Senjakala Hegemoni: Membaca Retaknya Tatanan Barat dari Kacamata Fukuyam

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Ilustrasi perubahan bumi global. Sumber foto: Dok. Istimewa.

Kita mungkin sedang hidup di salah satu fase paling menentukan dalam sejarah dunia modern. Bukan sekadar perubahan biasa, melainkan sebuah pergeseran besar, semacam “otopsi sejarah” nan berjalan secara real-time. Jika dulu bumi terasa stabil di bawah kekuasaan Amerika Serikat, sekarang tanda-tanda keretakan itu semakin nyata.

Pemikir politik Francis Fukuyama, nan pernah terkenal dengan tesis The End of History, sekarang justru menyampaikan nada nan jauh lebih reflektif. Ia tidak lagi berbincang tentang kemenangan final kerakyatan liberal, tetapi tentang sesuatu nan lebih mengkhawatirkan, ialah penurunan jangka panjang pengaruh Amerika Serikat dan retaknya tatanan dunia nan selama ini dianggap mapan.

Retaknya Fondasi Barat: Identitas, Demokrasi, dan Krisis Internal

Salah satu indikasi paling mencolok dari perubahan ini justru datang dari dalam tubuh Barat sendiri. Amerika Serikat, nan selama ini menjadi simbol stabilitas dan demokrasi, sekarang menghadapi perpecahan mendasar tentang identitasnya. Di satu sisi, muncul dorongan untuk mendefinisikan Barat melalui identitas keagamaan, khususnya Kristen. Di sisi lain, nilai-nilai liberal seperti pluralisme, toleransi, dan kerasionalan tetap dipertahankan sebagai fondasi utama.

Bagi Fukuyama, pergeseran menuju identitas eksklusif berbasis kepercayaan bukan hanya persoalan politik, tetapi juga kemunduran historis. Barat modern lahir dari kompromi panjang pasca bentrok keagamaan nan melelahkan, nan kemudian melahirkan prinsip bahwa negara tidak boleh memaksakan kepercayaan tertentu. Ketika prinsip ini mulai digoyang, nan terancam bukan hanya stabilitas politik, tetapi juga kohesi sosial.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika kerakyatan tidak lagi melangkah seiring dengan liberalisme. Dalam praktiknya, tidak sedikit pemimpin nan terpilih secara demokratis, tetapi kemudian melemahkan hukum, menyerang media, dan membatasi kebebasan sipil. Demokrasi nan semestinya menjadi perangkat representasi rakyat justru berubah menjadi legitimasi bagi konsentrasi kekuasaan.

Fenomena ini menunjukkan satu perihal penting. Demokrasi tanpa pembatasan norma bisa berubah menjadi tirani mayoritas. Ketika bunyi rakyat dijadikan satu-satunya legitimasi tanpa kontrol institusional, maka ruang bagi kebebasan perseorangan dan golongan minoritas semakin menyempit. Inilah nan oleh Fukuyama dilihat sebagai ancaman nyata dari dalam, bukan sekadar penyimpangan, tetapi potensi keruntuhan nilai-nilai liberal itu sendiri.

Nuklir, Multipolaritas, dan Akhir Universalisme

Di saat nan sama, perubahan besar juga terjadi pada lanskap global. Dunia tidak lagi berada dalam satu kutub kekuasaan. Kepercayaan terhadap kekuasaan Amerika mulai goyah, terutama dalam perihal keamanan. Kepemilikan senjata nuklir sekarang dipandang sebagai agunan memperkuat hidup, bukan sekadar ancaman.

Negara seperti Korea Utara menunjukkan gimana nuklir berfaedah sebagai perangkat penangkal. Sebaliknya, pengalaman Ukraina memperlihatkan akibat besar ketika sebuah negara tidak mempunyai perlindungan strategis nan memadai. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar, apakah Amerika tetap bisa alias apalagi mau menjadi pelindung utama sekutunya.

Ketika kepercayaan terhadap perlindungan Amerika melemah, negara-negara lain mulai menata ulang strategi mereka. Jepang, Jerman, hingga negara-negara di Timur Tengah tidak lagi sepenuhnya berjuntai pada Washington. Mereka membangun kekuatan sendiri, menjalin kerja sama baru, dan memperkuat posisi regionalnya.

Inilah nan menandai lahirnya bumi multipolar, sebuah bumi di mana kekuasaan tidak lagi terpusat dan hubungan antarnegara menjadi lebih pragmatis. Negara seperti Indonesia pun mempunyai ruang nan lebih luas untuk menentukan arah kebijakannya sendiri. Namun perubahan ini juga membawa akibat serius.

Diplomasi dunia menjadi semakin transaksional dan condong pendek pandang. Pendekatan berbasis lembaga internasional mulai tergeser oleh kepentingan jangka pendek. Dalam kondisi seperti ini, kesalahan mini bisa berujung pada bentrok besar nan susah dikendalikan.

Lebih jauh lagi, kita menyaksikan pergeseran pemikiran nan cukup mendasar. Gagasan bahwa nilai-nilai Barat berkarakter universal mulai ditinggalkan. Dunia bergerak ke arah nan lebih plural, di mana setiap negara merasa berkuasa menentukan sistem dan nilai nan dianutnya tanpa kudu mengikuti standar tertentu.

Jika Amerika sendiri mulai menjauh dari peran moralnya, maka tatanan bumi nan selama ini berbasis patokan juga ikut melemah. nan tersisa adalah bumi nan lebih cair, tetapi juga lebih rentan terhadap konflik.

Apa nan digambarkan Fukuyama pada akhirnya adalah sebuah masa transisi. Dunia bergerak dari tatanan nan relatif stabil menuju kondisi nan lebih kompleks dan tidak pasti. Dalam situasi seperti ini, akibat terbesar adalah kembalinya logika lama, di mana kekuatan menjadi penentu utama. Namun di sisi lain, perubahan ini juga membuka kesempatan bagi negara lain untuk mengambil peran nan lebih besar.

Bagi Indonesia, ini adalah momentum penting. Bukan untuk sekadar menjadi penonton, tetapi untuk ikut menentukan arah perubahan. Tentu saja, perihal itu hanya mungkin jika kita bisa membaca situasi dunia dengan bening dan meresponsnya secara bijak.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mendalam. Ketika hegemoni memudar, apakah bumi bakal menjadi lebih adil, alias justru semakin keras? Jawabannya tidak hanya ditentukan oleh negara besar, tetapi juga oleh gimana kita semua, termasuk Indonesia, memposisikan diri di tengah perubahan era ini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan