Kemenkes menetapkan RSD dr Soebandi Jember menyandang status sebagai rumah sakit pendidikan penyelenggara utama (RSPPU).
Sehingga, rumah sakit wilayah milik Pemerintah Kabupaten Jember itu menjadi bagian dari pelaksana program pendidikan dokter ahli (PPDS).
Bupati Jember Muhammad Fawait mengungkapkan perihal itu kala menggelar konvensi pers di pelataran RSD dr Soebandi pada Kamis (23/4) malam.
"Alhamdulillah, RSD dr Soebandi ditunjuk oleh Kemenkes, ada surat keputusannya nan menyatakan rumah sakit ini dinilai nantinya bisa mencetak alias meluluskan master spesialis," ungkap laki-laki nan berkawan disapa Gus Fawait itu.
Menurut dia, RSD dr Soebandi telah ikut serta menjalani seleksi pendidikan master ahli berbasis rumah sakit (hospital based) nan digelar Kemenkes.
Persaingan berjalan sangat ketat lantaran terdapat 208 RS se-Indonesia nan ikut dalam seleksi tersebut. Tapi, hasil akhirnya menggembirakan.
RSD dr Soebandi, lanjut Gus Fawait, sukses menempati urutan ke-5 dari 13 RS nan dinyatakan lulus seleksi.
"Di Jawa Timur hanya ada dua RS nan lulus, ialah RS dr Soetomo dan RS kebanggaan kita bersama, ialah RSD dr Soebandi," jelas Gus Fawait.
Ia menyatakan, sudah memberi perintah bagi manajemen RSD dr Soebandi untuk segera mempersiapkan segala perangkat dan sumber daya personil nan wajib disediakan untuk menjalankan program tersebut.
"RSD dr Soebandi sendiri saat ini dilengkapi dengan tenaga ahli sebanyak 160 master nan di dalamnya ada 66 master spesialis, dan 31 sub spesialis," paparnya.
Gus Fawait berambisi RSD dr Soebandi nan saat ini berada di level Tipe B Pendidikan kelak naik ke tingkat Tipe A Pendidikan. Target prestisius mau dicapai pada tahun 2029 mendatang.
Bila naik level, maka RSD Soebandi bakal masuk jejeran RS rujukan tertinggi di Indonesia nan menjalankan peran sebagai pusat jasa ahli lengkap, tempat penelitian, dan pendidikan bagi tenaga kesehatan.
Gus Fawait juga memandang kemunculan tanda-tanda perkembangan nan terjadi di dua RS milik Pemkab Jember lainnya. Terindikasi dari kian membaiknya pelayanan dan tata kelola keuangan.
"RSD Kalisat dan RSD Balung saat ini datanya juga semakin membaik. Menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) nan sehat berbentuk pelayanan nan baik bisa menyejahterakan para tenaga kesehatannya," ulasnya.
Plt Direktur Utama RSD dr Soebandi Nyoman Semita menyampaikan dalam rencana nan dicanangkan pihaknya bakal tersedia empat program studi master spesialis.
"Empat prodi rencananya. Ada ortopedi, kardiologi, pediatri, dan neurosurgeon," papar mahir ortopedi itu.
Dimulainya penyelenggaraan menunggu petunjuk teknis dari Kemenkes. Kendati diperkirakan program hospital based mulai melangkah pada September mendatang.
Nyoman menambahkan, RSD dr Soebandi melakukan persiapan untuk kelak menyambut penerimaan peserta didik calon master spesialis. Mengingat, rekrutmen calon berasas sistem pendidikan nasional dan standar mutu kesehatan internasional.
"Supaya kita siap semua agar anak didik tidak sampai rebutan pasien, kita wajib menjaga kesehatan pasien, dan juga kita kudu menyediakan bayaran bagi peserta didik. Istilahnya mereka kelak disini untuk belajar sembari bekerja," tuturnya.
Lama pendidikan sekitar 4,5 tahun alias 9 semester. Selama masa studi, setiap calon master ahli nan menempuh pendidikan di RSD dr Soebandi mendapat bayaran sekitar Rp 700 ribu-Rp 2 juta per bulan.
Rancang bangun program hospital based nan menggunakan rumah sakit sebagai tempat studi merupakan model pelengkap bagi skema pendidikan master nan selama ini hanya berbasis kampus.
Tujuan hospital based untuk mempercepat pemenuhan atas kondisi kurangnya tenaga master ahli di Tanah Air. Kemenkes melansir, Indonesia kekurangan sekitar 92 ribu master umum, 129 ribu master gigi, dan 51 ribu master spesialis.
Lulusan hospital based nantinya bakal disebar ke daerah-daerah, khususnya wilayah daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Sehingga, terjadi pemerataan kesiapan tenaga kesehatan secara adil.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·