Skizofrenia Pendidikan Kita: Di Kelas Jadi Malaikat, Di Jalan Jadi Serigala

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Ilustrasi anak SMA perempuan. Foto: Shutterstock

Di negeri ini, sekolah adalah gelembung kaca nan ajaib sekaligus tragis. Di dalam kelas, seorang pembimbing mungkin sedang berbusa-busa menjelaskan tentang kejujuran, kesopanan, dan cinta tanah air—sebuah khotbah moral nan disusun rapi dalam kurikulum demi mencetak apa nan sering kita sebut sebagai "generasi emas".

Di sana, papan tulis dihiasi kalimat-kalimat luhur, tembok ruangan berisi poster tentang nilai-nilai Pancasila, dan siswa diajarkan bahwa patokan adalah sesuatu nan absolut kudu dijunjung tinggi. Anak-anak diajarkan untuk mengantre dengan tertib, mengembalikan peralatan temuan, dan berbicara "maaf", "tolong", serta "terima kasih" dalam setiap kesempatan. Sekolah tampak seperti miniatur surga, tempat kebaikan tumbuh subur tanpa gangguan realitas nan keras.

Namun, tepat setelah bel pulang bersuara dan kaki-kaki mungil itu melintasi gerbang sekolah, gelembung kaca itu pecah berderai. Tanpa masa transisi nan cukup, mereka langsung disambut oleh kurikulum jalanan nan jauh lebih jujur, tajam, dan kadang kejam. Di perjalanan pulang, mata polos mereka menangkap pemandangan nan bertolak belakang dengan apa nan baru saja dipelajari.

Mereka memandang motor nan dengan santuy melaju di trotoar nan semestinya menjadi kewenangan pejalan kaki, memaksa orang tua maupun anak mini menyingkir ke pinggir selokan. Mereka menyaksikan sampah plastik alias puntung rokok nan melayang bebas dari kaca mobil mewah, seolah kebersihan hanya bertindak di laman sekolah nan dijaga petugas kebersihan.

Di lampu lampau lintas, mereka mendengar percakapan orang dewasa tentang langkah "menembak" SIM tanpa ikut ujian, gimana menyuap petugas agar tilang bisa dihapuskan, alias kisah sukses tetangga nan sigap kaya dengan langkah "licin" tapi tidak pernah tersentuh hukum.

Inilah nan disebut oleh para mahir pendidikan dan sosiolog sebagai Skizofrenia Pedagogis. Sebuah kondisi di mana kita secara sistematis mendidik anak-anak untuk menjadi penduduk negara nan ideal dalam teori, namun secara diam-diam alias tanpa sadar membiarkan mereka tumbuh menjadi penyintas nan culas, curang, dan acuh tak acuh dalam praktik sehari-hari. Kita sedang menanam bibit kembang di tanah nan kita sirami dengan racun, lampau bertanya-tanya kenapa kembang itu layu sebelum sempat mekar.

Arsitektur Peniruan nan Salah Arah

Filsafat Yunani Klasik punya istilah keren dan sangat relevan untuk menggambarkan kejadian ini: Mimesis. Menurut pandangan Plato dan Aristoteles, manusia pada dasarnya adalah makhluk peniru nan ulung. Kita belajar bukan hanya dari apa nan dibaca alias didengar, melainkan jauh lebih kuat dari apa nan kita lihat dan rasakan secara langsung. Bagi seorang anak, lingkungan adalah kitab teks nan paling nyata, dan perilaku orang dewasa adalah pembimbing nan paling berpengaruh.

Masalah besarnya adalah, peniruan nan terjadi di masyarakat kita saat ini mengarah ke jalur nan salah. Kita sedang membangun sebuah teater ketidakejujuran kolektif nan megah. Di satu sisi, kita memaksa anak didik menghafal ratusan ayat kebaikan, mendiskusikan cerita-cerita teladan, dan mengikuti upacara bendera dengan khidmat.

Namun di sisi lain, lingkungan sosial kita—mulai dari ruang tamu tempat orang tua mengeluh tapi ikut main curang, ruang rapat instansi nan penuh intrik, hingga ruang sidang pengadilan nan kadang terasa seperti pasar tawar-menawar—menampilkan tontonan nan isinya adalah antitesis dari semua aliran tersebut.

Ketika kurikulum jalanan lebih berisik, lebih meyakinkan, dan lebih "menguntungkan" daripada kurikulum sekolah, maka lambat laun kejujuran dan etika akhirnya hanya dianggap sebagai beban bagi mereka nan kurang "lincah" alias kurang beruntung. Anak-anak kita belajar bahwa menjadi jujur itu capek, lama, dan sering kali rugi, sedangkan menjadi licik itu enak, cepat, dan dihargai.

Kita tidak sedang mencetak ahli filsafat kritis nan berintegritas; kita sedang melatih aktor-aktor cilik nan jago berakting tentang moralitas di siang bolong saat berada di lingkungan formal, namun mahir menusuk dari belakang alias memotong antrean saat ada kesempatan di tempat nan tidak diawasi.

Lebih parahnya lagi, standar dobel ini menjadi norma. Orang tua mengajarkan anak untuk tidak berbohong, tapi dengan santuy mendusta pada tamu alias pemimpin di depan anaknya demi untung kecil. Pemimpin memproklamirkan antikorupsi, tapi kantong pribadinya terus menebal dari sumber nan tidak jelas.

Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan kompas moral nan rusak. Mereka tahu mana nan betul secara teori, tapi percaya bahwa melakukan nan salah adalah langkah memperkuat hidup nan wajar. Ini adalah tragedi terbesar dalam sejarah pendidikan bangsa kita.

Ketika Nafsu Memakai Jubah Profesor

Mari kita bedah lebih dalam kondisi jiwa bangsa ini menggunakan pisau kajian Plato nan tajam. Dalam tatanan jiwa nan ideal menurut filsuf besar itu, ada tiga komponen nan kudu bekerja selaras: rasio (Logos) sebagai pemimpin nan bijak, semangat (Thumos) sebagai pendukung nan setia dan berani, serta nafsu (Appetite) sebagai komponen dasar nan kudu dijaga agar tetap pada porsinya.

Keadilan baik dalam diri perseorangan maupun dalam sebuah bangsa terjadi ketika setiap komponen berfaedah sebagaimana mestinya: intelektual mencari kebenaran demi kebenaran itu sendiri, penguasa menjaga tatanan demi kesejahteraan rakyat, dan pedagang alias pekerja menggerakkan ekonomi dengan langkah nan setara dan jujur.

Namun, nan kita saksikan hari ini adalah sebuah karnaval kacau di mana peran-peran luhur itu tertukar secara menjijikkan dan menyedihkan. Kita memandang para politisi nan syahwat kekuasaannya tak terbendung, para pejabat nan haus pengakuan, alias pengusaha nan tamak, tiba-tiba merasa perlu memburu gelar Profesor, Doktor, alias gelar akademis lainnya secara instan.

Mereka membeli gelar, menyelesaikan studi dengan support "orang dalam", alias memanfaatkan kedudukan untuk mendapatkan penghargaan akademis nan sebenarnya tidak layak mereka dapatkan. Seolah-olah deretan huruf di depan alias di belakang nama bisa menambal lubang besar integritas di dalam dada. Seolah-olah memakai jas almamater bisa menghapus jejak kotor di kembali layar kekuasaan.

Ketika "nafsu"—baik itu nafsu uang, kekuasaan, alias ketenaran—menduduki bangku "rasio", dan "semangat" hanya digunakan untuk mengamankan ego serta memukul mundur musuh politik alias bisnis, maka struktur peradaban kita sebenarnya sedang roboh pelan-pelan namun pasti. Intelektualitas tidak lagi dicari sebagai sinar nan menerangi jalan kebenaran, melainkan hanya sebagai aksesori gaya, pelengkap foto profil, alias perangkat untuk meningkatkan nilai diri di mata orang lain.

Kita sedang menciptakan kaum terpelajar nan tolol secara moral, orang-orang berilmu tinggi nan perilakunya merendahkan martabat manusia. Dan ironinya, tokoh-tokoh inilah nan sering kali menjadi panutan bagi generasi muda

Negara Adalah Guru nan Paling Berisik

Sering kali kita menyalahkan sekolah, menyalahkan guru, alias menyalahkan kurikulum saat mendapati kualitas karakter bangsa ini menurun drastis. Padahal, kesalahan terbesar kita adalah menganggap urusan pendidikan hanya berakhir di pagar sekolah alias pemisah wilayah lembaga pendidikan.

Padahal, pembimbing nan paling dominan, nan suaranya paling keras, dan nan pengajarannya paling melekat di akal sebuah bangsa adalah negara itu sendiri. Negara, melalui perilaku para pemegang otoritas, kebijakan nan dibuat, dan penegakan norma nan dilakukan, adalah metodologi pengajaran nan paling nyata dan efektif di mata seluruh rakyat, termasuk anak-anak.

Ketika negara menampilkan sofisme—seni memutarbalikkan fakta, memanipulasi kata-kata, dan memoles ketidakejujuran demi memenangkan kepentingan sesaat—ia sebenarnya sedang memberikan kuliah umum cuma-cuma dan masif tentang langkah menghancurkan kebenaran.

Setiap kali seorang pemimpin membikin janji manis saat kampanye tapi mengingkarinya saat duduk di bangku panas, setiap kali pejabat korupsi dihukum ringan apalagi bebas berkah "kecerdikan" hukum, alias setiap kali patokan dibuat berbeda untuk orang kaya dan orang miskin, saat itulah satu bab panjang tentang kejujuran, keadilan, dan kepatuhan di kitab sekolah terbakar menjadi abu.

Pendidikan karakter nan digembar-gemborkan menjadi lelucon nan pahit selama wajah kekuasaan kita tetap menampilkan seringai pragmatisme nan korosif. Kita terjebak dalam budaya dangkal nan hanya menghargai apa nan bisa segera diuangkan, apa nan terlihat mewah di permukaan, dan apa nan bisa mendatangkan ketenaran instan.

Sementara itu, pemikiran mendalam, kerja keras nan jujur, dan prinsip nan teguh kita buang ke tong sampah lantaran dianggap tidak "menghasilkan", terlalu lama, alias "kuno". Negara nan semestinya menjadi teladan integritas malah menjadi contoh ketidakberesan nan paling terang-terangan.

Bukan hanya di tingkat pusat, apalagi di daerah-daerah, budaya ini menular. Proyek pembangunan nan asal jadi, jasa publik nan berbelitan selain ada "uang pelicin", hingga perebutan bangku kepemimpinan nan penuh serangan pribadi—semua ini menjadi materi ajar tak tertulis nan dihafal betul oleh generasi muda. Mereka belajar bahwa di negara ini, patokan hanyalah pajangan, dan kekuasaan adalah segalanya.

Dampak Jangka Panjang: Bangsa Tanpa Tulang Punggung

Jika skizofrenia pendidikan ini terus dibiarkan berkepanjangan tanpa ada terapi nan serius, dampaknya bakal sangat fatal bagi masa depan bangsa. Kita bakal melahirkan generasi nan pandai secara akademis tapi abnormal secara moral. Generasi nan pandai berdebat, mahir menggunakan teknologi, dan mempunyai gelar berderet, tapi tidak punya keberanian untuk berbicara "tidak" pada kesalahan dan berbicara "ya" pada kebenaran. Kita bakal mempunyai banyak tenaga kerja nan kompeten, sedikit pemimpin nan berintegritas, dan nyaris tidak mempunyai penduduk negara nan bertanggung jawab.

Akibatnya, korupsi tidak bakal pernah hilang, malah bakal beregenerasi dengan corak nan lebih canggih. Ketidakadilan bakal dianggap sebagai perihal nan lumrah. Lingkungan bakal terus dirusak demi untung sesaat lantaran tidak ada rasa mempunyai nan mendalam. Toleransi bakal menipis lantaran setiap orang sibuk mengurus dirinya sendiri dengan langkah apa pun.

Bangsa ini bakal menjadi bangsa nan besar secara jumlah masyarakat dan kekayaan alam, tapi rentan dari dalam lantaran tidak mempunyai ikatan moral nan kuat. Kita bakal menjadi bangsa nan dahsyat dalam teori, tapi menyedihkan dalam praktik.

Katarsis: Jalan Pulang Menuju Keutuhan

Namun, semua ini bukanlah vonis meninggal nan tidak bisa diubah. Kita telah terlalu lama hidup dalam skizofrenia ini, merajut bayang-bayang di tepi kota sembari berambisi pada keajaiban dari langit nan tiba-tiba turun menyelamatkan kita. Padahal, angan itu sebenarnya tidak sedang menunggu fajar dari luar; dia adalah api mini nan kudu kita nyalakan sendiri, dimulai dari diri sendiri, dengan keberanian untuk berakhir menipu diri sendiri dan berakhir membiarkan ketidakjujuran berlalu begitu saja.

Titik baliknya dimulai ketika kita berani berdiri di hadapan cermin kebenaran Sokrates nan dingin dan telanjang. Di sana, kita bertanya pada diri sendiri: "Apakah diri saya nan di dalam ini sama dengan diri saya nan tampak di luar sana?" Di sana, kita mengakui ketidakkonsistenan kita, kesalahan kita, dan kegagalan kita dalam memberi teladan.

Saat itulah, perpecahan jiwa kolektif ini akhirnya menemui ujungnya. Rasa sakit menjadi orang nan terbelah, rasa capek berpura-pura menjadi orang baik padahal bertindak buruk, perlahan menguap, digantikan oleh kelegaan luar biasa dari sebuah integritas nan mulai dipulihkan.

Yaitu saat di mana keadilan bukan lagi sebuah semboyan politik nan diteriakkan kencang di atas podium dengan latar bendera, melainkan sebuah persetujuan diam-diam namun tegas antara pikiran, keberanian, dan kemauan untuk kembali melangkah beriringan. Ia datang saat orang tua berbicara jujur di depan anaknya, saat pejabat menolak sampulsurat haram meski sunyi saksi, saat pembimbing mengajar dengan hati bukan sekadar menggugurkan kewajiban, dan saat penduduk negara berani mengantre dengan tertib meski tidak ada polisi nan melihat.

Perjalanan panjang menuju kesembuhan ini bukan lagi sebuah elegi tentang kehancuran dan keputusasaan, melainkan sebuah odisei menuju jalan pulang. Menjadi manusia nan utuh, nan apa adanya sesuai aliran nan disampaikan, rupanya jauh lebih membahagiakan dan menenteramkan daripada menjadi pemenang di atas tumpukan kecurangan nan jiwanya terbelah parah.

Di tengah reruntuhan kepura-puraan nan perlahan kita bersihkan sendiri, kita akhirnya kelak bisa bernapas lega dan tersenyum tulus, lantaran pendidikan di negeri ini telah menemukan kembali debar jantungnya nan sejati: menciptakan manusia seutuhnya, bukan hanya sekedar “aktor” serba bisa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan