Siaga Perang AS-Iran Jilid 2 Pecah, Trump-Teheran Beri Sinyal Meletus

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran memperingatkan sinyal perang baru bisa pecah di antara keduanya. Dalam pernyataan Senin, masing-masing negara menyatakan siap bertempur kembali di tengah gencatan senjata nan bakal berhujung besok, 22 April nanti.

Perlu diketahui negosiasi sudah dilakukan sejak dua pekan lampau namun sekarang buntu. Gedung Putih mengatakan Wakil Presiden AS JD Vance siap terbang kembali Islamabad, Pakistan, untuk putaran kedua perundingan, namun Iran menolak mengkonfirmasi partisipasinya dan menuduh AS melanggar gencatan senjata melalui blokade pelabuhan dan penyitaan sebuah kapal Iran.

"Dengan memberlakukan blokade dan melanggar gencatan senjata, Trump mau mengubah meja perundingan ini menjadi meja penyerahan diri alias membenarkan permusuhan nan diperbarui, sesuai keinginannya," kata Ketua Parlemen Iran nan berpengaruh, Mohammad Bagher Ghalibaf, nan memimpin delegasi dalam pembicaraan dua minggu lampau di Pakistan, dikutip AFP, Selasa (21/4/2026).

"Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang," tulisnya di X.

Hal sama juga ditegaskan Garda Revolusi Iran. Militer Teheran itu telah memperingatkan bakal menargetkan kapal apa pun nan mencoba melewati Selat Hormuz tanpa izin.

Sementara itu, Trump juga menuduh Teheran melanggar gencatan senjata. Menurutnya Iran, mengganggu kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur transit untuk seperlima minyak bumi nan nyaris sepenuhnya ditutup Iran sebagai pembalasan atas perang nan dilancarkan oleh AS dan Israel.

Dalam serangkaian unggahan nan penuh kemarahan di platform Truth Social miliknya, Trump bersikeras bahwa blokade tersebut "benar-benar menghancurkan" Iran. Ia mengatakan bahwa blokade itu tidak bakal berhujung "sampai ada 'KESEPAKATAN', di mana Amerika mendesak konsesi Iran mengenai program nuklirnya nan kontroversial.

Trump juga menuturkan kepada PBS News bahwa Iran "seharusnya hadir" dalam pembicaraan di Pakistan. Ia memperingatkan bahwa jika gencatan senjata berhujung "maka banyak peledak bakal mulai meledak" di Iran.

Tak sampai di situ, secara terpisah, Trump juga mengatakan warning lain ke Iran dalam wawancara kepada Bloomberg News. Menurutnya "sangat tidak mungkin" dia bakal memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu tersebut.

Berdasarkan waktu mulainya, gencatan senjata secara teoritis berhujung Selasa malam, waktu Teheran. Meskipun demikian, dalam komentarnya kepada Bloomberg, Trump mengatakan berakhirnya gencatan senjata adalah sehari kemudian, pada Rabu malam waktu Washington.

Harga minyak melonjak tajam pada hari Senin, di mana minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate keduanya naik nyaris 6%, masing-masing menjadi US$94 dan US$86 per barel. Kekhawatiran permusuhan dapat bersambung dalam perang nan telah berjalan selama berminggu-minggu, setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz setelah pembukaan kembali singkat pada akhir pekan, kembali muncul.

Sementara itu di Iran, penduduk mulai mengeluh akibat perang. Apalagi ini terjadi di tengah ekonomi nan sulit.

"Satu-satunya perihal nan ditunjukkan oleh 50 hari perang adalah bahwa tidak ada nan peduli dengan rakyat Iran," kata penduduk Teheran, seorang master berumur 30 tahun dengan syarat anonim.

Trump sendiri sekarang mengalami penurunan drastis popularitas di AS, di mana langkah perangnya mendapat penentangan luas dan membuatnya di bawah tekanan. Merujuk NBC News Decision Desk, secara keseluruhan, hanya 37% orang dewasa AS menyetujui keahlian Trump sebagai presiden sementara 63% tidak menyetujuinya, termasuk 50% nan mengatakan mereka sangat tidak menyetujuinya.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News