Rupiah Tembus Rp 17.300 per Dolar AS, Tertekan Konflik Global-Beban Impor Energi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Seorang petugas menunjukan pecahan Dolar AS dan Rupiah di salah satu tempat penukaran mata duit asing di Kwitang, Jakarta, Senin (9/12/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Nilai tukar rupiah kembali melemah signifikan pada perdagangan Kamis (23/4). Berdasarkan info Bloomberg, rupiah tercatat turun 119 poin alias 0,69 persen ke level Rp 17.300 per dolar AS pada pukul 11.06 WIB.

Tekanan terhadap rupiah dinilai berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik nan kian memburuk, terutama mengenai ketegangan geopolitik dan lonjakan nilai daya global.

Pengamat pasar duit Ibrahim Assuabi menyebut pelemahan rupiah saat ini apalagi sudah melampaui ekspektasi awal. Ia menilai level Rp 17.300 nan sebelumnya diperkirakan baru bakal tercapai, sekarang sudah terealisasi lebih cepat.

“Rupiah melemah sepanjang masa. Hari ini rupiah tembus di atas Rp 17.300. Artinya ekspektasi Rp 17.300 sudah kena di hari Kamis dan kemungkinan besar di akhir April ialah minggu depan kemungkinan bakal tembus level Rp 17.400, Rp 17.400 sebenarnya awalnya itu adalah ekspektasi tahun 2026, tetapi kenyataannya di bulan April kemungkinan besar bakal tercapai di Rp 17.400,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Kamis (24/4).

Dari sisi eksternal, memanasnya bentrok di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, terutama mengenai jalur strategis Selat Hormuz, meningkatkan ketidakpastian pasar dan mendorong penguatan dolar AS.

instagram embed

Ibrahim menjelaskan bahwa bentrok tersebut berpotensi berkepanjangan dan memicu gangguan pengedaran daya global. Kondisi ini turut berakibat pada lonjakan nilai minyak mentah bumi nan sekarang sudah melampaui dugaan APBN.

Selain itu, kenaikan nilai minyak bumi memperburuk tekanan terhadap ekonomi domestik. Indonesia nan tetap berjuntai pada impor daya kudu menghadapi lonjakan biaya nan signifikan, sehingga berpotensi memperlebar defisit anggaran.

Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari kebijakan fiskal. Pemerintah dinilai menghadapi beban subsidi daya nan meningkat, terutama lantaran nilai BBM subsidi tidak ikut dinaikkan di tengah lonjakan nilai minyak global.

Kondisi ini membikin ruang fiskal semakin sempit, sementara kebutuhan pembiayaan meningkat. Di sisi lain, posisi utang pemerintah nan mendekati jatuh tempo juga turut menambah tekanan terhadap stabilitas rupiah.

Ibrahim menambahkan, lonjakan nilai minyak nan sudah berada di atas pemisah dugaan APBN menjadi aspek krusial nan mempercepat pelemahan rupiah. Di APBN 2026, nilai minyak dipatok sebesar 70 dolar AS per barel dengan pemisah maksimal 92 dolar AS, sementara saat ini nilai sudah melampaui level tersebut.

Kombinasi aspek eksternal dan internal ini membikin rupiah berpotensi terus tertekan dalam jangka pendek. Jika tidak ada perbaikan signifikan, nilai tukar diperkirakan tetap bakal bergerak menuju level Rp 17.400 dalam waktu dekat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan