Tanggal 21 April selalu punya suasana nan sama. Rapi. Seragam. Penuh warna. Dan—anehnya—dangkal. Nama Raden Ajeng Kartini kembali disebut. Seperti nama jalan: sering dilewati, jarang dipahami.
Kebaya dipakai. Sanggul dipasang. Lalu foto. Selfi. Lalu unggah. Lalu selesai. Padahal Kartini tidak memperjuangkan kebaya. Ia melawan gelap—yang jauh lebih tebal dari sekadar kain. Kartini tidak memperjuangkan seremoni. Ia melawan langkah berpikir nan membatasi.
Setiap tahun, kita merayakan hari Kartini dengan langkah nan sama: simbol, seremoni, dan minim refleksi. Kita hafal kebayanya, tapi lupa pikirannya. Kita ingat tanggalnya, tapi mengabaikan pesannya. Kita lebih nyaman meniru penampilannya daripada melanjutkan perjuangannya.
Kartini dulu menulis dari ruang sempit, dari bumi nan membatasi geraknya. Ia tidak punya panggung, tidak punya mikrofon, tidak punya algoritma. Tapi dia punya sesuatu nan sekarang terasa langka: kegelisahan nan jujur, dan keberanian untuk melawan. Sekarang? Kita punya segalanya—kecuali keberanian itu.
Yang menarik, dulu pembatas itu sering dibungkus adat. Sekarang—kadang—dibungkus agama. Bukan agamanya nan salah. Tapi tafsirnya nan sering dipersempit. Masalahnya bukan pada agamanya. Tapi pada siapa nan memegang tafsirnya.
Dalam Islam, wanita tidak pernah dilarang berpikir, belajar, alias berperan. Nabi Muhammad justru membuka ruang itu. Perempuan seperti Aisyah binti Abu Bakar menjadi rujukan ilmu. Ada juga Khadijah binti Khuwailid—pengusaha sukses, penopang dakwah. Dan Fatimah binti Muhammad—simbol keteguhan dan kecerdasan. Artinya: terang itu sudah ada sejak awal. Tapi entah kenapa, di tangan kita, dia berubah jadi redup.
Masih ada nan bilang: wanita tak perlu sekolah tinggi, kelak mereka susah diatur. Masih ada nan cemas wanita terlalu mandiri. Masih ada nan lebih sibuk “mengatur” daripada “memberdayakan”. Semua terasa sah—karena dibungkus dalil. Padahal sering kali, itu lebih dekat ke budaya lama nan enggan mati.
Kita bilang Islam memuliakan perempuan. Itu benar. Tapi kemuliaan itu tidak bakal terasa jika aksesnya tetap ditutup, jika pikirannya tetap dibatasi, jika suaranya tetap dianggap ancaman.
Kartini dulu melawan gelap nan nyata. Hari ini, kita menghadapi gelap nan lebih halus: langkah berpikir nan merasa sudah terang, padahal belum. Lebih berbahaya. Karena tidak terasa.
Selamat Hari Kartini. Kita tetap menunggu terang itu betul-betul datang.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·