Kepulangan bagiku adalah sebuah prosesi membasuh diri dari debu-debu panjang perantauan. Ia bukan sekadar perpindahan raga, melainkan juga sebuah perjalanan arkeologis seperti menggali kembali lapisan-lapisan diri nan sempat tertimbun oleh hiruk-pikuk kota, ambisi, dan identitas-identitas baru nan kita pungut di tanah rantauan.
Dari Tanah Yogyakarta
Perjalanan pulang ini bermulai dari tanah Mataram, Yogyakarta, sebuah tempat nan bagiku adalah rahim kedua. Di tanah inilah saya mulai belajar tentang gimana hidup selaras, tentang seni memperkuat hidup, dan gimana menyembunyikan angin besar di kembali senyum nan paling tenang. Di sini saya belajar bahwa hidup tidak selalu kudu tentang menaklukkan, tetapi tentang menyelaraskan.
Namun, di kembali kenyamanan ritme tabuhan gamelan nan menghanyutkan, ada bagian dari jiwaku nan merasa "terlalu halus". Ada kerinduan pada sesuatu nan lebih jujur, lebih "kasar", dan lebih asin.
Setiap kali saya duduk di perspektif angkringan, menatap aspal Kaliurang nan basah oleh hujan, dan menyadari bahwa meski saya telah berpuluh tahun di tanah Jawa, lidahku tetap merindukan asinnya air laut, bunyi ombak di bibir pantai, serta sungai nan menjadi tempat favorit menghabiskan waktu di sore hari.
Yogyakarta telah memberiku pelajaran tentang kearifan, tetapi dia tidak memberiku akar. Ia adalah pelabuhan singgah nan terlalu nyaman, hingga terkadang membuatku lupa bahwa saya punya samudera nan kudu diseberangi.
Menjejak Tanah Bugis
Tepat pada senin, 18 Maret 2026, saya meninggalkan Mataram menuju Tanah Bugis. Begitu menginjakkan kaki di Makassar, udara nan bergetar oleh deru knalpot dan sapaan nan lugas seolah-olah menampar wajahku. "Bangun!" bisik angin Makassar. Di sini, saya melepaskan jubah "kelembutan" Jawa nan selama ini kukenakan untuk memperkuat hidup di perantauan.
Bagiku, Tanah Bugis adalah cermin maskulinitas. Di sini, saya diingatkan kembali pada konsep Siri’ na Pacce, tentang nilai diri nan kudu dijaga dan empati nan kudu dipegang teguh—bahwa merantau bagi orang Sulawesi bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah pembuktian.
Di tanah ini, jiwaku nan sempat "terlalu tenang" di Tanah Jawa mulai mendidih kembali. Aku menjemput keberanian nan sempat tercecer di sela-sela kitab kuliah, berkas-berkas pekerjaan, dan diskusi-diskusi hingga larut malam di rantauan. Tanah Bugis adalah jembatan identitas, dia adalah titik transisi di mana saya mulai kembali menjadi anak pesisir sekaligus anak pedalaman. Sebab di tanah Sulawesi, laut selalu berjumpa dengan pegunungan.
Tanah Mandar, Kembali ke Diri
Selasa, 19 Maret 2026. Perjalanan ini baru betul-betul menemukan maknanya saat kendaraan mulai memasuki gerbang Tanah Mandar, tepatnya di Sulawesi Barat. Perjalanan darat 5—6 Jam dari Kota Makassar. Ada sebuah getaran gelombang nan hanya bisa ditangkap oleh mereka nan darahnya berasal dari tanah ini. Melihat pohon-pohon kelapa nan melambai-lambai di pinggir jalan, melintasi dua perbukitan karang nan ikonik di Rewata'a dengan jalanan nan berliku, membikin perjalananku ini seperti sebuah kitab nan akhirnya menemukan sampulnya kembali.
Kini, roda perjalananku berakhir di Majene. Inilah tanah kelahiran, titik nol, dan muara dari segala keresahan. Di sini, waktu tidak melangkah melingkar seperti di Jawa, alias memburu seperti di tanah-tanah persinggahan nan sibuk. Waktu seperti mengalir tenang selayaknya sungai nan tahu persis ke mana dia bakal bermuara.
Saat saya menghirup aroma aroma peapi (ikan kuah kuning unik sulawesi), serta aroma ikan asin nan unik menyeruak dari dapur-dapur rumah panggung, seluruh memori masa kecilku bangkit serentak. Bau asap dan rempah ikan itu seolah membasuh kerinduan selama di perantauan.
Di kejauhan, saya terkenang para petani nan berangkat pagi mengunjungi kebun-kebun cengkeh, kakao, dan kopi. Aku terkenang gambaran kuda-kuda komplit dengan pelananya, menjadi saksi bisu perjuangan menjemput hasil bumi. Di lautnya, saya menatap Sandeq (perahu unik nelayan mandar) nan melesat di cakrawala, sebuah filosofi hidup masyarakat Mandar nan paling murni dan tangguh—ramping menembus badai, tetapi tetap setia pada arah mata angin.
Di Mandar, saya tidak lagi perlu menjelaskan siapa diriku. Aku hanyalah seorang anak nan kembali dari perjalanan jauh. Dengan tatapan nan teduh, mereka justru bertanya,
"Masih ingatkah kau pada caramu tertawa sebelum bumi mengubahmu?"
Pertanyaan itu adalah tamparan sekaligus pelukan. Ia menyadarkanku bahwa merantau sebenarnya adalah proses "ke luar" untuk menemukan apa nan ada "di dalam". Ia adalah perjalanan menjauhi rumah untuk menyadari bahwa rumah tidak pernah betul-betul kita tinggalkan. Ia terbawa dalam langkah kita berpikir, merasa, dan langkah kita memandang dunia.
Kepulangan ini bukanlah sebuah kekalahan. Ia bukan tanda bahwa saya berakhir berjuang alias menyerah pada kerasnya bumi luar. Justru, ini adalah sebuah pengisian ulang baterai jiwa. Aku pulang untuk membasuh wajah dari topeng-topeng nan terkadang kudu kita pakai demi memperkuat hidup.
Aku pulang untuk diingatkan bahwa sekuat apa pun kita menerjang angin besar di perantauan, ada sebuah dermaga nan selalu menunggu dengan lampu mercusuar nan tetap menyala. Yogyakarta memberiku kebijakan untuk memandang perbedaan, tetapi Mandar nan memberiku ketenangan untuk menjadi diri sendiri. Tak ada nan lebih berarti dalam pencarian selain kembali ke rumah, menengok kembali diri, dan menyadari bahwa sejauh apa pun kapal Sandeq melaut, dia selalu tahu jalan untuk pulang.
Kini, saat saya duduk di pesisir pantai Mandar, menatap mentari nan perlahan tenggelam di kembali cakrawala, saya merasa utuh. Di tanah kelahiran ini, saya belajar bahwa sejauh apa pun kapal melaju, dia selalu butuh pelabuhan untuk bersandar—tidak untuk menetap, tetapi untuk memastikan bahwa dia tetap punya argumen untuk kembali berlayar besok hari.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·