Sementara itu, Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan bakal menelusuri rumah produksi makanan nan mengolah produknya dari ikan sapu-sapu.
Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Selatan, Ridho Sosro mengatakan, langkah tersebut perlu diambil menyusul banyaknya populasi ikan sapu-sapu.
"Setiap bulan kami sebenarnya melakukan pengawasan pangan terpadu. Ke depan, pengawasan itu juga bakal kami arahkan untuk menelusuri kemungkinan penggunaan ikan sapu-sapu, termasuk hingga ke rumah-rumah produksi siomay," kata Ridho dalam keterangan resmi, Senin (20/4/2026).
Ridho menjelaskan, Sidak dilakukan sebagai langkah antisipatif atas kekhawatiran penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan nan berpotensi membahayakan kesehatan.
Menurutnya, ikan sapu-sapu dikenal sebagai jenis ikan nan bisa mengonsumsi beragam material di perairan. Sehingga, berisiko mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal.
"Dampak logam berat seperti merkuri dan timbal tidak langsung terasa. Namun, dalam jangka panjang dapat memicu beragam penyakit, termasuk kanker," terangnya.
Meskipun sosialisasi telah dilakukan, tetap ada kemungkinan oknum tidak bertanggung jawab nan memanfaatkan ikan sapu-sapu untuk diperjualbelikan sebagai bahan pangan.
"Kami bakal terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar memahami ancaman mengonsumsi ikan nan terpapar ini," ungkapnya.
Ia membujuk masyarakat untuk turut berkedudukan aktif dalam pengawasan. Jika menemukan indikasi peredaran daging ikan sapu-sapu untuk konsumsi, penduduk diminta segera melaporkannya kepada pemerintah setempat agar dapat sigap ditindaklanjuti.
"Harapan kami, dengan pengawasan pangan nan ketat di Jakarta, kesehatan masyarakat dapat semakin terjamin dan populasi ikan sapu-sapu di Jakarta Selatan dapat dikendalikan," tandasnya.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·