa takut perlu segera ditangani.

Peran orang tua bukan untuk selalu melerai, tetapi membantu anak belajar menyelesaikan bentrok dengan langkah nan sehat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan