Ketika nilai bahan bakar naik di Indonesia, dampaknya tidak pernah berakhir di pompa bensin. Dampaknya menyebar, diam-diam tetapi cepat, melalui rantai pasokan, lantai pabrik, aplikasi pengiriman, dan meja dapur. Lonjakan biaya daya baru-baru ini sekali lagi menunjukkan sungguh dalamnya bahan bakar fosil terjalin dalam struktur ekonomi Indonesia.
Domino pertama nan jatuh seringkali adalah industri plastik. Petrokimia nan merupakan bahan baku untuk plastik, secara langsung berasal dari minyak dan gas. Ketika nilai gas melonjak, biaya produksi untuk bungkusan plastik, wadah, dan komponen industri meningkat nyaris seketika. Bagi produsen plastik, biaya input nan lebih tinggi secara langsung diterjemahkan menjadi peralatan nan lebih mahal di rak toko, mulai dari air minum bungkusan hingga bungkusan makanan.
Sektor Transportasi Tertekan
Kemudian, dampaknya terasa hingga ke sektor transportasi. Kenaikan biaya daya dengan sigap meluas ke biaya transportasi dan pengeluaran rumah tangga, menurut lembaga think tank daya bersih Transisi Bersih. Hal ini paling terlihat di sektor jasa transportasi daring. Kenaikan nilai bahan bakar sebesar 30 persen mendorong ratusan pengemudi Gojek dan Grab untuk melakukan protes di seluruh Indonesia, lantaran pendapatan bersih mereka terkikis drastis.
Jika sebelumnya biaya pengisian bahan bakar hanya Rp 20.000, sekarang bisa mencapai Rp 35.000, dan pengemudi terkadang mengisi bahan bakar dua kali per shift, sehingga margin untung sangat tipis. Penyesuaian tarif dari platform nyaris tidak mengimbangi kenaikan harga, hanya berupa kenaikan mini per kilometer.
Sektor penerbangan pun tidak luput dari dampaknya. Lonjakan nilai bahan bakar jet domestik sekitar 70%, nan dipicu oleh penutupan Selat Hormuz sehingga mendorong pemerintah untuk meningkatkan pemisah biaya tambahan bahan bakar dari 10% menjadi 38% untuk penerbangan domestik, dengan Garuda Indonesia meningkatkan nilai tiket hingga 13% sebagai akibatnya.
Reaksi Berantai Lintas Sektor
Dampak berantai tidak berakhir di situ. Biaya logistik nan lebih tinggi mendorong kenaikan nilai makanan, obat-obatan, dan peralatan manufaktur. Rancangan anggaran negara Indonesia tahun 2026 telah mengalokasikan $12,4 miliar untuk subsidi energi, naik dari $10,9 miliar pada tahun sebelumnya lantaran pemerintah berupaya melindungi konsumen dari akibat penuhnya. Namun, ketergantungan struktural Indonesia pada bahan bakar fosil di sektor transportasi, logistik, dan industri berfaedah setiap guncangan nilai terasa lebih dalam daripada nan sebelumnya.
Efek domino dari kenaikan nilai gas bukan hanya ketidaknyamanan ekonomi, tetapi juga ujian berat bagi seluruh arsitektur ekonomi Indonesia. Sampai negara ini melakukan diversifikasi pedoman energinya, setiap guncangan minyak dunia bakal terus menyulut api nan sama dalam jangka waktu nan lama.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·